Di Antara Dua Hati

Di Antara Dua Hati
PART. 11


__ADS_3

Bradd menelpon seseorang, setelah percakapan selesai, ia mematikan ponsel, dan kembali menjalankan mobilnya.


Saat ini ia benar-benar geram pada Angelica. Baginya, Angelica benar-benar seorang ibu yang tidak punya hati, sangat jauh berbeda dengan ibu mereka. Ibu yang sudah membesarkan Bradd, dan Angelica, dengan penuh cinta. Namun akhirnya harus menyerah pada penyakit kanker payudara yang ia derita.


Ibu mereka pergi, saat usia Bradd dua puluh tahun, dan Angelica tujuh belas tahun. Sejak itu, Angelica tidak terkendali pergaulannya. Bradd dan ayah mereka sudah kehabisan cara untuk mengatur Angelica. Sampai akhirnya, ayah mereka mengatur pernikahan mereka berdua.


Bradd menghela napasnya, rasa sesak membuatnya sulit bernapas. Ia terkenang dengan ibu angkat yang luar biasa baiknya. Bradd tidak tahu, dari mana Angelica mewarisi sifat buruk di dalam dirinya.


Bradd memarkir mobilnya, di depan pintu gerbang sebuah rumah besar dengan model kuno. Penjaga gerbang mengenali Bradd, ia membukakan pintu gerbang untuk Bradd.


"Terimakasih, Jon" Bradd mengangukan kepala, dan tersenyum pada pria seumurannya, yang sudah membukakan pintu gerbang untuknya.


Jon membalas senyum Bradd, lalu menutup pintu kembali setelah mobil Bradd melewati gerbang.


Bradd memarkir mobilnya di depan teras luas rumah itu, seorang pria berseragam hitam-hitam membukakan pintu mobil. Bradd keluar dari dalam mobil.


"Hallo Ed, apa kabar?" sapanya pada pria tiga puluh tahun itu.


"Baik, Tuan. Tuan Bill sudah menunggu anda di ruang kerjanya."


"Terimakasih Ed," Bradd meninggalkan mobilnya, Ed memindahkan mobil Bradd ke tempat parkir yang seharusnya.


Seorang pelayan tua menyongsong kedatangan Bradd.


"Selamat siang Bertha," sapa Bradd.


"Selamat siang Tuan, silahkan, saya akan mengantar anda ke ruangan kerja Tuan saya."


"Terimakasih, Bertha."


Bradd mengikuti langkah Bertha memasuki rumah besar tiga lantai itu.


Bertha mengetuk daun pintu besar, kokoh, dan berwarna coklat di hadapannya. Terdengar sahutan dari dalam, Bertha membuka pintu, lalu membungkukan tubuhnya di ambang pintu.


"Tuan Bradd, sudah datang Tuan."


"Ooh, Bradd masuklah!" seru pria bernama Bill, yang usianya sudah tujuh puluh tahun.

__ADS_1


Bill adalah sahabat, sekaligus mantan orang kepercayaan Abraham, kakek Jenny.


"Duduklah Bradd, Bertha, bawakan minuman untuk kami berdua," perintah Bill.


"Baik Tuan," Bertha ke luar dari dalam ruangan. Bradd menjabat tangan pria tua yang harus duduk di kursi roda, karena kecelakaan yang pernah menimpanya. Bradd duduk di sofa, Bill memposisikan kursi rodanya, agar ia bisa dekat dengan Bradd.


"Ada apa Bradd, apa ada yang sangat penting?" Bill menatap mata Bradd.


"Iya, ini tentang Angelica."


"Angelica? Polah apa lagi yang dibuat Angelica, sehingga membuat wajahmu terlihat gelisah, Bradd?"


"Semalam Angelica menjemput Jenny di kampus, tapi Simon berhasil mengusir Angelica sebelum bertemu Jenny."


"Lalu?"


"Karena aku penasaran akan niat Angelica yang tiba-tiba menjemput Jenny. Aku datang ke butik Angelica, untuk meminta penjelasan."


"Penjelasan apa yang kamu dapatkan Bradd?"


Bradd belum sempat menjawab, saat terdengar ketukan di pintu. Bill mempersilahkan masuk, Bertha masuk dengan nampan berisi dua gelas teh. Setelah meletakan teh di atas meja, Bertha kembali pamit untuk ke luar dari sana.


Bradd menggelengkan kepala.


"Aku tidak bertemu dia, karena ada Sam bersamanya."


"Sam, anak band itu?"


"Ya, aku menguping pembicaraan mereka. Aku mendengarkan rencana busuk mereka, untuk bisa menguasai harta Jenny."


"Apa! Coba ceritakan lebih mendetail lagi Bradd." Bill lebih mendekatkan kursi rodanya, ke sofa yang diduduki Bradd.


"Mereka akan melakukan tes DNA, antara Jenny, dan Sam. Kalau positif, Jenny adalah putri Sam, maka mereka pasti akan mengambil alih semua milik Jenny dariku. Meski surat wasiat daddy menunjukku sebagai wali Jenny, sampai Jenny menikah. Tapi aku kira, mereka akan melakukan berbagai cara untuk menguasai semuanya, sebelum Jenny menikah."


Terdengar Bill menghembuskan kuat napasnya, ia merasa geram pada Angelica, yang hanya memikirkan harta, tanpa perduli. Pada Jenny, putri yang sudah dia lahirkan.


"Bradd, bukankah Abraham sudah mempersiapkan Jason sebagai calon suami Jenny. Dipercepat saja pernikahan mereka, tidak perlu menunggu Jenny menjadi sarjana."

__ADS_1


"Itulah masalahnya!"


"Maksudmu?"


"Jenny tidak bersedia menikah dengan Jason. Ia mengancam akan kabur kalau dipaksa menikah dengan Jason." Tutur Bradd.


"Apa Jenny punya pilihan sendiri?"


"Dia tidak mau membicarakan hal itu secara terbuka denganku. Bisakah anda yang bicara dengannya, Bill?" Tatapan Bradd penuh permohonan pada Bill.


"Kita harus bergerak cepat Bradd, sebelum Angelica melaksanakan rencananya."


"Ya," Bradd mengangguk.


"Nanti malam, aku akan datang ke rumah kalian, aku akan bicara hal ini pada Jenny."


"Tapi, tolong jangan ceritakan mengenai rencana Angelica. Aku tidak ingin Jenny tahu kalau aku bukan daddynya."


"Tentu saja tidak Bradd, aku tidak akan membuka hal itu. Aku tahu, apa yang sudah kamu lakukan untuk Jenny, bahkan melebihi apa yang sudah dilakukan seorang ayah kandung. Kamu rela tidak menikah, hanya demi untuk menjaga Jenny, dan semua harta warisan Abraham. Aku ucapkan terimakasih untuk itu, Bradd."


Bradd hanya diam dan menundukan kepala. Ia sendiri tidak tahu kenapa ia memilih jalan itu, mengabaikan kehidupan pribadinya, demi untuk memenuhi pesan ayah angkatnya.


Suara ponsel mengagetkan Bradd, dan Bill.


"Sean," gumam Bradd, Bradd Menatap Bill, Bill menganggukan kepala. Barulah Bradd menerima telpon dari Sean, sekretaris pribadinya. Setelah berbicara sebentar, Bradd kembali memasukan ponsel ke dalam saku kemajanya.


"Aku harus pergi, ada urusan perusahaan yang tidak bisa aku wakilkan. Aku tunggu kedatanganmu malam ini Bill. Semoga Jenny mau bicara terus terang, siapa pria yang dia inginkan."


"Ya, semoga saja Bradd"


"Terimakasih, selamat siang Bill. Semoga harimu menyenangkan."


"Selamat siang Bradd," jawab Bill.


Bradd berjalan menuju pintu, Bill mengikuti dengan kursi rodanya.


"Aku pergi," Bradd menyalami Bill, sambil membungkukan badannya, Bill menepuk bahu Bradd pelan.

__ADS_1


Bradd berlalu dari hadapan Bill, ia harus segera kembali ke kantornya. Meski rasa marah pada Angelica belum sirna, tapi Bradd sudah merasa sedikit lega, karena sudah menceritakan semuanya pada Bill, sahabat ayah angkatnya.


🌼🌼🍍BERSAMBUNG🍍🌼🌼


__ADS_2