Di Antara Dua Hati

Di Antara Dua Hati
Bab 126


__ADS_3

Happy reading


💕💕💕💕💕


"Atau dia tidak rela jika Tuan Reyhan menjadi milik perempuan lain. Sejak dua tahun lalu, dia sudah mengklaim Tuan Reyhan sebagai miliknya seorang." Santi, sekretaris kantor Reyhan terdengar menghela napas panjang. “Dia sangat pandai mengintimidasi lawannya. Hati-hati Diana. Jangan sampai kau tertekan di bawah auranya.”


Diana mendesah ketika pembicaraannya dengan Santi berakhir. Ternyata wanita yang akan datang menemuinya adalah wanita yang paling hebat di antara semua wanita yang pernah dekat dengan Reyhan. Jantung Diana berdetak penuh antisipasi. Menanti apa yang akan terjadi nanti? Apa yang akan dilakukan wanita itu dan bagaimana dia akan menghadapinya?


Mantan kekasih Reyhan. Diana menghela napas berat saat membayangkan akan bertemu mantan kekasih suaminya. Tanpa sadar dia mengusap perutnya yang sedikit membuncit.


"Kita pasti bisa menghadapinya Sayang," gumamnya lirih.


"Siapa yang menelepon?" Reyhan sudah berdiri di depan cermin sembari membetulkan letak dasinya.


"Santi, sekretarismu," jawab Diana lemah. Terdapat banyak kekhawatiran dalam nada suaranya.


"Santi?" Reyhan mengernyit. Tidak biasanya Santi menelepon sepagi itu dan ke nomor pribadinya bukan ke nomor Jonathan.


"Hm, dia bilang Jonathan tidak bisa dihubungi, mungkin sedang menyetir. Jadi, terpaksa dia meneleponmu langsung."


"Ada apa?" Reyhan terlihat cemas. Santi tidak mungkin menelepon dengan tiba-tiba dan terburu-buru jika bukan urusan penting dan mendesak.


"Ada seorang gadis yang mencarimu ke kantor dan gadis itu sudah dalam perjalanan menuju ke sini." Bola mata Diana bergerak gelisah. Entah kenapa memikirkan ucapan Santi mengenai kehebatan gadis itu membuat rasa percaya diri Diana menciut.


"Siapa?"


"Alice."

__ADS_1


❤️


❤️


❤️


❤️


❤️


Gadis itu memasuki rumah Reyhan dengan koper-koper yang dibawakan oleh para pelayan. Saat itu juga Diana yang berdiri di belakang Reyhan merasa bahwa mimpi buruknya benar-benar datang. Bagaimana mungkin dia bisa menghadapi wanita itu?


Alice bagaikan dewi yang datang dari surga. Keseluruhan dirinya sangat sempurna. Dari cara berpakaian yang berkelas, tubuh sempurna yang indah, bentuk wajah yang klasik dan sensual, dibingkai oleh rambut panjang indah berkilauan. Bahkan bentuk alisnya pun sempurna.


Diana mengamati Alice diam-diam dan merasa letih tiba-tiba.


Alice menatap Reyhan dan tersenyum manis. “Kenapa kau tidak kemari dan memelukku, Rey? Aku rindu pelukanmu, apa kau tidak merindukanku? Kita sudah dua tahun tidak bertemu.” Suara Alice terdengar rendah dan seksi.


Kenapa aku kemari, katamu? Tentu saja karena aku sangat merindukanmu.


"Aku pergi belajar ke luar negeri dan menunggu panggilanmu. Berharap kau akan menghubungiku dan menemuiku. Tahukah kau, aku sudah tak sabar melewatkan waktu berdua denganmu, sebagai istrimu."


Akan tetapi, kau tidak pernah sekalipun menghubungiku apalagi mengunjungiku. Sampai kudengar kau sudah menikah dengan wanita ini. Cih!


Alice sudah jelas menyadari kehadiran Diana di belakang Reyhan, termasuk Tuan Wijaya dan Soraya yang sama-sama berada di ruangan tengah. Namun, hal itu tidak membuat Alice menahan kata-kata vul*gar dan penuh rayuannya kepada Reyhan.


"Siapa gadis ini, Rey?" Tuan Wijaya menuntut penjelasan Reyhan. "Apakah dia tidak tahu bahwa kau dan Diana sudah menikah?"

__ADS_1


Diana menghela napas berat dan mengalihkan pandangan pada Reyhan. Suaminya itu tampak tidak suka dengan kata-kata Alice. Dia bergerak mundur, seolah menjaga Diana dari sambaran Alice.


“Aku sudah menikah, dia istriku." Reyhan merangkul bahu Diana.


“Oh?” Alice tampak tidak kaget.


Gadis ini tidak kaget. Berarti dia sudah tahu bahwa Diana adalah isteri Reyhan. Betapa kejamnya dia mengucapkan kalimat penuh rayuan tadi, umpat batin Soraya.


“Tidak masalah untukku.” Suara Alice terdengar manis. “Aku ingin bertemu denganmu Rey, bukan dengan istrimu.” Dengan langkah anggun dia mendekat dan berdiri di depan Reyhan dan Diana. Netranya dengan sengaja menelusuri tubuh Diana dari atas hingga bawah.


Diana tentu saja tidak sama dengan Alice. Dia tidak mengenakan baju rancangan desainer ternama. Diana hanya mengenakan dress rumahan. Senyum Alice lebih seperti senyuman mencemooh kepada Diana.


“Diana bukan nama istrimu? Kau sudah menikah, padahal ....”


Alice tersenyum manis kepada Reyhan, seakan tidak menganggap Diana ada. “Aku masih ingat saat kau membisikkan janji manis padaku.” Senyum Alice tampak penuh arti dengan tatapan menggoda penuh rahasia.


Wajah Reyhan merah padam karena marah. Namun, Alice tertawa sinis ketika melihat reaksi kemarahan Reyhan, sesuai dengan yang dia harapkan.


Alice mengedikkan bahu, lalu melangkah menuju anak tangga. “Kuharap pelayan bisa menunjukkan di mana kamar tamunya. Aku lelah karena perjalanan jauh dari luar negeri. Mungkin aku akan istirahat dan tidur sejenak.” Dengan nakal dia mengedipkan sebelah mata kepada Reyhan.


Diana melihat itu. Bukan hanya Diana, Soraya dan Tuan Wijaya juga melihatnya, tetapi mereka tidak mampu berkata apa pun. Benar yang diucapkan Santi, aura Alice begitu kuat. Gadis itu mampu membungkam siapa pun hanya dengan sorot matanya.


“Meskipun aku tidak akan menolak kunjungan singkat di siang hari seperti yang biasanya kau lakukan dulu, Rey.”


Dengan wajah tanpa dosa, Alice membalikkan badan kembali dan melangkah anggun menapaki anak tangga. Meninggalkan Reyhan dan semua orang yang membeku dalam keheningan. Keheningan tidak mengenakkan yang menyesakkan dada Diana.


❤️❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2