Di Antara Dua Hati

Di Antara Dua Hati
Bab 172


__ADS_3

Happy reading


💕💕💕💕💕


Hari berganti pagi, jam di atas nakas sudah menunjukkan pukul 07:30 saat Reyhan keluar dari ruang ganti. Pria itu sudah mengenakan kemeja lengkap dengan setelan jasnya. Dia tersenyum ke arah ranjang, memandang istrinya yang masih tertidur lelap. Langkahnya kini mendekati ranjang, dia duduk dengan pelan di pinggir ranjang agar takut istrinya terbangun. Dipandangnya wajah Diana, diusapnya puncak kepalanya pelan, dikecupnya lembut kening, hidung, bibir, dan bahu polosnya yang tidak tertutup selimut.


Diana menggeliat, mata sayunya mengerjap pelan, pandangannya masih samar menatap Reyhan. “Ada apa?” gumamnya dengan suara khas bangun tidur.


Reyhan tersenyum tipis sembari mengusap bahu polos Diana. “Tidak ada apa, tidurlah lagi. Kamu pasti masih lelah.” Menarik selimut untuk menutupi tubuh Diana hingga leher.


Diana memejamkan mata kembali, hanya dalam hitungan detik napasnya sudah terdengar teratur, pertanda empunya sudah terlelap kembali.


Reyhan tersenyum kemudian mengecup puncak kepalanya. “Tidur yang nyenyak ya Sayang, aku berangkat dulu,” bisiknya pelan karena tidak ingin membangunkan Diana lagi. Diana pasti masih sangat lelah dan mengantuk karena harus melayaninya hingga subuh tadi.


Perlahan Reyhan bangkit, berjalan menuju pintu. Ditatapnya sekali lagi tubuh Diana yang masih tertidur pulas di ranjang. Entah kenapa dia merasa berat sekali untuk meninggalkan Diana kali ini, padahal dia hanya akan pergi untuk seminggu. Seperti ada sesuatu yang mengganjal dalam hatinya, rasa cemas yang sulit dia jabarkan. Namun, Reyhan mencoba menepis semua prasangka itu. Seperti kata Diana, papanya juga membutuhkannya sekarang. Akhirnya Reyhan memutuskan menutup pintu kembali tanpa suara dan menemui Rangga.


“Ayah!” Rangga berseru begitu Reyhan memasuki kamarnya. Bertepatan saat Lala sedang menyisir rambut bocah itu.


Reyhan mendekati putranya kemudian menggendongnya, “Rangga, ayah mau berangkat dulu ya ngantar opa. Kamu di rumah jagain ibu, jangan nakal.” Menggoyangkan telunjukknya di depan wajah Rangga.


Rangga mengangguk. “Baik, Ayah.”


Reyhan mencium pipi Rangga. “Anak pintar." Reyhan mengusap kepala Rangga seraya menoleh ke arah Lala.


“La, kamu jagain Rangga dulu. Diana masih tidur, jangan mengganggunya.”


“Baik, Tuan.” Lala mengangguk sopan sebelum mengambil alih Rangga dari gendongan Reyhan.


“Ayah berangkat dulu ya, biar tidak ketinggalan pesawat.”


"Hati-hati, Yah." Rangga tersenyum dan mencium pipi Reyhan bergiliran.


Reyhan meninggalkan kamar Rangga menuju ruang tengah di mana Jonathan dan Bik Sumi sudah menunggunya.


“Papa sama mama sudah siap, Jo?”


“Sudah Tuan, mobil yang menjemput Tuan Besar sedang menuju bandara,” jelasnya.


“Baiklah, kita berangkat sekarang.”


“Apa tidak sarapan dulu, Tuan?” tanya Bik Sumi.


“Tidak usah Bik, nanti saja di pesawat”


“Baiklah, Tuan.”


“Saya berangkat Bik, titip Rangga sama Diana.”


“Baik Tuan, semoga semuanya berjalan lancar dan Tuan Besar segera sehat sehingga, bisa berkumpul bersama kita lagi.”


“Makasi, Bik.”


“Sama-sama, Tuan.”

__ADS_1


Reyhan segera melangkah keluar diikuti Jonathan. Sebelum memasuki mobil dia memandang ke dalam rumah lagi. Reyhan masih bingung kenapa kali ini rasanya sangat berat meninggalkan rumah. Entahlah, prasangka buruk itu masih menghantui Reyhan.


“Ada apa, Tuan?” tanya Jonathan yang melihat raut kecemasan di wajah tuannya.


“Entahlah Jo, entah kenapa kali ini aku merasa berat meninggalkan rumah. Ada sesuatu yang membuatku cemas, tapi sulit untuk mengatakan itu apa.”


“Apa sebaiknya Tuan tidak jadi berangkat? Biar saya yang menggantikan, Tuan?”


Reyhan membuang napas dalam, “Tidak Jo, papa membutuhkanku sekarang. Ayo, kita berangkat!” Reyhan menghela napas sebelum masuk ke dalam mobil.


❤️


❤️


❤️


❤️


❤️


Diana menggeliat, dia mengernyit saat sinar matahari menyapa retina. Diana mele*nguh, merasakan pegal di seluruh badannya. Reyhan menghajarnya habis-habisan semalam. Bibirnya tersungging mengingat kejadian semalam. Perlahan dia menengok ke sebelah ranjang dan menyadari dirinya sudah sendirian di ranjang.


Diana bangkit, melirik jam di atas nakas pukul 09:30. “Hm, Reyhan pasti sudah di dalam pesawat sekarang,” gumamnya. Wajahnya berubah muram menyadari yang dia ucapkan barusan. “Hahh, harusnya aku bangun dari tadi. Setidaknya aku bisa menatap wajahnya sekali lagi sebelum dia pergi.” Dia terlihat menyesal.


Diana menyibak selimut, bersiap bangkit dan membersihkan diri. Namun, tiba-tiba kepalanya terasa pusing, perutnya mual, dan dia ingin muntah. Dengan tubuh yang masih polos, dia berlari menuju wastafel di kamar mandi.


“Uweeekkkk ... uweeekkk.” Tidak ada makanan apa pun yang dia muntahkan, selain cairan kuning yang membuatnya merasakan pahit hingga ke tenggorokan.


“Uweeekkk ... uweeekkkk. Haahhh!” Diana menghidupkan keran air, lalu mencuci mulut dan wajahnya. “Ada apa ini? Kenapa kepalaku tiba-tiba pusing sekali?”


Diana kembali menatap cermin, pandangannya tertuju pada pantulan tubuhnya yang dipenuhi tanda cinta Reyhan. Setiap melakukannya, Reyhan memang biasa meninggalkan tanda itu di tubuh Diana, tetapi malam tadi ... Reyhan meninggalkannya hampir di setiap inci tubuh Diana. Di rahang, leher, dada, perut, lengan, dan pahanya juga. Muncul riak-riak bahagia dalam hati Diana, sebegitu besar cinta Reyhan pada dirinya. Sekarang Diana merasa bersyukur atas perintah Sandra dulu. Benar kata Sandra, Tuan Reyhan memang pria yang baik. Meskipun awalnya pernikahan ini berat dia jalani, tetapi kini Diana mendapat lebih dari apa yang dia harapkan sebelumnya. Cinta tanpa batas dari Reyhan.


Detik berikutnya Diana tersenyum geli, mengingat tanda yang dia tinggalkan di tubuh Reyhan.


Dia malu gak ya?


Merasa pusing dan mualnya berkurang, Diana memutuskan menuju shower untuk membersihkan diri.


Setelah selesai dengan ritual mandinya, dia bermaksud kembali ke kamar tidur. Namun, pusing dan mual itu datang lagi.


“Apa asam lambungku naik? Mungkin karena aku belum sarapan,” gumamnya, “sebaiknya aku turun dan sarapan.” Menyisir rambutnya dengan cepat agar bisa segera turun dan sarapan.


Nanun, belum sempat dia melangkah, ponsel miliknya bergetar di atas nakas. Diana berbalik untuk mengambil ponselnya.


Nomor tidak dikenal? Siapa?


Karena ragu Diana tidak jadi mengangkatnya, tetapi ponselnya bergetar lagi.


Siapa sih? Angkat aja kali ya, siapa tau penting.


Akhirnya dia menggeser tombol hijau.


“Halo?”

__ADS_1


“Halo,” sahut seorang wanita di seberang.


“Iya, ini siapa?” Sebenarnya dia sudah mengenali suara dari seberang itu, tetapi ragu.


“Aku Laura.”


“Laura!” Dugaannya tepat. Dalam sekejap wajah Diana berubah tegang. Untuk apa Laura menghubunginya?


“Diana, apa kau bisa membawa Rangga keluar? Aku ingin bertemu dengan putraku.”


“Maaf Laura, aku tidak bisa melakukan itu. Kamu tau sendiri di sini banyak penjaga.” Wajah Diana semakin tegang, dahinya berkerut cemas.


“Tolonglah Diana,” desak Laura dengan nada memelas.


“Aku tidak bisa, aku takut. Nanti ketahuan Tuan Reyhan, bagaimana?” jawabnya cemas.


“Tidak akan ketahuan kalau kau tidak bicara. Aku akan berangkat ke LN malam ini. Aku hanya ingin bertemu putraku untuk terakhir kalinya.”


“Baiklah, akan aku coba,” jawab Diana pasrah.


“Makasih, kita ketemu di taman komplek.”


“Ok, sama-sama.” Menutup teleponnya dan menaruhnya kembali di atas nakas.


Pikiran Diana berkecamuk sekarang, antara takut dan iba. Takut jika Reyhan mengetahui dia melanggar perintah dan iba jika tidak berhasil memenuhi permintaan Laura. Mempertemukan Laura dengan Rangga. Bagaimanapun Laura adalah ibu kandung Rangga. Dia berhak bertemu putranya untuk terakhir kalinya.


Setelah berpikir dan menimang cukup lama, akhirnya dia menemukan ide. Perlahan Diana menuruni tangga dan mencari keberadaan Rangga.


“La, kamu tolong panggilkan Sisi dan bantu dia untuk membersihkan kamarku. Rangga biar sama aku, aku ingin mengajaknya bermain di taman.” Mengambil alih Rangga dari gendongan Lala.


“Baik Nona,” jawab Lala tanpa rasa curiga. Dia langsung mencari keberadaan Sisi setelah Diana meninggalkannnya ke luar ruangan.


“Pak, tolong buka gerbangnya!” perintah Diana pada satpam yang menghampirinya begitu melihatnya datang.


“Memangnya Nona mau ke mana?” tanya satpam itu bingung. Satpam dan dua penjaga yang berdiri di dekat gerbang saling pandang.


“Aku ingin mengajak Rangga jalan-jalan sekitar komplek.” Memberi senyuman terbaiknya untuk menutupi rasa gugup.


“Baik Nona,” jawab satpam itu sebelum membuka gerbang.


“Eh, kalian mau ngapain?” tanya Diana heran pada kedua pengawal yang hendak mengikutinya keluar gerbang.


“Kami akan mengawal Nona dan Tuan Muda,” jawab salah satu pengawal.


❤️❤️❤️❤️❤️


Hai hai hai, happy sunday all😉 pada ke mana nih di hari minggu yang ceria ini? Nge-mall, jogging, mantai, atau ngerem aja di kamar kayak aku😄


Kalau ayah Reyhan sm ibu Diana lagi berenang 🤭



__ADS_1


apa pun aktivitasnya, have a nice day ya all🤗 jangan lupa jempolnya👍


__ADS_2