
Setelah serangkaian kegiatan yang padat selama dua hari, Dara dan Windu memutuskan untuk menambah libur menjadi lima hari, dan menjadikannya benar-benar seperti bulan madu.
Papa Windu sudah kembali ke Jakarta beberapa hari sebelumnya, pak Danuar hanya bertemu koleganya dan bermalam satu malam. Selama di hotel, mbak Parmi dan Fitri yang di bawa Dara mengurus mertuanya itu dengan baik sementara Dara, mengurus suaminya.
Dan ketika pak Danuar kembali Ke Jakarta, mbak Parmi ikut bersamanya, karena asisten senior inilah yang paling paham mengurus majikannya itu.
Fuji sendiri sudah angkat kaki setelah di amuk oleh Dara, perempuan itu langsung di berhentikan dengan penanganan Ricky.
Berkali-kali Ricky menghubungi Windu dan meminta maaf pada Bosnya itu soal kelakuan Fuji yang sama sekali tak terpuji itu.
"Kenapa kamu tak mengatakan sebelumnya kalau dia adalah saudara sepupumu?" Windu benar-benar murka pada Ricky yang hampir membuat rumah tangga gonjang-ganjing, karena sang istri cemburu berat.
Windu telah meminta maaf berkali-kali dan merasa bersalah telah merekomendasikan Fuji. Dia hanya mengira selama dua minggu cutinya, Fuji bisa menggantikan pekerjaannya, karena menurutnya di antara semua orang tang dikenalnya, dia bisa menpercayakan Fuji, sepupunya sendiri meskipun mereka tidak begitu akrab dan dekat.
"Aku benar-benar minta maaf, Win...aku sama sekali tidak tahu jika ternyata Fuji bersikap kurang ajar. Dia telah bekerja selama dua tahun di bagian arsip dan selama ini dia tidak pernah membuat ulah yang aneh-aneh." Sesal Ricky.
"Dia benar-benar keterlaluan Rick, aku merasa sama sekali tak di hormati olehnya. Aku merasa dia benar-benar tak bisa di maafkan."
"Aku benar-benar minta maaf, aku berjanji untuk membereskan kekacauan ini."
"Sudah seharusnya begitu dan aku tidak mau bertemu dengannya lagi di kantorku, aku harap kamu memakluminya."
Meskipun hanya via telpon, sepertinya Ricky benar-benar menyesali apa yang telah terjadi. Dia bekerja dengan Windu dari pertama kali Windu di tunjuk oleh papanya sebagai CEO di bawah sang ayah, karena Windu di persiapkan untuk mewarisi perusahaan keluarga itu.
Ricky sudah di kenal baik oleh Windu sejak mereka kuliah jadi sebenarnya Windu yakin bahwa Ricky tidak melakukan kesalahan ini dengan sengaja. Mereka berdua tidak sekedar bawahan dan atasan tetapi sahabat baik.
Windu berbaring di pangkuan Dara sambil melihat matahari tenggelam di ufuk barat.
Langit yang merona jingga seperti lukisan uang terpantul di atas permukaan air. Jauh di tengah laut, matahari yang berwarna kemerahan itu seperti akan menenggelamkwn dieo ke bawah samudra.
Begitu tenangnya, membuat Windu merasa tak ada sedamai saat ini.
"Sayang, besok kita harus pulang...ataukah kamu ingin aku memperpanjang bulan madu ini." Tawar Windu.
"Kita sudah menghabiskan waktu lima hari di sini, aku rasa sudah cukup. Kasihan papa, dia harus menangani sendiri urusan kantor lebih lama jika kak Win tidak segera pulang." Sahut Dara. Windu mengangguk-anggukkan kepalanya, sepertinya dia tidak perlu mendebat soal itu, Dara selalu bersikap realistis.
"Sayang..."
"Hmm..."
__ADS_1
"Sebentar lagi kita berdua memjadi papi dan mami. Menurutmu apakah kita perlu merubah panggilan?"
"Merubah panggilan? Apa maksud kak Win?" Dara mengernyit dahi.
"Bagaimana jika kamu sudah mulai membiasakan diri mengganti panggilanmu kepadaku?"
"Mengganti bagaimana?" Dara menatap wajah yang sedang berbaring manja di pangkuannya itu.
"Kamu boleh memanggilku apa saja, asal jangan kak Win."
"Kenapa aku harus menggantinya? Dari dulu, bukankah aku sudah terbiasa memamggilmu dengan kak Win?"
"Aku kuatir nanti saat anakku lahir dan mulai bisa berbicara, dia akan meniru panggilanmu, kak Win-kak Win, seperti itu" Windu memjentikkan hidung Dara.
"Aku harus memanggilmu apa? Dari dulu aku terbiasa memanggilmu dengan kak Win."
"Aku mau kamu panggil dengan papi..."
"Wkkkk...." Dara melotot seperti orang tersedak.
"Kenapa?" Windu menautkan alisnya.
"Terus, kamu mau anak kita nanti memanggilku kak Win juga?" Tanya Windu sambil nyengir.
"Kata mama dulu, ibu adalah yang paling dulu di tiru anaknya. Terus, kalau kamu panggil aku kak Win di depan anakku, anakku pasti mengikutimu memanggilku begitu." Seloroh Windu.
"Tidak begitu juga, kak..." Dara menggeleng-geleng kepalanya sambil memencet hidung Windu dengan gemas.
"Pokoknya, kamu harus panggil aku, Papi!"
"Harus?"
"Ya, harus...!"
"Tidak ada altetnatif panggilan yang lain?" Tanya Dara sambil mengernyitkan keningnya.
"Tidak ada! pokoknya papi!"
"Kok, seperti panggilan sugar baby ke sugar daddynya?" Dara tertawa.
__ADS_1
"Kamu mau, aku di panggil begitu sama modelan Fuji?"
"Heeeeyyyy....!!" Si bumil yang sensitif soal Fuji ini melotot, tapi Windu sudah menarik lehernya dan mencium mulut Dara yang terbuka.
"Astaga, sayang...hanya bercanda." Windu tak bisa menahan tawanya, sejak urusan Fuji ini, Dara sangat sensitif bahkan menjadi sedikit possesif. Windu sungguh menikmatinya.
Windu bangun dan melanjutkan ciumannya yang hangat dan sedikit liar.
"Ayo, bercinta, mami..." Bisik Windu.
"Ini masih sore."
"Langit sudah mulai gelap, aku sudah ingin memelukmu saja..." Windu merangsek dengan nakal.
"Hati-hati sayang, aku sedang hamil, kamu selalu meminta bercinta setiap ada waktu." Dara melotot.
"Namanya juga honeymoon. Aku janji pasti berhati-hati..." Windu mengedipkan matanya.
Dara tersenyum dan pasrah, saat suaminya itu mulai bergerilya.
"Ukh..." Dara memejamkan matanya.
"Panggil aku apa?"
"Kak Win..."
"Bukan itu."
"Papi..."
"Yes, that's right."
Windu menggendong tubuh sang istri dengan satu kali angkat, dan tujuannya hanyalah tempat tidur.
...Dukungan dan VOTEnya author tunggu😅...
...Jangan lupa KOMEN dan LIKE di bawah, please...please...❤️...
__ADS_1
...Biar author tambah rajin UP...