Di Antara Dua Hati

Di Antara Dua Hati
Bab 146


__ADS_3

Happy reading


đź’•đź’•đź’•đź’•đź’•


Diana menepuk lengan Reyhan. “Kita beneran mau ke villa?” tanyanya berbisik, mengabaikan cibiran Reyhan. “Kenapa masuk hutan-hutan begini?” Menatap cemas keluar jendela. “Tuh, liat bangunannya serem-serem gitu. Itu pasti rumah berhantu yang lama ditinggal pemiliknya.” Menunjuk gerbang-gerbang menjulang tinggi yang banyak ditumbuhi tumbuhan rambat dan pohon-pohon besar yang memiliki akar gantung. Diana bergidik ngeri.


“Tapi kok banyak satpam?” Kali ini menunjuk pria-pria berpakaian satpam yang berdiri didepan gerbang bangunan tadi.


Reyhan terkekeh mendengar ucapan Diana. “Itu bukan rumah hantu Sayang, tapi resort.” Melepaskan cengkraman tangan Diana dengan beralih mendekapnya.


“Resort kok serem gitu?” Mencebik heran.


“Itu bukan serem, tapi seni.”


“Seni apaan, bikin ngeri begitu. Masih terang begini aja udah ngeri lihatnya apalagi malam. Malah di sini sepi lagi gak ada permukiman warga.” Diana bergidik lagi. Sepanjang jalan tadi dia memang tidak melihat satu pun rumah warga di daerah itu.


Reyhan kembali tergelak. “Itulah uniknya resort-resort di sini. Tropis dan homey.” Reyhan memandang lekat Diana. “Apa kamu mau coba menginap di salah satu resort di sini?” Mengerling nakal.


“Enggak, ah." Menggendikkan bahu.


“Lho, kenapa? Cuma tampilan luarnya aja yang seperti itu, tapi dalamnya ya sama mewahnya kayak hotel bintang lima biasanya. Cuma daerah sini lebih tenang lebih damai, cocok buat yang fokus berbulan madu.” Reyhan menarik-turunkan kedua alisnya.


"Ck, dasar omes!" Diana menoyor pipi Reyhan dengan tersenyum geli.


"Tapi villa milik Davin juga gak kalah mewah. Kalau di daerah sini memang sepi jauh dari permukiman penduduk. Karena dulunya ini bekas hutan berbukit. Tuh, liat di sana ...." Reyhan menunjuk ke arah lahan yang terdapat alat berat yang sedang beroperasi menggali tanah bukit.


“Itu mereka ngapain?” tanya Diana.


“Kayaknya bakal dibangun hotel baru.”


“Owhh." Diana melepas dekapan Reyhan. Dia mengambil roti dari kantong belanjaan yang sempat dia beli di bandara tadi. “Mau?” mendekatkan potongan roti ke mulut Reyhan. Reyhan mengigitnya setengah, setengahnya lagi llanjut dimakan Diana. “ Lapar ya,” gumamnya, “sudah hampir siang ini.”


“Kamu mau cari restoran dulu? Tanggung sih sebenarnya, palingan sepuluh menit lagi sampai villa.”


“Ya, udah kita makan di villa aja.” Menggigit roti secara bergantian dengan Reyhan.

__ADS_1


❤️


❤️


❤️


❤️


❤️


Seperti kata Reyhan, tepat sepuluh menit berikutnya mereka tiba di villa milik Davin, teman Reyhan. Begitu turun dari mobil, Diana tidak henti berdecak kagum mengamati villa milik teman Reyhan ini. Villa itu sangat mewah, villa pribadi berlantai dua yang memiliki arsitektur tradisional. Apalagi kata Reyhan villa itu memiliki kolam renang dan private beach. Jadi, dia dan Reyhan bisa bebas menikmati pantai tanpa ada yang menganggu.


“Ayo, masuk!” ajak Reyhan sembari merangkul bahu Diana.


Mereka disambut lima orang penjaga villa, dua pria dan tiga wanita. Mereka saling memperkenalkan diri. Pria yang lebih tua mengaku sebagai tukang kebun, sedangkan yang lebih muda sebagai satpam. Kemudian wanita paruh baya mengaku sebagai tukang masak sedangkan dua wanita yang seumuran dengan Diana mengaku sebagai tukang bersih-bersih.


“Kamar Tuan dan Nona sudah saya siapkan di sebelah sana, sesuai perintah Tuan Davin.” Wanita yang paling tua menunjuk kamar yang menghadap langsung kolam renang dan pantai. “Makanannya juga sudah saya siapkan di meja makan, Tuan.”


“Oya, terima kasih Bik,” jawab Reyhan. “Kamu mau langsung makan apa mandi dulu?” Beralih pada Diana.


“Okelah kalau begitu.”


“Mari Tuan dan Nona, saya antar.” Wanita paruh baya menuntun mereka menuju meja makan. Sementara sopir tadi menyerahkan koper mereka kepada wanita yang seumuran dengan Diana untuk dibawa ke kamar mereka.


“Silahkan Tuan dan Nona dinikmati makanannya,” ucap pelayan itu sopan.


“Makasih Bik,” jawab Diana.


“Sama-sama Nona, kalau perlu apa-apa panggil saya saja.”


“Baik Bik,” jawabnya lagi.


“Kalau begitu saya permisi,” pamit pelayan itu pada Diana dan Reyhan.


Diana dan Reyhan mengangguk. Setelah wanita paruh baya itu berlalu, Diana mulai mengambilkan makanan untuk Reyhan.

__ADS_1


"Makasih, Sayang." Reyhan tersenyum manis.


Baru mereka menyantap makanannya, tiba-tiba ponselnya berdering. Diana menatap Reyhan, bibirnya bergerak mengucapkan kata 'siapa' tanpa suara.


“Halo, Vin."


'Davin', Reyhan menjawab Diana tanpa suara.


'Owh' , Diana membalas tanpa suara juga.


“....” terdengar sahutan di seberang.


“Iya, kami baru sampai di villamu.”


“...."


“Iya, kami sedang makan sekarang.”


“....”


“Owh, ya?”


“....”


“Baiklah, nanti malam aku dan istriku ke sana.”


“....”


“Ok, thanks ya, Vin.” Reyhan menutup telponnya setelah pembicaraan mereka selesai.


“Ada apa?” tanya Diana sambil mengunyah makanannya.


Reyhan tidak menjawab, dia hanya tersenyum simpul kemudian memasukkan makanan ke mulutnya.


❤️❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2