Di Antara Dua Hati

Di Antara Dua Hati
BAB 27


__ADS_3

"Jangan bawa bawa mas Pras, dia orang suci, tidak bejat sepertimu." Sofia membela Pras.


"Tentu saja dia membelamu, karna dia mau lepas tangan dan mencari kambing hitam dan korbanya adalah aku," kata Hendra dengan geram.


"Jangan merembet kemana mana pak Hendra, akui dan bertanggung jawablah. Masih ada kesempatan," kata Pras masih berusaha tenang.


"Aku hanya ingin kau nikahi aku sampai bayi ini lahir, setelah itu kita berpisah.


Aku hanya tidak mau anakku lahir tanpa ayah." suara Sofia lirih bergetar.


"Aku tetap tidak percaya benih yang kau kandung itu hanyalah milikku." Hendra tetap menolak dengann alasan yang sama. Yaitu tidak yakin dengan benih yang di kandung Sofia hanya miliknya sendiri.


"Beberapa orang mulai berdatangan dan menyaksikan peristiwa itu.


"Lihatlah pak Hendra. Orang orang mulai berdatangan, mereka akan tau kebobrokan bapak." ucap Pras memperingatkan.


Hendra menelan ludah.


"Sial! Mereka tidak menberiku pilhan lain," umpat Hendra.


"Bagaimana pak?" tanya Arif sembari masih merekam moment itu.


"Dengar pak Hendra, kami punya bukti rekaman ini. Jadi kalau bapak masih tetap tidak bertanggung jawab. Tau, kan apa yang akan terjadi?" Arif mengacung ponselnya.


Hendra tidak bisa mengelak lagi. Dengan bukti rekaman itu Sofia dan gengnya bisa berbuat apa saja.


"Jangan terlalu lama mikir pak, atau mau saya sebar video ini segerra? Sekali klik video ini akan viral," gertak Arif lagi.


"Jangan, jangan! Baiklah saya akan bertanggung jawab," ucapnya terpaksa.


"Coba dari tadi, kan tidak buang buang waktu pak," seloroh Arif.


"Kapan dan dimana bapak akan menikahinya?"


"Saya minta waktu untuk mempersiapkan semuanya," ucap Hendra dengan muka tidak senang."


Pras berbisik ke telinga Hendra,


"Ok, janji pak Hendra saya pegang. Jangan sampai pak Hendra main main dengan masalah ini. Karna sekali aib ini terbuka, karir dan keluarga pak Hendra taruhanya."


Pras menepuk nepuk bahu rekannya itu.


"Jangan lupa kasi kabar lewat Sofia ya..!" teriak Pras sebelum akhirnya mereka meninggalkan Hendra yang sangat marah.


"Awas ya kalian, kalian pikir aku akan diam saja dengan semua ini?" Ia mendengus kesal.


"Nikmati saja kemenangan sementara ini" Ia berteriak teriak seperti orang gila padahal mobil Pras sudah tidak kelihatan lagi.


Di dalam mobil siasana hening. Pras melirik Sofia yang termangu sambil mengelus perutnya.

__ADS_1


"Harusnya kau senang Sof, Hendra sudah berjanji mau bertanggunh jawab."


"Sebenarnya tidak ada bedanya bagiku Mas.


Dia mau karna di bawah ancaman, bukan karna kesadaranya sendiri."


"Iya sih, tapi setidaknya anakmu akan punya status."


Pras masih berusaha menghibur wanita yang pernah singgah di hatinya beberapa tahun silam itu. Kini wajah itu tak lagi ceria seperti dulu, kini wajah itu juga selalu berbalut mendung. Sofia telah terjebak kedalam lingkaran dendam yang akhirnya merugikan dirinya sendiri.


Tak di sadarinya mereka sudah sampai di parkiran kantor kembali. Sofia pulang dengan menyetir sendiri. Sedangkan Arif mengambil motornya yang ia titipkan ke satpam sebelum pergi.


****


Hari sudah gelap saat Pras memarkir mobilnya di garasi.


Dia merasa heran karna suara anak anak terdengar gaduh.


"Ada apa ini, kenapa Kayla menangis?" Pras terlihat panik saat melihat kaki Kayla berlumuran darah.


"Tadi mereka main sepatu roda bareng pak, Mar tinggal kebelakang sebentar saja saat kembali mereka sudah menangis dan kakinya Kayla berdarah," ucap Mar sambil membershjkan darah di kaki Kayla.


"Dimana ibu dan Eyang?" tanyanya dengan gusar.


"Ibu pergi setelah menerima telpon, tidak tau dari siapa, dan Eyang juga ikut pergi setelah ibu," tutur Mar.


Kayla sudah tenang di pangkuan Ayahnya. Rumah juga sudah di rapiin oleh Mar.


Jam di dinding sudah menunjuk angka delapan. Kayla dan Nayla juga sudah tertidur di kamarnya.


Terdengar suara mobil yang memasuki garasi. Pras sengaja menunggu istrinya untuk minta penjelasannya.


Nadia masuk kerumah denngan berjingkat.


"Darimana saja sampai jam segini?" tegur Pras membuat Nadia terperanjat.


"Mas Pras, kirain sudah di kamar."


"Jawab dulu pertanyaan saya. Kau darimana jam segini baru pulang?"


"Susi tadi nelpon dia minta aku temani bertenu seseorang yang berminat kerjasama dengan kita," ujar Nadia tenang seolah tak merasa bersalah.


Pras sudah tidak bisa menahan amarahnya dan bekata, " Dan meniggalkan anak anak begitu saja?"


"Lho mereka tidak sendiri mas, ada ibu, Mar juga ada," jawaban Nadia tak kalah keras.


"Lalu di mana Ibu?" tanya Pras masih dengan nada kesal.


"Kamu tau Dik, Kayla berdarah kakinya karna rebutan sepatu roda saat kamu tinggal hanya dengan Mar yang harus sibuk bolak balik kedapur sambil memasak."

__ADS_1


"Berdarah? terus gimana keadaanya sekarang.?" tanya Nadia panik sambil bergegas ke kamar anaknya.


Nadia memeriksa kaki anaknya yang sudah di perban.


"Maafin ibu Kay.. " Nadia mencium kening anaknya yang sudah terlelap.


Saat Nadia kembali ke ruang tengah bu Warsih datang mengendap endap .


"Ibu..!" bu Warsih membalik badannya menghadap Nadia.


"Bukankah ibu aku mintai tolong untuk menjaga anak anak?"


"Iya.. Tapi anak anak tidak mau sama ibu, makanya ibu tinggal bersama Mar." ucapnya enteng tanpa rasa bersalah. Untung Pras sudah masuk kamar sehingga tidak melihat adegan itu.


"Ibu tau? kakinyanya Kayla berdarah karna bermain tidak ada yang mengawasi."


"Astaga.. Kasian sekali, tapi itu tanggung jawabmu sebagai ibu, jangan keluar kalau tidak penting." ucap bu Warsih hingga membuat Nadia naik darah.


Nadia bertambah jengkel lagi saat bu Warsih menyudutkanya .


"Aku keluar untuk urusan bisnis. Ibu malah menyalahkanku? lalu ibu sendiri pergi kemana, kenapa baru pulang jam segini?"


"Ibu, pergi kerumah teman. Karna sudah di jemput tidak enak menolaknya," suara bu Warsih seolah tanpa beban. Nadia mendengus kesal.


"Sudahlah, ibu capek mau masuk dulu ya."


Tanpa memperdulikan Nadia yang sedang jengkel bu Warsih melenggang masuk kekamarnya.


Nadia lansung mengikuti suaminya ke kamar.


"Lain kali jangan ulangi lagi meninggalkan anak anak tanpa pengawasan, kalau Mas belum ada di rumah jangan pergi dulu," sambut Pras saat melihat istrinya masuk kamar.


"Aku minta maaf, aku ngaku salah. Tapi ini urasan bisnisku Mas aku minta toleransi sedikit untuk yang ini ya."


Pras merasa kehilangan akal untuk menasehati istrinya.


Nadia yang sekarang sangat berbeda dengan Nadia yang dia kenal dulu.


Pras merasa Nadia seperti orang asing baginya.


Kemana Nadia yang manis, selalu menurut apa kata suami dan Nadia yang penuh perhatian.


Saat istrinya di kamar mandi, ada pesan masuk di ponsel Nadia.


Diam diam Pras membuka pesan itu.


[Nad, jangan lupa besok siang yaa] pesan itu dari kontak yang di beri nama Lena.


"Siapa lagi ini, Susi sudah mengganggu kedamaian rumah tangga saya, sekarang datang lagi yang bernama Lena."

__ADS_1


💔💔Ternyata bisa up juga.. Tolong dong koment ya sahabat!!


__ADS_2