Di Antara Dua Hati

Di Antara Dua Hati
BAB 111. INSTING SEORANG ISTRI


__ADS_3

"Ada apa denganmu?" Tanya Dara berpaling menatap Windu dengan sigap, matanya berbinar cemas.


Windu tak menjawab, tetapi wajahnya menunjukkan rasa mual yang di tahan dan dia tidak sedang baik-baik saja.


"Aku akan panggilkan dokter Niko!"


Dara melompat meraih handphonenya, sementara Windu kemudian dengan terburu-buru menyingkirkan baki sarapannya dan pergi ke kamar mandi. Dia muntah di sana.


Setelah menelpon dokter pribadi keluarga mereka, Dara memijat leher Windu, membaringkannya di tempat tidur kembali.


"Sejam lagi dokter akan datang."


"Seharusnya kamu tidak perlu memanggil dokter, aku alergi dengan dokter." Windu merengut seperti seorang anak kecil.


"Beberapa hari ini, aku menahan diri untuk tidak memanggil dokter, melihat keadaanmu yang tidak sedang baik-baik saja. Tapi sekarang, aku tidak akan mendengarmu lagi." Dara menggelengkan kepalanya.


"Aku hanya sedang lelah"


"Kelelahan yang berlebihan juga bisa mendatangkan penyakit. Selama aku menikah denganmu, tak pernah sekalipun kamu pergi ke dokter untuk chek up kesehatan kecuali datang ke dokter gigi. Saat kamu seperti ini, aku tidak akan mentolerirmu lagi." Dara melotot pada Windu yang sekarang tampak tak berdaya di bawah tatapan istrinya yang mendadak begitu galak.


"Dokter Niko akan tiba segera, jadi kamu tetap di tempat tidur sampai beliau tiba. Tidak ada alasan lagi! aku akan menghangatkan bubur yang baru, sekaligus membawakanmu minuman hangat. Jangan kemana-mana! Atau aku akan mengikatmu di tempat tidur." Dara benar-benar serius dengan mimiknya sebelum dia keluar kamar. Kalau Dara sudah memasang wajah seperti itu maka Windu tak bisa berbuat apa-apa kecuali menurutinya. Dara jarang begitu serius padanya.


Lima belas menit kemudian, Dara membawa bubur hangat yang baru tetapi kali ini Dokter Niko bersamanya.

__ADS_1


Dokter setengah baya itu, kediamannya memang tidak jauh dari rumah keluarga Danuar, masih dalam lingkungan yang sama, pada pemukiman elite di situ.


"Ada apa nak Win? Rasanya kalau aku ke sini, yang harus aku periksa papamu. Aku agak heran saat Dara menelpon tadi. Tak biasanya..."


Dokter Niko segera menyuruh asistennya, seorang perawat untuk mengeluarkan peralatan yang diperlukan untuk memeriksa Windu.


Setelah beberapa saat, dokter Niko tampak berbicara intens dengan Windu seputar keluhan dan gejala yang muncul pada Windu belakangan ini.


Salah satu keluhan yang tampaknya menarik perhatian dokter Niko adalah, Akhir-akhir ini, Windu sangat terganggu dalam urusan buang air kecil. Hal ini ternyata sudah mulai dirasakan oleh Windu setelah Dara bersalin.


Apalagi setelah dia merasa lelah dan kurang tidur, banyak reaksi yang tidak nyaman pada tubuhnya termasuk pusing, mual dan nyeri pada bagian pinggang.


"Sayang...selama ini kamu sakit dan kamu diam saja?" Dara tampak benar-benar terkejut mendengar keterangan dari suaminya itu pada Dokter Niko.


"Semoga saja tidak apa-apa, mungkin memang hanya karena lelah dan sedikit stres saja. Atau mymungkin karena euforia berlebihan dari kelahiran sang anak yang begitu di nanti-nantikan." Dokter Niko nampal menuliskan beberapa resep.


"Aku akan memberikan beberapa obat hanya untuk mengurangi keluhan mual dan sakit kepala, tetapi ada beberapa resep yang memang harus di cari di apotik sepertinya." Dokter Niko memberikan selembar jertas yang telah di coretnya dengan beberapa baris tulisan pada Dara.


"Win, aku sarankan...kamu melakukan pemeriksaan lebih lanjut."


"Apakah penyakitnya serius?" Dara nampak cemas.


"Aku harap tidak, tapi tindakan ini ku rasa perlu untuk memastikannya saja dan kita akan tahu obat apa yang tepat untuk Windu." Sekelebat raut aneh, lewat di wajah dokter yang juga sahabat papa Windu itu.

__ADS_1


Dara dan Windu berpandangan sesaat, tetapi dokter Niko segera tersenyum menanggapi wajah bingung Windu dan raut cemas Dara.


"Papamu ada?" Tanya Dokter Niko tiba-tiba pada Windu.


"Papa Sudah berangkat ke kantor, hari ini ada beliau ada janji apertemuan dengan salah satu koleganya." Dara menjawab segera, dia tahu hal itu karena membantu menyiapkan sarapan untuk sang mertua.


"Ada apa dokter? Apakah berkaitan dengan...."


"Oh, tidak...aku hanya lama tak berbincang-bincang dengannya." Dokter Niko menyela sambil tertawa kecil seakan menenangkan Dara yang tampak masih cemas.


"Minum saja obat yang telah ku verikan, segera. Satu sebelum makan dan dua yang lain sesudahnya. Jika masih tidak terlalu membaik, segera hubungi saya, ya.


Dalam satu hari ini, perkembangan Windu ku pantau. Nanti malam, akan kuhubungi lagi." Dokter Niko pamit, sedikit terburu-buru.


Meninggalkan Dara yang tiba-tiba merasa gugup, instingnya sebagai istri mengatakan, ada hal yang tidak baik-baik saja.



...Dukungan dan VOTEnya author tunggu😅...


...Jangan lupa KOMEN dan LIKE di bawah, please...please...❤️...


...Biar author tambah rajin UP...

__ADS_1


__ADS_2