Di Antara Dua Hati

Di Antara Dua Hati
Bab 171


__ADS_3

Happy reading


💕💕💕💕💕


Sudah hampir seminggu Tuan Wijaya dirawat di rumah sakit. Selama itu pula Soraya dan Reyhan bergiliran menunggu di rumah sakit. Meskipun kondisinya sempat memburuk karena komplikasi penyakit diabetes yang dia derita, tetapi kini kondisinya sudah membaik dan sudah bisa dipindah ke ruang perawatan.


Bella dan Jimmy menyarankan kepada Reyhan untuk melanjutkan pengobatan Tuan Wijaya di negara tempat tinggal mereka, sekaligus untuk operasi pemasangan ring jantung. Setelah berdiskusi dengan Soraya dan Diana, akhirnya Reyhan menyetujuinya. Seperti biasa, Jonathan yang bertugas menyiapkan segalanya.


Hari keberangkatan pun sudah ditentukan. Bella dan Jimmy sudah berangkat lebih dulu untuk mengurus segala sesuatu yang akan diperlukan di sana. Menghubungi rumah sakit dan dokter yang akan menangani Tuan Wijaya di sana nantinya.


“Jadi, besok berangkat?” tanya Diana begitu kembali dari ruang ganti. Dia melihat Reyhan duduk bersandar di ranjang, tampak serius dengan layar ponselnya.


“Hmm,” jawab Reyhan singkat tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel. "Rangga sudah tidur?"


Diana naik ke atas ranjang, dia merangkak untuk mensejajarkan dirinya dengan Reyhan. "Sudah. Lagi ditemani Lala." Dia menatap lesu ke arah Reyhan. “Kamu rencananya ikut berangkat?”


Reyhan menghela napas sebelum meletakkan ponselnya di atas nakas. Dia tersenyum pada Diana kemudian menghela dan membenamkan kepala Diana di dada bidang miliknya. “Iya, Kenapa?” Membenamkan hidungnya di kepala Diana, menghirup wangi strawberry dari rambut istrinya itu.


“Berapa lama kamu di sana?” Bukannya menjawab pertanyaan Reyhan, Diana malah balik bertanya . Telunjuknya bermain-main di dada suaminya. Menulis dan menggambar sesuatu yang tidak jelas.


“Emm, mungkin seminggu, mungkin sebulan, atau mungkin juga selamanya.” Mulai menggoda.


Diana membelalak kaget, dia langsung mendongak. “Selamanya?” tanyanya lagi, meyakinkan pendengarannya.


“Iya,” angguk Reyhan meyakinkan. “Siapa tau aku dapat istri bule di sana.” Reyhan tertawa renyah melihat ekspresi cemberut Diana.


“Iishh.” Diana mencebik sembari mencubit dada Reyhan.


Reyhan semakin tergelak. “Kenapa? Gak boleh kalau aku punya istri lagi?”


“Eh." Diana melotot. “Coba saja kalau berani, tar aku sunat pakai gunting rumput!” ancamnya sembari mendorong dada Reyhan.


“Rekan-rekan bisnisku biasanya akan ditemani wanita lain jika berpergian. Aku belum pernah seperti itu dan aku tertarik ingin mencobanya boleh, 'kan?” godanya lagi demi melihat wajah Diana yang memerah karena emosi.

__ADS_1


“Terserahmu! Itu hakmu. Lagi pula kamu membayar mereka dengan uangmu bukan uangku,” sindirnya pedas.


“Jadi, beneran boleh, nih?” Reyhan mengulurkan tangan ingin memeluk Diana, tetapi Diana menepis tangannya. Mulutnya semakin mengerucut.


“Hei, aku hanya bercanda, Sayang.” Reyhan terkekeh geli melihat wajah cemberut Diana. “Muka kamu lucu kalau lagi cemberut begitu.” Reyhan masih terkekeh.


Diana memalingkan wajahnya kesal.


“Hei, Diana Larasati Hutama, Nyonya Reyhan Aditya Wijaya, udah dong ngambeknya.” Mencoba menarik bahu Diana kembali, tetapi lagi-lagi Diana menepisnya.


“Besok suamimu akan pergi jauh, lama lagi, masak mau dianggurin,” rayunya.


“Kan, besok bakalan ada yang nemenin di sana, minta saja sama dia,” cibirnya.


Reyhan kembali terkekeh. Wajah Diana yang cemburu sungguh membuatnya gemas. “Aku bercanda, Sayang.” Menarik paksa Diana hingga terjerembab ke dadanya. “Aku bercanda Sayang,” ulangnya. Ditatapnya lekat-lekat mata Diana.


Diana ingin berontak, tetapi Reyhan mengeratkan pelukannya. Reyhan mengecup bibir Diana. “Aku tidak mungkin melakukan itu." Mencium bibir Diana yang disertai luma*tan. “Aku hanya mencintaimu,” gumamnya disela-sela ciuman mereka.


“Setelah urusan dengan rumah sakit beres, aku akan langsung pulang. Kenapa?”


“Tidak apa-apa, kita sudah terbiasa tidur bersama, aku hanya takut tidak bisa tidur jika sendirian nantinya,” ucap Diana lesu. Beberapa hari ini, Diana merasa selalu merindukan Reyhan. Setiap waktu, bahkan setiap detik. Saking gilanya, seharian tadi dia memeluk kemeja Reyhan, menciumnya, seolah-olah itu adalah Reyhan.


“Emm, kalau begitu aku tidak usah berangkat, biar Jonathan saja yang mengurusnya.”


“Eh, jangan. Kamu harus tetap ikut menemani papa. Keberadaanmu bisa jadi penyemangat buat papa.”


“Lalu, bagaimana dengan kamu?”


“Aku akan tidur dengan Rangga, seperti biasa.” Mengalungkan tangannya ke leher Reyhan. “Lagi pula ini palingan hanya perasaanku saja. Mungkin karena akan berpisah jauh denganmu.” Diana mengecup bibir Reyhan sekilas. Ciuman kilat yang mampu menggugah naluri kelelakiannya.


Reyhan mendekatkan wajah mereka. “Kalau begitu malam ini kita lembur. Aku ingin kau memuaskanku malam ini," bisiknya mesra di telinga Diana.


Dalam sepersekian detik, Diana merasa darahnya berdesir. Tengkuknya meremang mendengar bisikan sang suami. Apalagi kini bibir dan tangan Reyhan mulai tidak bisa dikondisikan. Entah siapa yang memulai, tubuh mereka sudah sama-sama polos. Dia mele*nguh setiap kali bibir Reyhan mencumbu bagian-bagian tubuhnya yang sensitif.

__ADS_1


“Aku ingin membuatmu tidak bisa melupakan malam ini." Senyum licik terukir dari bibir Reyhan yang entah sejak kapan kepalanya sudah berada bawah. Di bagian tubuh Diana yang paling sensitif.


Puas bermain di sana, Reyhan kembali mencumbu seluruh tubuh istrinya tanpa ada yang terlewat satu inci pun. Begitu juga dengan Diana, dia sengaja meninggalkan beberapa tanda kepemilikannya di tubuh Reyhan yang terlihat. Hal yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya, mengingat Reyhan adalah seorang CEO yang berhubungan dengan banyak karyawan dan relasi bisnis. Sudah pasti tanda itu akan memalukan untuk suaminya.


Namun, kali ini Diana tidak peduli tentang itu. Lagi pula Reyhan pergi bukan untuk urusan pekerjaan dan pria itu tampak menikmatinya. Berarti tidak masalah, bukan? Diana memang sengaja melakukannya, seolah ingin menunjukkan pada dunia kalau Reyhan miliknya.


Diana menggigit bibir bawahnya, ketika merasa akan mencapai puncaknya. Reyhan menyeringai saat menatap wajah istrinya yang dirasa sangat seksi saat menggigit bibir bawahnya. Reyhan segera mengulum bibir itu. “Apa kamu sudah ingin keluar? Ha?” bisiknya setelah melepas ciuman mereka.


Diana mengangguk. Dia hanya bisa mengangguk. Kepalanya telah dipenuhi kabut gairah yang siap meledak.


“Aku juga.” Reyhan memacu gerakannya lebih cepat sampai terdengar erangan panjang dari keduanya.


Reyhan mengusap kepala Diana dan mencium keningnya. Kemudian menjatuhkan tubuhnya di tubuh Diana, membenamkan kepalanya di ceruk leher Diana tanpa melepas miliknya dari milik Diana. Mereka memejamkan mata dengan napas yang sama-sama tersengal.


Setelah lama saling berdiam dan napas mereka sudah normal kembali. Diana merasa milik Reyhan kembali berdenyut. Diana mengernyit, lalu membuka mata. Dilihatnya Reyhan tengah tersenyum mesum menatapnya.


“One again!”


Hah?


Tanpa mendengar jawaban dari Diana, Reyhan langsung menyambar bibir istrinya itu dan kembali memulai aksinya.


❤️❤️❤️❤️❤️


Papa Reyhan siap2 OTW guys😄



Mama Diana gak mau kalah dong ya🤭



Yuk, jangan lupa tap jempol kalian👍

__ADS_1


__ADS_2