
Happy reading
💕💕💕💕💕
Pagi yang cerah ketika mentari dengan malu-malu memancarkan sinarnya dari ufuk timur. Pohon-pohon rindang dengan daun-daun hijaunya yang masih basah oleh embun semalam. Sekelompok burung pipit tampak riang berceloteh, terbang, melompat, dan hinggap di dahan ranting pohon.
Masih pukul 05:30, suasana masih tetap dingin seperti seharusnya. Irama pagi bagai irama detak jantung yang menjadi tanda kehidupan kembali bermula.
Reyhan terbangun dan mendapati Diana masih terlelap dalam pelukannya. Pemandangan pagi yang tak pernah membuatnya bosan. Ketika yang pertama kali ditangkap netranya adalah sosok wanita yang sangat dia cintai. Sederhana, tapi sempurna. Tampak biasa saja pada mulanya, tetapi lama-lama bermetamorfosa menjadi kekaguman luar biasa. Bertahan, seperti itu adanya hingga, waktu semakin lama semakin mengikatnya kuat dalam-dalam.
Tanpa sadar Reyhan tersenyum kagum membayangkan senyum Diana. Baginya senyum Monalisa terlihat kecut ketika Diana menyunggingkan seutas senyum. Seperti ada racikan khusus. Sinkronisasi antara bibir, sedikit lekukan di pipi, dan sayup matanya yang menjadi perpaduan maha dahsyat, menusuk relung hati, dan membuat Reyhan seketika mati kutu. Tak ada yang bisa meniru.
Apalagi jika ditambah dengan suara Diana yang lembut, penuh kasih sayang. Membuat Reyhan semakin tertunduk kagum. Dia yakin Diana tidak hanya memiliki kecantikan yang terukir di wajah, tetapi karakter yang anggun dalam dirinya.
Masih asik menelusuri wajah Diana, tiba-tiba kedua alis Diana saling bertaut dengan dahi berkerut. Reyhan mengernyit pada Diana yang sontak membuka mata dan menutup mulutnya.
"Uuweekkk ...." Diana segera bangkit dan bergegas menuju kamar mandi.
Reyhan yang cemas segera menyusul Diana.
"Uuweekkk ... uuweekkk ...." Diana memuntahkan isi perutnya di wastafel.
"Kau tidak apa-apa?"
"Jangan ke sini. Bau. Kau jijik nanti," cegah Diana. Dia merentangkan satu tangan ke arah Reyhan yang ingin mendekatinya.
Reyhan menghela napas. "Kau ini." Reyhan tetap mendekat, mengurut tengkuk Diana.
__ADS_1
Diana segera menyalakan keran air, mencuci wajah dan mulutnya. "Sudah, aku gak apa-apa." Mengelap wajahnya dengan tisu.
"Sakit banget, ya?" Tatapan Reyhan meredup, rasa iba dan bersalah bercampur jadi satu.
Diana tersenyum tipis dan menggeleng pelan. "Aku gak apa, Rey. Ini memang sudah kodratku."
Reyhan menghela Diana ke dalam pelukannya. "Maafkan aku," ucapnya lirih.
❤️
❤️
❤️
❤️
❤️
“Ya, begitulah Ma, aku masih berpacaran dengan Bayu saat itu. Lalu, Reyhan datang dan tiba-tiba saja mengajakku menikah.”
Soraya tergelak untuk sesaat. “Mungkin itulah yang disebut kemauan Tuhan. Kita sudah berencana dengan yang lain, tapi tiba-tiba Tuhan memberikan jalan untuk bersatu dengan orang yang selama ini tidak pernah kita duga. Meskipun kabar ini masih membuatku shock, tetapi aku menyadari bahwa kalian adalah pasangan yang cocok. Semoga kalian selalu berbahagia." Soraya mengusap lembut lengan Diana.
Diana tersenyum geli. “Pasti, Ma. Apalagi setelah bayi kami lahir nanti." Diana sudah berangan-angan indah.
“Mama selalu berdoa yang terbaik untukmu.” Mereka tertawa ceria. “Kalian bahagia selalu, kandunganmu baik sampai persalinan nanti, dan kalian berdua sehat."
Diana masih tersenyum ketika suara ribut-ribut terdengar dari lorong yang menghubungkan ruang tengah dan dapur. Mau tidak mau terdengar sampai ke dapur. Itu suara Reyhan, lelaki itu sedang mengumpat-umpat di telepon.
__ADS_1
Merasa penasaran Diana mendekat dan menguping. “Bagaimana dia bisa lolos dari pengawasan kalian. Sekarang dia kemari dan mengganggu ketenangan keluargaku.” Kemarahan tercermin jelas dalam suara Reyhan.
Sejenak Reyhan terdiam, mendengarkan suara di seberang telepon yang sepertinya menjawab, tetapi Reyhan memotongnya dengan tajam.
“Sudah. Kita bicarakan keteledoran yang dibuat anak buahmu nanti. Kau yang harus menanggung ini semua. Nanti. Begitu aku selesai membereskan masalah ini.” Reyhan menutup telepon dengan kasar. Membuat Diana merasa kasihan pada siapa pun yang sedang bicara di telepon tadi dengan Reyhan.
"Kau persiapkan segalanya. Aku ingin kau membawa dia pergi secepatnya dari sini," perintah Reyhan pada Jonathan yang berdiri kaku di sebelahnya.
"Baik, Tuan." Jonathan mengangguk sopan.
"Diana sedang mengandung anakku. Aku tidak ingin masalah Alice mengganggu dia dan kehamilannya."
"Baik, Tuan."
Reyhan hanya berdehem, lalu melangkah menghampiri Diana yang mematung di ujung lorong.
"Apa kau lapar? Kita makan malam di restoran, bagaimana? Sudah lama sekali kita tidak dinner berdua."
Diana menjawab dengan tersenyum dan mengangguk.
❤️❤️❤️❤️❤️
Hai hai, aku datang lagi dengan 2 bab hari ini, jangan lupa dukungan kalian. Dukungan kalian adalah penyemangat buatku terus menulis😘😘😘
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jempol. Aku tunggu di bab selanjutnya ya guys 🤗🤗🤗