
Khanza duduk di hadapan Kayla tentu dengan memakai Vincent yang terus memperhatikan keduanya.
Pandangan pria itu terus mengarah lurus ke wajah Kayla yang terlihat bingung, lalu melirik Khanza yang tersenyum binar menatap gadis di hadapannya.
Ada apa dengannya? Mengapa ia sebahagia itu saat bertemu dengan gadis cantik tukang ojek?
Oh My God!
Vincent sungguh tidak mengerti apa yang sedang direncanakan dan ditawarkan oleh Khanza kepada gadis manis tersebut.
Satu tangan menyentuh bibir serta kaki yang menyilang saling bertumpang, senyum Khanza tersembunyi memperhatikan tingkah Vincent yang menurutnya sedang cemburu.
Apakah asisten pribadinya itu sudah merasakan tanda-tanda akan terjadinya sesuatu? Ataukah hanya perasaan Khanza saja?
Hemh, biarlah dia penasaran dengan apa yang akan dilakukan Khanza kepada gadis cantik yang dibawanya itu.
"Kenapa terus menatap kek gitu?" Khanza bertanya tanpa menoleh kepada siapa pun membuat Vincent dan Kayla kebingungan.
"Hah? Siapa?" serempak keduanya bertanya.
Senyum Khanza terlukis indah di bibirnya. Dengan wajah menoleh ke arah Vincent, ia pun berkata. "Kenapa merhatiin terus? Biasanya elu paling nggak suka kalo duduk santai kek gini! Ada apa Tuan Vincent?" ledeknya sengaja.
Vincent mencebik kesal seraya beranjak dari duduknya. "Hemh, siapa yang memperhatikanmu?" Ia tidak mau mengakui walau sejujurnya itu adalah benar adanya. "Ge-er!" lanjutnya kemudian.
Netra mutiara Khanza membulat sempurna dengan wajah menatap Vincent kesal. "Apa? Hei Bung, gue tahu kalo elu itu terus merhatiin kita. Maka dari itu, lu sebaiknya pergi deh! Ke kantor kek, ke pasar kek, atau ke mana aja deh terserah yang penting gue mau ngomong sama Kayla sekarang. " terlihat Vincent akan membuka suara namun Khanza segera memangkasnya. "Urusan cewek," pungkasnya cepat.
Vincent menghembuskan nafas secara kasar lalu melangkah pergi sembari menggerutu. Entah mengapa pria itu kini berubah posesif semenjak kehadiran Kayla dan juga Edward
Apa ada sesuatu di antara Khanza dan Kayla hingga membuat mereka terlihat lebih akrab?
Vincent takut jika Khanza menyukai gadis itu. Tapi, itu kan tidak mungkin! Kekasihnya saja ada di sini kok! Lalu, untuk apa Kayla ditahan di sini?
__ADS_1
Banyak sekali pertanyaan dalam benak Vincent tentang sosok Kayla. Tapi yang pasti, dugaan Vincent tentang Khanza menyukai Kayla karena 'berbelok' itu sungguh salah. Wanita itu memang menyukai Kayla namun bukan untuk dijadikan kekasih melainkan ingin menjadikan Kayla sebagai asisten pribadinya.
Khanza menatap serius wajah Kayla yang masih tertunduk malu. Wanita itu pun berjalan menghampiri, lalu duduk di samping Kayla membuat gadis itu mendongakkan kepalanya. "Tadinya aku hanya menyuruh Vincent untuk menyelidiki identitasmu aja, Kay. Tapi it's oke. Karena si kuya udah bawa kamu kemari, aku mau langsung ngomong aja deh!"
Hanya tatapan bingung yang diperlihatkan Kayla kepada Khanza karena dia benar-benar tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan wanita cantik tersebut.
"Langsung aja pada intinya!" Kayla menatap serius wajah cantik di hadapannya. "Aku ingin kamu jadi asisten pribadiku," ucap Khanza yakin.
Kayla membulatkan mata menatap wanita cantik yang ada di hadapannya tersebut. "Ukhuk ... apa?"
"Hei, itu mata mau aku congkel?" Kayla mengerjapkan mata berulang. "Ya Tuhan! Apa kini kamu cacingan?" ejek Khanza menggoda Kayla.
Kayla lekas menggeleng membuat Khanza terkekeh. "Hah? Ma-maksud aku, apa Kakak serius? Aku belum lulus sekolah lho, Kak!"
Khanza berdiri dan melangkahkan kaki menuju kaca, melihat pemandangan di luar. "Aku tahu! Maka dari itu, kita akan melakukan percobaan terlebih dahulu sampai kamu benar-benar lulus sekolah!" tutur Khanza menjelaskan.
"Tapi aku punya cita-cita ingin melanjutkan pendidikan ke Universitas agar bisa menjadi seorang Dokter," sahut Kayla lirih sembari menundukkan wajah sedih.
Gadis itu mendesah pelan. Memang dirinya membutuhkan uang untuk biaya kuliah. Tapi, dengan mengorbankan waktu dan uang orang lain, rasanya sungguh tidak mungkin. Terlebih, dirinya merasa belum mampu sebab tidak mempunyai kelebihan khusus.
"Aku malu, Kak. Di luar sana banyak yang jauh lebih baik dan lebih pintar dariku," ujar Kayla.
"Kenapa? Aku bisa mengajarimu," ucap Khanza santai.
"Tapi, Kak! Aku ..." Kayla tidak bisa melanjutkan ucapannya sebab Khanza segera memangkasnya.
"Intinya kamu mau apa enggak? Tawaran ini cuma sekali lho!" Khanza sengaja berkata demikian agar Kayla tidak menolak lagi.
Entah apa yang dilihat wanita itu dari diri Kayla sehingga ia terus ngotot ingin agar gadis itu menjadi asisten pribadinya.
Tanpa berkata lagi Kayla pun mengangguk mengiyakan tawaran Khanza untuk menjadi asisten pribadinya. Walaupun ia belum mengerti apa yang harus dikerjakannya, tapi Kayla tetap menerima pekerjaan tersebut mulai sekarang sampai ke depannya.
__ADS_1
Di balik pintu, Vincent dan Edward berdiri menguping pembicaraan kedua wanita beda usia itu. Dalam benak keduanya ada pertanyaan yang sama tentang pengangkatan Kayla menjadi asisten pribadi Khanza.
Mengapa tiba-tiba Khanza mencari asisten pribadi?
Bukankah selama ini ada Vincent yang selalu menangani setiap masalah di kantor jika Khanza sedang tidak ada?
Lalu, apa penyebabnya?
Tiba-tiba saja Edward tersenyum meledek Vincent. "Syukurlah istriku itu bergerak cepat dengan mencari asisten seorang wanita. Jika tidak? Maka aku akan protes setiap hari," si bule berdecak mengejek sembari melirik Vincent.
Yang dilirik pun balik menatap sengit. "Siapa yang kamu panggil istri? Dia belum jadi istrimu," sanggah Vincent kesal.
"Tapi calon istri," elak Edward tidak mau kalah.
Pertengkaran pun terjadi lagi di antara kedua pria itu membuat Kayla dan Khanza menoleh serempak ke ara pintu yang memperlihatkan kedua tubuh pria tersebut ketika pintu terdorong hingga terbuka.
Khanza menepuk keningnya pelan setelah melihat tingkah kedua pria yang dekat dengannya. Sungguh, ingin sekali ia menendang bokong keduanya hingga mereka tersungkur ke empang dengan berlumuran lumpur yang bau. Wanita itu mengeram kesal. "Ergh, kalian itu gimana sih? Selalu ribut kalo deketan,"
"Dia yang mulai!" keduanya saling menunjuk satu sama lain tidak mau disalahkan.
Sementara Kayla terlihat nyengir melihat tingkah kedua pria itu yang terlihat konyol menurutnya. "Hehehe. Bayangin kalo serumah ama mereka keknya aku nggak bakal tidur nyenyak," desisnya dalam hati.
Walaupun sudah dipisahkan, kedua pria itu tetap saja meributkan hal yang itu-itu saja tanpa ada yang berniat ingin mengalah hingga Khanza pun menyerah.
"Pergi kalian berdua! Aku pusing kalo harus terus-menerus denger kalian ribut kek gini!" Khanza mengusir keduanya hingga mereka terdiam tanpa melawan.
Kedua pria yang setiap hari terlihat dingin dan kaku, kini berubah seperti kucing lucu yang menuruti semua perintah majikannya.
"Huh, menyebalkan!"
...Bersambung ......
__ADS_1