Di Antara Dua Hati

Di Antara Dua Hati
BAB 88 MANTAN TERINDAH


__ADS_3

Windu baru saja memasuki kantornya, setelah sekian hari dia hanya tinggal di rumah, mengerjakan segala sesuatu dari rumah saja karena meladeni ngidam Dara yang sangat aneh.


Seseorang telah menunggu di depan kantornya, dia adalah asisten Windu yaitu Dicky.


"Selamat pagi pak Windu..."


"Selamat pagi." Sahut Windu.


"Ada apa wajahmu begitu tegang?" Tanya Windu.


"Ada seseorang ingin bertemu?"


"Siapa?"


Dicky tak serta merta menyahut tetapi dia bersiap membukakan pintu ruangan Windu.


"Dia ada di dalam, aku tak bisa melarangnya untuk masuk."


Mata Windu terpana pada seorang perempuan yang pernah sangat di kenalnya.


"Novi?"


"Hallo, Win...lama tak bertemu." Novi yang semula membelakanginya berputar dengan gaya yang elegan.


"Kenapa kamu kemari?"


"Aku hanya ingin bertemu denganmu.'


"Ada apa?" windu tampak salah tingkah dan memberi isyarat Novi untuk duduk di kursi tamu ruangannya.


"Aku hanya lewat tadi, lama tidak melihatmu. Selama ini aku di tugaskan di kantor cabang luar daerah jadi tak punya kesempatan untuk menemuimu." Novi tersenyum pada Windu.



Windu membuang wajahnya, dia tak punya kata karena pertemuan yang mendadak ini.


" Bagaimana dengan pernikahanmu? Aku dengar kamu cukup lama di jogja."

__ADS_1


"Ya, aku menemani istriku sekolah di sana sambil mengurus cabang."


"Istrimu yang dulu itu kan? Yang di jodohkan oleh ibumu?"


Pertanyaan Novi membuat Windu mengerutkan kening.


"Aku hanya menikah sekali dan aku hanya memiliki satu istri." Sahut Windu kemudian.


Novi tertawa kecil melihat Windu yang menurutnya terlihat aneh. Setelah sekian lama tak bertemu, dia tampak lebih dewasa dengan wajah lebih cerah hanya saja sikapnya sungguh berbeda menanggapi kehadiran Novi, sangat jauh dari bayangan Novi tentang bagaimana dia memperkirakan sambutan Windu mengingat Novi adalah satu-satunya mantan terindahnya.


"Aku ingat sekali, bagaimana kamu begitu murka dengan perjodohanmu itu, aku tidak menyangka, jika ternyata pernikahanmu seawet ini. Malah aku hampir bertaruh kalau kamu akan meninggalkan istrimu dalam kurun waktu tak sampai 3 bulan." Sekali lagi Novi tertawa, seperti seorang teman yang sedang bercanda.


Raut wajah Windu tak berubah dengan candaan Novi, dia terlihat serius. Sampai kemudian Novi menghentikan tawanya itu, dan membalas tatapan Windu dengan sedikit malu, dia tak mendapati respon yang di harapkannya dari laki-laki yang pernah memujanya itu.


"Masa lalu adalah sesuatu yang jauh tertinggal di belakang, aku merasa tidak sewajarnya kita membahas itu sekarang. Bukankah kamu dan aku punya jalan berbeda. Kita mungkin bisa mentertawakan masa itu tapi aku menghargainya karena masa lalu memang mungkin menyimpan banyak kenangan, namun itu bukan alasan untuk tidak terus melangkah ke depan. Karena alasan itu pernikahanku baik-baik saja." Suara Windu terdengar lugas.


Novi terdiam,


"Kamu menjadi jauh lebih dewasa dari dulu." Kemudian tersungging seringai yang canggung di bibirnya.


"Waktu memaksa orang untuk bersikap dewasa." Seloroh Windu.


Novi tak bisa menyembunyikan keheranannya, kakinya di silangkannya dan duduk dengan gaya formal.


"Apakah kita tak boleh bertemu?" Tanya Novi gusar dengan sikap Windu.


"Aku adalah laki-laki yang sudah menikah..." Windu menyahut tanpa ekspresi.


"Aku harus bersikap sebagai laki-laki yang beristri. Tak baik kita bertemu jika tidak ada kepentingan sama sekali."


Novi terbeliak mendengar kalimat yang di ucapkan oleh Windu, datar dan tak terduga.


"Kau? Ada apa sih denganmu? Aku kira kamu akan senang bertemu denganku setelah sekian lama." Wajah Novi memerah.


"Aku berterimakasihlah pada masa lalu, karena mempertemukanku pada seseorang yang pernah berarti dalam hidupku. Tapi itu hanya masa lalu, jika kamu datang padaku sekarang untuk menawarkan apapun itu atas nama masa lalu kita berdua, aku tegaskan...aku hanya mencintai istriku sekarang." Windu menggedikkan bahunya, merasa menang telah mengatasi kecanggungan hatinya setelah bertemu dengan mantan pacarnya itu.


Kepalanya teringat pada Dara yang kini sedang hamil di rumah, menunggunya untuk makan. Istrinya itu tidak akan makan jika tidak ada dirinya.

__ADS_1


"Kenapa kamu bersikap seolah-olah aku datang hari ini karena aku ingin menggodamu?" Tanya Novi dengan muka masam.


"Seorang mantan yang menemui kekasihnya di masa lalu tentu saja tak punya kepentingan apapun selain itu bukan?" Pertanyaan Windu yang menohok itu membuat Dara merengut kesal.


"Aku bukan orang seperti itu!" Sahutnya dengan raut jengkel.


"Lalu kamu datang hari ke kantorku untuk apa? Tanpa angin tanpa badai hanya ingin bertemu? Aku hanya berusaha bersikap membatasi karena jika ada orang yang melihat kita tentu saja fikirannya berbeda. Aku benar-benar mencintai istriku." Windu menyeringai puas karena merasa berhasil menjadi suami yang baik,


"Dara harus memberiku penghargaan untuk ini, sebagai suami ter the best."


Windu membatin, telah bisa membuktikan dirinya bisa menolak seorang mantan demi seorang istri, sikap seperti ini dia yakin pasti begitu langka bisa di lakukan oleh laki-laki.


Dan dia termasuk dalam salah satu dari pria langka itu! Dara seharusnya tahu, suaminya ini berad di golongan langka yang perlu dilestarikan.


"Kenapa sih fikiranmu sampai sejauh itu. Aku tidak datang untuk menggodamu!" Novi mengomel dengan wajah yang masih merah.


"Aku juga punya prinsif hidup, Win. Lima tahun yang lalu aku sudah jadi orang ketiga dalam pernikahanmu jika aku mau! Tapi aku, punya harga diri...aku tak akan melakukan apapun untuk membuatku terlihat rendah. Aku kecewa ternyata kamu tak pernah benar-benar mengenalku meski kita pernah berpacaran cukup lama" Novi benar-benar seperti tersinggung dengan sikap Windu.


Tangannya merogoh tas yang ada di pangkuannya, mengangsurkan sebuah undangan yang terlihat mewah dengan pita warna merah.


"Aku kira kita masih adalah teman, karena itu aku menemuimu dan ingin mengantarkan ini padamu." Ucap Novi lalu berdiri dari duduknya.


"Apa ini?"


"Undangan pernikahanku." Jawab Novi pendek.


"Aku rasa aku pulang sekarang, dari pada kamu mengusirku jika berlama-lama di sini. Jika kamu ada waktu, datanglah. Bawa istrimu itu juga." Novi pamit dengan sikap masih kesal, lalu berjalan menuju pintu, keluar dari sana dengan setengah membanting pintu itu.


Windu melongo sendiri, dia telah salah paham dengan kedatangan Novi. Di kiranya selama ini semua mantan itu sama, datang tiba-tiba hendak menganggu hubungan rumah tangga orang lain. Dia hanya berusaha bersikap protektif dengan rumah tangganya, tak mau menjadi tokoh-tokoh sinetron yang biasanya cepat oleng melihat mantan yang bening. Tapi, ternyata dia bersikap berlebihan.


Windu mengambil undangan warna emas itu sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


Dia malu sendiri dan tak sempat minta maaf atas sikapnya pada Novi yang benar-benar berlebihan.


"Astaga...sebucin inikah aku dengan istriku itu?" Windu hanya bisa menggigit bibirnya, fikirannya melayang pada istrinya yang mungkin sedang merengut di rumah menunggunya pulang


...Terimakasih sudah membaca novel ini❤️...

__ADS_1


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...


...I love you all❤️...


__ADS_2