
Windu berdiri di depan pintu arah pantai, dari kamarnya. Menatap pantai yang tampak misterius dalam deburannya yang temaram. Sejauh mata memandang laut itu terlihat gelap di bawah pantulan cahaya langit.
Windu menghela nafasnya, di tangannya masih menggenggam handphonenya.
TOK! TOK! TOK!
Sebuah ketukan di pintu, menyadarkan Windu dari kegelisahannya.
Jam di pergelangan tangannya menunjukkan jam 09.30 menit. Sudah cukup malam tapi belum larut. Dia tak punya janji dengan siapapun sehingga ketukan itu tak urung membuat alisnya naik.
Sesaat Windu tercenung, kemudian suara ketukan di pintu itu membuatnya harus menyeret langkahnya untuk membuka pintu.
Saat pintu kamar itu terbuka, Fuji berdiri di sana dalam balutan pakaian warna kuning keemasan, sebuah gaun malam dalam aksen renda yang seingat Windu bukanlah pakaian yang tadi di gunakan Fuji saat mereka menghadiri acara ramah tamah.
Pakaian berwarna kontras itu, membuat Fuji benar-benar terlihat seksi.
"Selamat malam, pak..." Suara Fuji terdengar lirih.
"Ya..." Windu masih berdiri dengan pandangan lekat pada Fuji yang baru kali ini dia merasa sangat berani beradu tatap dengannya.
"Aku mengantarkan materi untuk pak Windu, tadi siang bapak meminta saya untuk mengantarkannya kepada bapak."
"Oh." Windu menjulurkan tangannya hendak meminta map di tangan Fuji, tetapi entah kenapa tiba-tiba map itu terjatuh dari tangan Fuji dan kertas itu tercerai berai di antara kaki mereka.
"Akh, maaf...saya menjatuhkannya." Fuji tampak begitu gugup dan membungkuk, berusaha memungit kertas-kertas itu.
Gerakan Fuji terlihat begitu canggung tapi terkesan sedikit erotik karena posisi itu membuat belahan dadanya menyembul dengan sempurna membuat Windu sesaat jengah dengan apa yang di lihatnya.
__ADS_1
"Biar aku saja." Windu membungkuk mengambilkan selembar kertas di dekat kakinya, bersamaan dengan Fuji berusaha mengambilnya.
Tangan Fuji berada di atas punggung tangan Windu, mereka bertatapan begitu dekat karena Windu terkejut dan sontak mengangkat kepalanya.
"Ah, Maafkan saya, pak..." Wajah Fuji memerah, tapi sangat terlihat dia sengaja melakukannya.
Windu melepaskan kertas itu dan menarik tangannya. Mundur beberapa langkah ke dalam kamar, sementara Fuji melanjutkan mengumpul semua kertas yang jumlahnya sekitar delapan lembar itu.
"Maafkan kecerobohan saya pak, saya jadi mengacaukannya, seharusnya kertas ini saya klip tadi." Ucap Fuji.
Windu tidak menjawab dia merasa sedikit sesak bernafas karena keagresifan yang di tunjukkan asistennya itu.
"Sebenarnya, kamu bisa memberikan padaku saat kita di ballroom..."
"Saya lupa, pak. Karena itu saya kembali ke kamar saya dan mengantarnya untuk bapak sekarang. Saya kuatir bapak perlu memeriksanya kembali" Fuji berjalan masuk tanpa permisi, melangkah dengan gemulai, pinggangnya yang lentur itu membuat gerakan yang bagi lelaki normal mana saja akan sedikit tersihir untuk memandanginya.
Windu menggelengkan kepalanya, membuang pandangannya ke arah pintu yang terbuka sedikit karena terganjal sesuatu, sepertinya bolpoint yang ikut jatuh dari dalam map yang di bawa oleh Fuji.
"Letakkan saja di atas meja." Jawab Windu, berusaha menguasai dirinya kembali, sikap Fuji yang beruntun memang terkesan menggoda dirinya.
Fuji meletakkan map di tangannya di atas meja, kemudian berbalik pada Windu yang berdiri kaku di tengah ruangan.
"Pak Windu, tadi ku lihat bapak tidak makan malam, hanya minum kopi dan makan sepotong cake." Fuji berkata sambil menghampiri Windu, sikapnya tak lagi sekaku sebelumnya.
"Kamu memperhatikanku?" Windu berucap sambil mengepalkan jemarinya, dia tak pernah diperlakukan seorang perempuan dengan begitu berani selama ini. Bahkan Dara, istrinya sekalipun tidak pernah bersikap segenit itu saat menatapnya.
"Saya adalah asisten pak Windu, tentu saja aku memperhatikan bapak." Fuji meringis seperti seekor kucing pada Windu.
"Aku rasa memperhatikan setiap gerak gerikku sudah diluar batas tugasmu, Fuji. Kamu hanya mengurus agenda dan mengatur pertemuan dengan klien atau kolega jika perlu, mengerjakan administrasiku dan mempersiapkan semua..."
__ADS_1
"Saya tahu itu, pak Windu...saya tahu dengan baik tugas itu, tetapi sebagai seorang asisten pribadi bapak tidak ada salahnya saya memperhatikan bapak lebih lagi, bukankah begitu?" Fuji terkekeh, berjalan setengah berjinjit dengan melemparkan kakinya lebih lebar sehingga belahan gaunnya yang ternyata cukup tinggi itu, tersingkap dengan sengaja, paha putih serupa neon itu sesaat terlihat menggoda.
Fuji ternyata cukup mahir untuk mengeksplor keindahan tubuhnya sehingga membuatnya seperti manekin cantik yang sempurna.
"Aku rasa kamu terlalu banyak minum..." Windu hendak berjalan menuju pintu, saat tangan Fuji menahan lengannya.
"Aku hanya minum sedikit, bersama CEO sebuah perusahaan kelapa sawit yang sok tampan itu, dia terang-terangan ingin mendekatiku tetapi aku hanya ingin menghargainya saja, jadi minum dua gelas saja.
Pak Windu jauh lebih tampan dari dia." Seringai Fuji benar-benar mengundang dengan membuat kalimat yang di ucapkannya di akhiri kikik kecil nan manja.
"Fuji, lepaskan tanganku!" Windu menepis tangan Fuji, dengan sedikit risih dan menunjukkan bahwa dia tak nyaman dengan sikap agresif Fuji.
"Pak Windu..." Fuji menatap Windu dengan terkejut, penolakan Windu benar-benar mengejutkannya. Baru kali ini seorang laki-laki menolak untuk di sentuh oleh perempuan secantik dirinya.
"Sebaiknya kamu kembali ke kamarmu, Fuji. Ini sedikit berlebihan. Aku tidak menyukai seseorang yang terlalu agresif."
"Aaaa...apakah aku terlalu agresif? Aku bersedia menurunkan sikapku seperti yang di ingini pal Windu. Sudah tugas saya untuk melakukan apapun yang di sukai oleh bosku." Fuji merangsek dengan sikap manja, hendak mendekati Windu lebih dekat lagi.
"Fuji! Kamu salah paham! Aku tidak memintamu melakukan apapun padaku selain mengurus pekerjaanku! Aku sudah menikah!" Suara Windu sbergetar dan sedikit meninggi, dia mendorong tubuh Fuji, membuat perempuan itu terjajar beberapa langkah
"Kenapa? memangnya kenapa jika pak Windu sudah menikah? Bukankah istri pak Windu tak ada di sini? Dia berada di Jakarta, dan di sini hanya kita berdua. Jangan terlalu kaku, pak Windu...tidak usah bersikap munafik, aku sangat tahu pak Windu berusaha menahan diri saat berhadapan denganku selama ini. Perasaan itu pasti sangat menyiksa, sehingga pak Windu akhirnya memutuskan membawaku tadi pagi dengan mendadak. Bukankah bapak hanya ingin kita berdua di sini?" Kalimat panjang itu di ucapkan oleh Fuji seperti seorang yang kesal.
"Kamu benar-benar salah paham, Fuji. Aku hanya membawamu karena kepentingan profesional, bukan karena aku..."
"Pak Windu, tidak usah berpura-pura lagi, seorang laki-laki tidak apa-apa untuk sedikit nakal, itu normal. Menikmati hidup di sela kesibukan itu menyenangkan, aku akan menjadi kelincimu yang manis..." Fuji mengedipkan matanya sambil meletakkan jari telunjuknya di bibir merahnya, lalu mendekat dengan sikap berani, mengulurkan jemarinya hendak menyentuh dada Windu.
"Lepaskan tangan kotormu dari tubuh suamiku!"
(Nantikan lanjutannya malam ini, yaaaa🤗🤗🤗🤗 yuk, kasih othor kopi biar kuat begadang crazy up😂😂)
__ADS_1
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...
...I love you all❤️...