Di Antara Dua Hati

Di Antara Dua Hati
Bab 155


__ADS_3

Happy reading


đź’•đź’•đź’•đź’•đź’•


“Hentikan, Laura!” bentak Reyhan sembari melepaskan diri dari pelukan Laura. “Untuk apa kamu datang kemari lagi?”


Diana hanya mematung memperhatikan mereka. Sementara Rangga sudah dibawa ke kamarnya oleh Lala.


“Kenapa?” Laura menatap mata Reyhan dan menangkup kedua rahangnya. “Apa salah kalau aku datang ke rumahku?”


Reyhan menepis tangan Laura dengan kasar. “Ciih, mudah untukmu keluar dari rumah ini, tapi tidak, jika kamu ingin masuk kembali.”


“Aku datang karena aku merindukan suamiku, apa itu salah?” Laura kembali berusaha menyentuh wajah Reyhan, tetapi lagi-lagi Reyhan menepisnya.


Suami?Jadi, benar dia Laura, ibunya Rangga. Istri ....


Diana menunduk, menggigit bibir bawahnya pilu. Otaknya tidak mampu memikirkan kata-kata selanjutnya. Kakinya terasa lemas, rasa sesak mulai menyelimuti dirinya. Diana tidak tau harus berbuat apa. Seluruh indra dalam tubuhnya seolah tidak berfungsi dengan baik.

__ADS_1


“Aku sudah bukan suamimu lagi. Kita sudah bercerai!” tegas Reyhan. Dia memutar tubuhnya memunggungi Laura, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, lalu mendesah kesal.


“Kapan?” Laura menatap sedih punggung Reyhan. "Aku tidak pernah menghadiri sidang perceraian kita.”


Reyhan membuang napas kasar. “Justru karena kamu tidak pernah menghadirinya, makanya hakim menjatuhkan putusan verstek untukmu!” ucap Reyhan tanpa menatap Laura.


“Itu tidak sah!” protes Laura sengit. “Aku belum menandatangani surat cerai kita.” Laura bersikukuh.


Reyhan memutar tubuhnya menghadap Laura kembali. Ditatapnya Laura dengan sorot tajam dan dingin. “Kamu salah Laura. Putusan verstek itu sah di mata hukum. Yang menjadi penentu utama perceraian bukan ada tidaknya surat cerai, tapi keputusan sidang saat pengadilan.”


Laura mendongak, menatap lekat wajah Reyhan. “Tapi aku tidak ingin bercerai denganmu,” ucapnya pelan. Matanya mulai berkaca-kaca. “Aku mencintaimu, Rey.” Laura semakin mendekati Reyhan, kedua tangannya kembali menangkup rahang pria itu. Tatapannya begitu sedih, mengiba siapa pun yang melihatnya.


“Maaf, saya permisi dulu,” ucap Diana akhirnya tanpa menatap Reyhan ataupun Laura. Diana bersiap melangkah untuk meninggalkan mereka. Namun, Reyhan menghentikannya.


“Tunggu!” pinta Reyhan pada Diana. Seketika Diana menghentikan langkahnya. “Aku sudah punya istri, Laura!” Reyhan menepis tangan Laura dari wajahnya.


“Apa dia istri yang kau maksud?” Menunjuk Diana dengan tatapan benci.

__ADS_1


Diana mendongak, menatap Laura dan juga Reyhan bergantian. Air mata yang sedari tadi coba dia tahan harus luruh, mengalir di kedua pipinya. Reyhan yang melihat itu, bergegas mendekati Diana untuk menghapus air mata itu dengan tangannya.


Laura semakin iri dibuatnya. “Apa segitu mudahnya kau berpaling dariku?” ucapnya setengah mencibir. Sudut bibirnya terangkat sebelah menyaksikan pemandangan yang membakar hatinya. Perlakuan Reyhan begitu manis pada Diana.


“Kau yang sudah meninggalkanku!”


“Baiklah, aku minta maaf untuk hal itu, Rey. Sekarang aku sudah kembali. Jadi, bisakah kamu menceraikan dia dan kembali padaku?” ujar Laura dengan enteng, seperti tidak ada beban dan rasa bersalah mengatakan itu di depan Diana.


Kedua bola mata Diana melebar, menatap Laura begitu juga Reyhan. Dia tidak menyangka Laura akan berkata seperti itu di hadapannya langsung, tanpa memikirkan perasaannya yang sekarang adalah istri Reyhan.


“Kita ulang dari awal Rey, aku tau kau masih sangat mencintaiku. Lagi pula Rangga lebih butuh ibu kandungnya," bujuk Laura yang kembali mendekati Reyhan.


Diana ingin meninggalkan mereka, dia benar-benar sudah merasa tidak nyaman. Terlebih air matanya kini terus mengalir, dia tidak mau terlihat lemah di depan orang lain. Berulang kali dia memaki dalam hati untuk jangan menangis lagi, tetapi air mata sialan itu bukannya surut malah mengalir semakin deras.


Reyhan segera menarik tangan Diana lagi, menggenggamnya erat, lalu menautkan jemari mereka berdua.


“Aku mencintai istriku, Laura!” Menatap Laura dengan sorot mata elangnya. Dia mengangkat dan memamerkan jemari mereka yang saling bertaut kehadapan Laura. “Satu hal lagi yang paling penting dan yang paling harus kau tahu ... Rangga membutuhkan Diana sebagai ibunya, bukan dirimu!”

__ADS_1



❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2