Di Antara Dua Hati

Di Antara Dua Hati
PART. 22


__ADS_3

🌼🌼🍍🌼🌼


Jenny minta Simon mengantarnya ke kantor Bradd, Jenny ingin mengadukan apa yang terjadi padanya tadi pada Bradd.


Tiba di kantor Bradd, Jenny langsung menuju ruangan pria yang sudah menjadi suaminya itu.


"Daddy!"


"Jenny!?" Bradd terperangah melihat Jenny yang sudah berdiri di ambang pintu. Bradd bangun dari duduknya, dihampiri istrinya. Jenny menutup pintu, lalu berdiri menunggu Bradd yang melangkah ke arahnya. Bradd meraih pinggang istrinya, Jenny mendongakan wajah, bibirnya sengaja sedikit dibuka, untuk menunggu Bradd menciumnya. Tapi Bradd hanya mengecup keningnya, ia sengaja ingin menggoda Jenny.


"Daddy!" Jenny menarik tengkuk Bradd, kakinya terpaksa berjinjit, agar bibirnya bisa menggapai bibir Bradd. Jenny memagut bibir Bradd dengan sangat agresif, Bradd mengimbangi keagresifan istrinya. Ia bawa Jenny menuju sofa, dibaringkan Jenny, dengan kepala berbantal lengan sofa.


Perlahan, jemari Bradd bergerak membuka kancing kemeja Jenny. Tapi Jenny menahan tangan Bradd, Bradd melepaskan ciumannya. Tatapannya seakan bertanya ada apa, dan kenapa.


"Aku datang bukan untuk bercinta dengan Daddy. Semalam kita sudah berulang kali melakukannya, bahkan baju tidur hadiahnya belum sempat aku pakai, karena Daddy terlalu bersemangat, singa lapar yang tidak pernah kenyang."


Bradd membangunkan tubuh Jenny, ia dudukan Jenny di atas pangkuannya.


"Lalu, datang ke sini ingin apa, Sayang?" Bradd memasang kembali kancing kemeja Jenny yang tadi sempat ia lepas.


"Wanita itu tadi datang ke kampusku!"


"Wanita itu, Angelica?"


"Hmmm, siapa lagi kalau bukan dia!"


"Dia ingin apa?"


"Aku rasa dia ingin mengatakan tentang siapa Daddy sebenarnya. Dia pikir aku belum tahu kalau Daddy, bukanlah Daddyku. Dia pasti ingin menghasutku dengan menjelek-jelekanmu!"


"Menurutmu, apa aku punya kejelekan?"


"Hmmm, Daddy terlalu ganteng, dan gagah" Jenny mengusap pipi Bradd dengan jemarinya. Bradd tertawa mendengar jawaban istrinya.

__ADS_1


"Apa itu kejelekan, bukan kelebihan, Jenny?"


"Akan terlihat jelek kalau Daddy pakai kegantengan, dan kegagahan Daddy untuk memikat wanita lain!"


Bradd kembali tertawa.


"Kamu sangat pencemburu ya, hmmm apa aku terlihat seperti playboy, tidak bukan?"


"Memang tidak, tapi siapa tahu!"


"Daddy cuma milikmu Jenny, hanya milikmu, percayalah"


"Hmmmm, aku percaya"


"Sekarang lanjutkan ceritamu tentang wanita itu, oke!"


"Hmmmm, aku berdebat dengannya, untung Simon datang, dan menyelamatkan aku dari dia." Jenny menyandarkan kepalanya di atas bahu Bradd. Bradd mendekap tubuh Jenny erat.


"Kita tidak tahu apa yang sedang direncanakannya Jenny, meski kita tahu pasti, tujuannya adalah warisan kakekmu. Jaga dirimu baik-baik, waspadalah selalu, Daddy tidak ingin terjadi sesuatu padamu." Bradd mengusap punggung, dan kepala Jenny perlahan.


"Daddy pikir, kamu perlu bodyguard untuk menjagamu, Jenny."


"Tidak perlu Daddy, aku malu kalau harus dikuntit bodyguard kemanapun. Aku ini hanya Jenny, istri Bradd, buka Tuan putri, atau Sang Ratu istri Raja!"


"Tapi kamu memang Ratu, Ratu di dalam hati Daddy, Ratu di dalam rumah kita, Sayang" Bradd merapikan rambut Jenny yang terjuntai di depan telinga.


"Ya ampun Daddy, ucapan Daddy melambungkan aku ke angkasa!" seru Jenny terdengar sangat senang.


"Mau ya, Daddy sediakan bodyguard untukmu"


"Emhhh, tapi mereka tidak boleh terlihat Daddy, maksudku, mereka hanya mengawasiku dari jauh saja, jangan mendekat kalau tidak dalam keadaan gawat."


"Oke, Daddy setuju," Bradf menganggukan kepala.

__ADS_1


"Huuhh, kenapa dia harus kembali, dan mengusik hidup kita!" Jenny mengangkat kepala dari atas bahu Bradd, ditatap wajah Bradd yang begitu dekat dengan wajahnya.


"Kalau dia tidak datang, mungkin hubungan kita tidak akan ada kemajuan. Daddy tetap Daddymu, kamu tetaplah sebagai putri Daddy, iyakan?"


"Tidak juga!" sahut Jenny cepat.


Bradd mengerutkan kening, ditatap wajah Jenny yang juga tengah menatapnya.


"Apa makna dari tidak juga itu, Jenny?"


"Enghh, seperti yang pernah aku katakan, Eva yang memberitahu aku kalau Daddy bukan Daddyku, sebelum dia meninggal. Emhhh, enghh, sejak itu pandangan, dan perasaanku pada Daddy jadi berubah. Aku jatuh cinta dengan Daddy." Jenny menatap lekat mata Bradd. Bradd pura-pura terkejut, meski ia sendiri nerasakan hal itu, tapi selama ini ia berusaha menepis prasangka itu.


"Lalu?"


"Lalu, enghhh, aku pikir, kalau Daddy tidak juga memahami perasaanku, maka aku akan mengungkapkan perasaanku pada Daddy. Menyimpan sendiri rasa cinta itu tidak enak, Daddy."


Bradd tertawa melihat wajah Jenny yang tampak memelas.


"Jadi, usulanmu agar kita menikah itu benar-benar dari hatimu ya? Jadi pernikahan sandiwara itu hanya untuk di bibir saja, hmmm?" Bradd menjawil puncak hidung Jenny.


"Hanya itu kesempatanku untuk memiliki Daddy, tanpa aku harus mengungkapkan isi hatiku!"


"Gadis pintar, lantas sekarang kenapa kamu ungkapkan?"


"Karena sekarang aku yakin, Daddy juga punya perasaan yang sama denganku, aku betulkan Daddy? Daddy juga mencintaikukan?"


"Daddy pikir-pikir dulu ya," goda Bradd. Padahal tadi sudah sangat jelas, kalau ia menyebut Jenny Ratu di dalam hatinya, tapi Jenny masih bertanya juga.


"Daddy!" Jenny memukul dada Bradd dengan wajah cemberut. Bradd tertawa senang, ia merasa sekarang justru merasa lebih bebas dalam menggoda Jenny, dari pada saat posisi mereka masih sebagai daddy, dan putrinya, candaan mereka mengalir seperti tanpa beban.


"Daddy hanya menggodamu, jangan cemberut begitu!" Bradd mencubit kedua belah pipi Jenny.


"Daddy!" Jenny melingkarkan lengannya di bahu Bradd, ia kembali menyandarkan kepalanya.

__ADS_1


"Bradd!" Pintu terbuka dengan tiba-tiba. Jenny menegakan punggungnya, begitupun dengan Bradd juga. Mereka menoleh ke arah pintu, tampak Angelica berdiri terpaku di sana. Bradd, dan Jenny saling pandang. Perlahan Jenny turun dari atas pangkuan Bradd. Mereka berdua berdiri bersisian, menghadapi tatapan Angelica yang menghujam.


🌼🌼🍍BERSAMBUNG🍍🌼🌼


__ADS_2