Di Antara Dua Hati

Di Antara Dua Hati
Bab 156


__ADS_3

Happy reading


đź’•đź’•đź’•đź’•đź’•


Laura melempar tasnya dengan kasar ke sofa. Dia sangat marah dan kecewa dengan sikap Reyhan barusan. Dia tidak pernah menyangka akan dipermalukan seperti ini. Reyhan menolaknya mentah-mentah demi gadis yang tidak ada apa-apanya dibanding dia. Laura sakit hati. Dia memutuskan pergi dari rumah Reyhan, lalu menemui Adinda di salon untuk mencurahkan isi hatinya pada sahabatnya itu.


“Lho, Laura Kapan kamu pulang dari LN?” tanya Adinda yang duduk ruang kerjanya.


“Tadi pagi,” jawab Laura ketus. “Kamu sedang ngapain, sepertinya sibuk?” Menatap Adinda yang masih fokus pada layar laptopnya, entah sedang melakukan apa.


“Aku lagi ngitung persentase bulan kemarin. Lumayan, omset bulan kemarin naik sepuluh persen," jelasnya sembari tersenyum ke arah Laura. “Kamu habis dari mana, kok kayaknya badmood gitu?”


“Dari rumah Reyhan. Aku kesel banget sama dia,” adu Laura. Dia sudah duduk dengan melipat kedua tangannya. Wajahnya merengut kesal mengingat respons yang Reyhan tunjukkan padanya tadi. Semua tidak seperti yang dia harapkan, jauh dari ekspetasinya selama ini. Awalnya Laura pikir semua akan mudah begitu dia kembali. Reyhan sangat mencintainya, sudah pasti pria itu akan mudah menerimanya kembali. Terlebih mereka sudah memiliki Rangga, pengikat cinta mereka. Namun, kenyataannya kini tidak sejalan. Reyhan sudah menikah lagi, menolak kehadiran dirinya sebagai istri ataupun ibu dari Rangga. Alasannya cuma satu, Diana. Laura mengepalkan kedua tangannya, dia sangat membenci pemilik nama Diana.


Adinda paham apa yang terjadi, dia menghela napas panjang, menutup laptopnya, lalu berjalan mendekati Laura. “Jadi, kamu udah ketemu sama Reyhan?” tanyanya lembut saat mereka sudah duduk di sofa. Adinda mengusap-usap bahu Laura berusaha menenangkannya.


“Iya, barusan.” Laura menghembuskan napas kasar sembari menangkup dahinya dengan kedua tangannya. Kepalanya berdenyut lantaran terlalu emosi.


“Sama Diana juga?” sambung Adinda ragu.


Laura menatap Adinda dengan kedua alis yang saling bertaut. “Jadi, kamu juga udah kenal sama istri baru Reyhan?”

__ADS_1


Adinda mengangguk pelan.


Laura langsung tertawa sinis. “Jadi, kalian berkonspirasi untuk menghianatiku?” Laura berspekulasi sendiri. Dia langsung berdiri dan menatap nyalang pada Adinda.


Adinda mengernyit, lalu menengadah agar bisa menatap Laura. “Siapa maksud kamu?”


“Kamu dan Bella, memangnya siapa lagi!” tuduhnya dengan mata melotot. “Kalian sepakat mendukung Reyhan menceraikanku, lalu menyuruhnya menikahi gadis itu, iya?” cibirnya pedas.


“Kamu salah paham, Laura. Kami tidak melakukan apa-apa.” Adinda membela diri.


"Cih!" Laura tersenyum miring lalu mengaitkan kedua tangannya di depan dada.


“Awalnya juga aku dan Bella sama kagetnya sepertimu.”


Adinda bangkit dari duduknya untuk merangkul bahu Laura. “Percayalah Laura, aku tidak membohongimu. Aku juga baru sekali bertemu Diana.”


“Di mana kalian bertemu? Di pesta pernikahan mereka?” Satu alis Laura terangkat. Seingatnya dia belum pernah membaca berita mengenai pernikahan Reyhan. Jika memang ada pesta sudah pasti banyak wartawan yang meliput dan beritanya pasti sudah dimuat di berbagai majalah bisnis maupun surat kabar.


“Di sini!” jawab Adinda tegas.


"Di sini?" Laura mengernyit.

__ADS_1


“Beberapa bulan lalu Reyhan mengajak Diana melakukan treatment package di sini.”


“Benarkah?” Laura mengepalkan tangannya tanpa sadar. Dadanya semakin bergemuruh hebat. Mendengar dua kata itu saja dia sudah dapat menebak apa yang Reyhan dan Diana lakukan selama treatment. Dia tahu betul bagaimana Reyhan. Di depan umum dia adalah pria yang dingin dan cuek, tetapi tidak jika sedang berduaan dengan istrinya. Pria itu akan berubah romantis dan agresif.


Hati Laura semakin sakit, membayangkan mantan suaminya bermesraan dengan istri barunya di spa Adinda. Rasanya dia tidak ikhlas, dia merasa iri, merasa cemburu pada Diana.


“Mereka tidak menggelar pesta pernikahan Laura, karena itu aku dan Bella tidak tau prihal hubungan mereka.” Adinda masih berusaha menjelaskan. “Setahuku dan Bella, Reyhan tidak pernah dekat dengan wanita manapun setelah kepergianmu. Dia sangat dingin dan cuek.” Adinda menjeda ucapannya untuk mengambil napas sembari melihat ekspresi Laura. “Aku sempat khawatir Reyhan akan menutup hati selama-lamanya. Karena merasa sangat terpukul ditinggal olehmu.”


“Kamu tahu aku meninggalkan Reyhan demi apa dan siapa?”


Adinda hanya mengangguk sembari menepuk bahu Laura.


“Aku tidak mau perjuanganku selama empat tahun berakhir sia-sia.” Laura menegakkan wajahnya.


“Maksud kamu?” Adinda mengerutkan dahinya, mencoba memahami maksud Laura.


“Dari awal Reyhan itu hanya mencintaiku. Aku yakin gadis muda itu hanya pelariannya saja. Reyhan milikku dan selamanya harus menjadi milikku.”


Adinda menggeleng. “Apa yang akan kau lakukan?”


Laura menatap Adinda dengan mata sayunya. Dia menggenggam erat tangan Adinda. Menatap Adinda dengan sorot memelas. “Kamu masih sahabatku, bukan? Lakukan ini untukku ....”

__ADS_1


Adinda menatap wajah sahabatnya itu dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi Laura adalah sahabatnya, dia merasa iba atas apa yang Laura alami sekarang. Laura harus terluka setelah berjuang demi mimpinya. Namun, di sisi lain, menuruti ide gila Laura sama saja dengan dia akan menghancurkan hati wanita lainnya. Wanita yang tidak tahu apa-apa.


❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2