
Happy reading
💕💕💕💕💕
Burung-burung yang berkicau saling bersahutan dari atas pepohonan, mengusik ketenangan tidur Diana. Wanita itu menggeliat di atas kasur lalu mengerjap perlahan. Di luar masih gelap, masih terlalu pagi untuk bangun. Reyhan juga masih terlelap tidur dengan mulut yang setengah terbuka. Diana tersenyum geli, dia mengecup bibir Reyhan yang setengah terbuka itu.
Reyhan menggeliat, menyadari ada yang menyentuh bibirnya berulang. Dia mengeram, mengubah posisi tidurnya menjadi miring dan memeluk bantal guling.
“Jangan menggodaku Sayang, aku masih sangat lelah,” gumamnya dengan mata yang masih terpejam.
Diana mencebikkan bibir. “Kita ke pantai yuk, aku pingin liat matahari terbit.” Memainkan rambut di belakang leher Reyhan.
“Eemm, aku masih ngantuk Sayang, tunggu sebentar lagi.” Suaranya sudah terdengar tidak jelas.
Diana mengecup pipi Reyhan sekilas. “Kalau gitu aku duluan, aku tunggu kamu di pantai, ya.” Tidak ada jawaban dari Reyhan. Mungkin pria itu memang masih lelah dan mengantuk.
__ADS_1
Diana turun dari ranjang, mengambil kemeja putih milik Reyhan yang berserakan di lantai dan mengenakannya. Kemeja kebesaran itu cukup untuk menutupi tubuhnya yang kini hanya memakai dalaman. Diana keluar melalui pintu kaca yang mengrah ke kolam renang. Dia berjalan melewati balkon dan pinggiran kolam renang untuk menuju pantai yang letaknya tidak jauh dari kolam renang.
Tidak butuh waktu lama, Diana sudah sampai di pantai. Dia memperhatikan sekeliling, tidak ada siapa pun selain dia seorang. Hari masih terlalu pagi, jadi belum ada satu orang pun dari penjaga villa yang sudah bangun. Dia merasa bebas melakukan apa pun, bernyanyi, menari, dan bermain pasir.
Diana terlalu asik menikmati waktunya sendiri hingga tidak menyadari langit sudah mulai terang. Matahari mulai merangkak naik dari ufuk timur. Cahayanya yang terang menggeser awan gelap yang tadinya menyelimuti langit.
Diana masih menari, menyanyi, dan melompat ke sana kemari dengan girang layaknya anak kecil yang sedang bermain. Dia tertawa renyah saat angin pantai menerbangkan rambutnya sambil terus berputar dengan merentangkan kedua tangannya. Diana tenggelam dalam dunianya sendiri. Dia sungguh menikmati suasana yang sudah lama sekali tidak pernah dia rasakan.
Sementara itu,
Reyhan melipat kedua tangannya di depan dada dan bersandar di pinggir pintu sambil terus mengamati istrinya yang terlihat sexy dengan kemeja putih kebesaran miliknya. Matanya membelalak kaget saat Diana melepas kemeja miliknya. Menampakkan tubuh Diana yang hanya dibalut pakaian dalam. Detik itu juga Reyhan mengeram dan hendak mencari Diana, tetapi niatnya itu dia urungkan lantaran teringat kalau Diana sedang berada di private beach milik villa Davin. Reyhan menghela napas lega dan bersikap tenang kembali.
Lama Reyhan memandangi istrinya sampai terdengar suara ketukan di pintu. Dia berjalan membuka pintu, lalu melihat pelayan pria yang baru pertama kali dilihatnya. Pelayan itu membawa nampan berisi kopi dan teh panas serta roti bakar.
“Maaf Tuan, ibu sedang tidak enak badan jadi saya disuruh membawakan sarapan untuk Tuan dan Nona,” jelas pelayan itu.
__ADS_1
“Baiklah, taruh itu di sana!” Menunjuk meja yang terletak di balkon dekat kolam renang. Dia berjalan mendahului pelayan itu lalu duduk di kursi dekat meja.
Reyhan merasa ada yang aneh dengan pelayan pria itu. Sudah selesai sejak tadi meletakkan sarapan untuk mereka, tetapi pelayan itu masih berdiri di sana. Wajah Reyhan mengeras, dia mengeram marah karena menyadari pelayan itu tengah bengong melototi Diana yang hanya memakai dalaman dan tengah asik bermain-main di pantai. Dia menendang kursi di sebelahnya sehingga, mengagetkan pelayan itu.
“Apa yang sedang kau lihat?” bentaknya marah dengan wajah merah padam. Mata elang miliknya menyorot tajam.
Pelayan itu tersentak. “Ma—maaf Tuan,” jawabnya gelagapan. Tubuhnya gemetar menyadari Reyhan menangkap basah dirinya yang memandang mesum ke arah Diana. “Sa—saya ....”
“Tutup matamu dan pergi dari sini sebelum aku membuat matamu tidak bisa melihat lagi!” bentak Reyhan.
"Ma—maaf Tuan, saya permisi." Dengan terus menunduk dan meminta maaf, pelayan itu bergegas keluar meninggalkan kamar sebelum Reyhan membuktikan ucapannya.
Reyhan membuang napas kasar. Dengan kesal dia masuk ke kamar, meraih kaosnya, dan memakainya cepat. Tanpa berpikir apa-apa lagi, dia bergegas menuju tempat Diana. Darahnya terasa sudah naik ke ubun-ubun. Langkahnya yang panjang dan lebar membuatnya tidak perlu waktu lama untuk sampai di tempat Diana.
❤️❤️❤️❤️❤️
__ADS_1
Ngeri ya ancamannya Pak Duren🤭🤭🤭