Di Antara Dua Hati

Di Antara Dua Hati
BAB.105 BULAN MADU IMPIAN (PART 2)


__ADS_3

(Area sedikit panas, yang belum cukup umur skip, ya😅🙏)


"Anginnya sangat dingin..." Bisiknya pada Windu, dia tak mengenakan apapun, angin dari pantai masuk lewat sela-sela pintu yang terbuka sedikit ke arah pantai.


Windu mendekap tubuh Dara, menggesekkan badannya ke tubuh Dara yang tak mengenakan sehelai benangpun, lalu menariknya ketempat tidur dan membaringkannya perlahan di atas sepray putih.


Wajah Dara memerah ketika Windu melucuti baju kaosnya sendiri, entah mengapa dia selalu tak pernah terbiasa untuk melihat tubuh suaminya yang kekar itu.


"Sayang, kamu harus membayar kegelisahanku sepanjang hari ini, kamu telah membuatku hampir gila karena memikirkanmu." Windu menaiki tempat tidur seperti seekor laba-laba raksasa.


"Bagaimana cara aku membayarnya?" Tanya Dara dengan suara serak yang mengundang.


"Seharusnya kamu yang membayar kekesalanku hari ini, melihatmu di goda oleh seekor serigala di depan mata kepalaku sendiri." Balas Dara.


"Aku tak melakukan apa-apa...jadi aku tak berhutang apapun padamu." Tukas Windu sambil melepaskan belt di pinggangnya lalu melemparkannya dengan sembarangan ke lantai kamar.


"Jadi apa yang harus ku lakukan sekarang?" Tanya Dara menantang, dia menarik selimut dari bawah kakinya tetapi Windu menahannya.


"Aku bisa masuk angin kalau kamu membiarkanku seperti ini." Rengek Dara dengan mimik lucu.


"Kamu tak akan masuk angin karena aku akan menghangatkanmu, sebentar lagi " Windu menyeringai nakal.


"Bagaimana caranya?" Dara tertawa kecil, memperlihatkan barisan gigi putihnya.


"Pejamkan matamu..."Pinta Windu.


Dara memejamksn sebelah matanya dengan mimik curiga.


"Pejamkan kedua matamu..." Windu melotot pada Dara.


"Astaga, kenapa soal bayar hutang tak jelas begini aku harus memejamkan mataku segala." Keluh Dara, mulutnya bergerak-gerak menggemaskan.


Saat Dara memejamkan matanya, Windu langsung melepaskan semua yang melekat di tubuhnya, mbuat mereka berdua sekarang serupa Adam dan Hawa, tanpa selembar kainpun yang menutupinya.

__ADS_1


Dengan lembut Windu menempelkan tubuhnya ke tubuh Dara, kulit mereka yang hangat itu saling menempel, gerakan itu membuat Dara menggelinjang dan serta merta membuka matanya.


"Lihatlah, sayang...aku akan menghangatkanmu dengan tubuhku sendiri, aku tak akan nembiarkanmu kedinginan meskipun kamu tak mengenakan apa-apa." Ucap Windu di telinga Dara yang seperti kesetrum ketika merasakan sesuatu yang aneh menyentuh kulit pahanya.


"Kata Dokter, perempuan yang sedang hamil gairahnya meningkat Malah di trimester kedua ini kehamilannya ibu hamil akan mengalami peningkatan gairah seksual yang lebih dari biasany karena meningkatnya hormon kehamilan yang cukup drastis."


Dara melongo menatap suaminya itu, sempat-sempatnya dia ceramah seperti kuliah tentang masalah gairah s*x pada perempuan hamil, mencopy paste apa yang dikatakan dokter kandungan Dara beberapa bulan yang lalu saat pertama kali mereka memeriksa kandungan.


"Aku selalu menunggu, yang namanya trimester kedua itu, karena penasaran dengan gairah ibu hamilku ini saat melakukan hubungan intim. Sebesar apa dan sekuat apa..." Windu memandangi mata bulat Dara sambil menarik sudut bibirnya.


"Astaga kak Win, kenapa kamu seperti menghapal materi ujian hanya karena urusan bercinta." Dara berdecak kecil, sekarang mendadak dirinya yang tak sabar pada Windu.


"Aku masih ingin mengagumimu dulu..."


"Aish....kak Win..." Seperti kompor yang telah di sulut, menjadi panas tetapi di biarkan begitu saja, Dara benar-benar kehilangan kesabarannya.


Dara yang cenderung pemalu saat di ranjang itu tiba-tiba beringsut menarik tubuhnya, lalu dengan gerakan tiba-tiba dia mendorong tubuh kekar suaminya itu kesampingnya.


Dalam sekejap Dara sudah berada di atas perut suaminya, lalu dengan kakinya dia mengait selimut untuk menutupi sebagian tubuh mereka berdua.


"Aku akan menunjukkanmu hormon ibu hamil." Dara menyeringai dengan lucu membuat Windu merasa geli, karena Dara tak pernah bersikap seperti itu.


Dara menurunkan wajahnya dengan acuh, menempelkannya di bibir Windu yang masih melongo, lidahnya di keluarkannya sedikit dan menyapu permukaan bibir Windu yang setengah terbuka hendak mengucapkan sesuatu.


"Say..."


Belum sempat Windu melanjutkan ucapannya, Dara membekap mulut Windu dengan ciuman yang lebih najal seperti yang biasa dilakukan Windu saat menggoda Dara.


"Ukh..." Mata Windu mengerjap, ketika Dara menggigit bibir bawah Windu, meninggalkan sensasi yang luar biasa.


Tangan Windu tak bisa diam, menyasar tubuh Dara yang ada di atasnya, tapi Dara membuat gerakaan yang lebih ekstrim, tangan memegang sesuatu yang kini bangun dengan tegak.


"Ukh...unyilku!" Windu kelojotan. Dara tertawa senang melihat Windu menggigit bibirnya sendiri.

__ADS_1


"Istriku ini semakin pintar saja..." Pujian itu di keluarkan dengan nada lirih,


Lalu ciuman liar Dara segera bertubi-tubi membuat Windu hampir tak bisa bernafas.


Windu sekarang benar-benar merasa candu pada istrinya itu, sejak dia merasakan kehangatan yang di suguh Dara dari malam indah mereka di apartemen Dara di Jogja.


Deburan ombak terdengar seperti irama, seperti halnya dua orang yang kini sedang berpagut dalam kemesraan, saling membalas dan meminta.


Dara dan Windu, sepasang suami istri yang saling jatuh cinta satu sama lain itu, tak berhenti mengurai kemesraan, menghilangkan setiap jeda dan menikmati setiap jengkal gairah yang saling mereka sodorkan.


Balas dendam atas masa lalu yang menyakitkan, Dara lampiaskan melalui percintaan mereka yang begitu mengesankan.


Windu terpesona dalam perangkap gairah sang istri, yang seakan menerbangkannya pada nirwana ketujuh.


Malam itu mereka lewati dengan adegan percintaan yang luar biasa. Seperti perang yang saling menyerang dan tak pernah puas. Dara bahkan membalas Windu dengan membuat dirinya seperti pemandu yang begitu bersemangat.


Perang itu usai, ketika mereka berdua mencapai titik kulminasi tertinggi, Dara sukses membuat Windu menggelepar seperti ikan yang terdampar di pantai.


"Akh..." Windu hanya berkali-kali mengeluarkan suara yang sama,


"Ternyata hormon ibu hamil itu bukan mitos semata, aku telah membuktikannya..." Ucap Windu di sela suara nafasnya yang ngos-ngosan tak jelas.


"Daraku ini ternyata sangat luar biasa..." Windu terkekeh sambil memeluk tubuh istrinya, mereka berdua bersimbah keringat, hawa bibir pantai yang semula dingin benar-benar tak lagi mereka rasakan.


"Terimakasih, sayang..." Windu mencium puncak kepala Dara dengan penuh kasih sayang.


"Terimakasih juga, kak Win." Balas Dara dengan mata terpejam.


(Yeay....malam jumat yang horor ini, othor beranikan menyuguhkan part yang sedikit panas😅😅😅 Maafkan Othor ya, ini hanya hiburan, please skip bagi yang tak berkenan. Untuk yang telah memiliki pasangan, ini adalah alternatif menyenangkan pasangan🤣🤣🤣 Yuuuk, di tunggu lanjutannya, rangkaian crazy Up Dara dan Windu untuk hari ini, Jangan lupa tidur ya, ini sudah malam, cukup othor saja yang bergadang😆)



...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...

__ADS_1


...I love you all❤️...


__ADS_2