Di Antara Dua Hati

Di Antara Dua Hati
Bab 162


__ADS_3

Happy reading


đź’•đź’•đź’•đź’•đź’•


Sekarang di sinilah Jonathan, di dalam ruangan VIP sebuah kelab malam. Dia terduduk dengan memegangi pipi bekas tamparan mantan kekasihnya itu. Dia tidak pernah menyangka Laura akan kembali lagi, padahal dulunya saat berencana kabur meninggalkan Reyhan dan Rangga, Laura sudah berkata tidak akan kembali lagi pada Reyhan. Selama bersama Reyhan, Laura merasa terkekang, dia bagaikan burung di sangkar emas. Karena itu Laura meminta bantuan Jonathan agar memuluskan jalannya untuk kabur sehingga, dia bisa bebas meraih mimpinya.


Jonathan tahu betul mimpi Laura dan dia sudah berjanji akan selalu mendukungnya. Termasuk saat itu, saat Laura bercerita mendapat kontrak untuk berkarir di negara yang sangat dia impikan. Laura merasa itu adalah kesempatan langka baginya. Laura menyadari kalau Reyhan pasti tidak mengijinkan. Karena itu dia berencana pergi diam-diam dan mendesak Jonathan untuk membantunya.


Rasa cinta Jonathan pada Laura, mengalahkan akal sehatnya sehingga, menyetujui ucapan Laura saat itu. Meskipun dia tahu yang dia lakukan adalah kesalahan besar. Reyhan akan membunuhnya jika mengetahui kebenaran itu. Akan tetapi, saat itu yang terpenting bagi Jonathan adalah kebahagiaan Laura.


Namun, setelah melihat keadaan Reyhan akibat kepergian Laura, dia menjadi merasa bersalah. Jonathan taju yang Reyhan rasakan saat itu sama seperti yang dia rasakan sewaktu Laura juga meninggalkannya demi menikah dengan Reyhan. Jonathan tidak bermaksud membalas dendam pada Reyhan, tetapi yang terpenting bagi Jonathan saat itu adalah kebahagiaan Laura.


Kini gadis yang masih dia cintai itu kembali datang dan memohon bantuannya. Menguji kesetiannya kembali pada Reyhan. Membuat Jonathan kembali merasa terombang ambing.


Jonathan membuang napas kasar, dia menengadah menatap langit-langit ruangan itu dengan pikiran berkecamuk.


Ponsel di saku Jonathan tiba-tiba bergetar. Jonathan merogok saku jasnya, lalu mengusap layar ponsel. Pesan masuk dari Reyhan.


[Lakukan yang terbaik Jo, kali ini aku tidak ingin kehilangan lagi.]


Jonathan membaca pesan itu, lalu meletakkan punggung tangannya di atas dahi. Dia memejamkan mata, sembari terus berpikir. Kali ini dia akan tetap setia dengan cintanya atau tuannya yang sudah membuat hidupnya bisa seperti sekarang ini?


❤️


❤️


❤️


❤️


❤️


Ddrrtttt! Ddrrtttt! Ddrrrttttt!


Ponsel Diana di atas nakas terus bergetar. Diana yang menyadari hal itu, segera membuka mata dan berniat bangun mengambil ponselnya. Namun, lengan Reyhan yang melingkar di perutnya menghalangi niat Diana. Dia berniat mengangkat dan memindahkan lengan Reyhan, tetapi seperti biasa, pria itu malah mengeratkan pelukannya.


“Mau ke mana?” gumam Reyhan dengan mata yang masih terpejam. Suara terdengar parau.


Diana mengusap rambut Reyhan. “Aku mau ambil ponselku By, bunyi terus dari tadi.” Berusaha bangkit dari tidurnya.


“Siapa yang nelpon pagi-pagi begini? Selingkuhanmu, ya?”


“Iya, mungkin,” jawab Diana asal.


Reyhan sontak membuka mata, menatap Diana. “Beneran itu selingkuhanmu?” Nadanya meninggi.


Diana tergelak untuk sesaat. “Mana mungkin aku punya selingkuhan, By.” usap-usap pipi Reyhan. “Suamiku sudah sangat tampan, untuk apa cari selingkuhan.”

__ADS_1


“Kalau begitu tidur lagi.” Kembali menarik tubuh Diana untuk berbaring di sebelahnya. Kemudian, melingkarkan kembali tangannya ke perut Diana.


“Eh, aku mau lihat dulu siapa yang nelpon, siapa tau penting. Lagian ini sudah pagi By, sudah waktunya aku bikin sarapan.” Mengecup pipi Reyhan sebelum bangkit dan berusaha menjangkau ponselnya.


Dia duduk bersandar pada leher kasur kemudian mengusap layar ponselnya dan melihat dua panggilan tidak terjawab dari Siska.


“Siapa?” Reyhan menatapnya bingung.


“Siska, apa aku boleh menelponnya balik?”


“Hm,” gumam Reyhan seraya memejamkan mata kembali.


“Ada apa ya Siska tumben nelpon pagi-pagi begini?” gumam Diana sembari mendial nomor Siska. Tak berapa lama terdengar sahutan dari seberang.


“Sorry tadi gue masih tidur, ada apa? Tumben nelpon sepagi ini.”


“Gue kangen ma loe, kita ngopi-ngopi cantik, yuk?”


“Emm ... coba entar gue minta ijin dulu sama Tuan Reyhan.” Melirik Reyhan yang masih memejamkan mata.


“Oh, oke deh. Semoga dapat ijin, banyak hal yang pengen gue ceritain ke loe.” Siska terkekeh pelan.


“Hm, gue harap begitu.”


"Ya, udah, buruan minta ijin sana. Jam sepuluh ya, Di."


Diana segera mematikan ponselnya begitu pembicaraan selesai. Dia membungkuk ke arah Reyhan.


“Hubby,” panggilnya lembut sembari mengusap-usap pipi Reyhan.


“Hm,” jawab Reyhan malas.


“Siska ngajak aku ketemuan di kafe boleh, gak?” tanyanya takut-takut.


“Gak boleh!” tegas Reyhan.


Diana mencebik. “Sebentar saja By, kita sudah lama gak ketemu.”


“Lama? Baru juga satu minggu,” cibirnya.


“Issh, kamu, nih.”


Reyhan mengulum senyum sembari menggenggam jemari Diana yang tadinya dipakai mengusap pipinya. “Memangnya kalian ngapain ketemuan?” mendongak menatap Diana.


“Ya, kita mau ngomong-ngomong aja, cerita-cerita ala cewek." Diana mengecup pipi Reyhan, mencoba merayu.


Reyhan meraih tengkuk Diana. “Aku gak mau cuma dapat kecupan pagi ini." Sudut bibirnya tersungging sebelah.

__ADS_1


Sesaat tubuh Diana menegang lantaran kaget dengan serangan tiba-tiba Reyhan. Namun, detik berikutnya dia rileks kembali dan mulai membalas ciuman suaminya. Tangan Reyhan mulai meraih kancing piyama, tetapi segera dihentikan Diana.


“Jangan sekarang By,” ucapnya setelah berhasil lepas dari ciuman Reyhan. Reyhan menatapnya kecewa. “Aku harus bantuin mama bikin sarapan. Kamu juga harus ke kantor.”


“Sebentar saja,” bujuk Reyhan.


Diana menggeleng. “Enggak! Sebentarmu itu dua jam.” Reyhan mengulum senyum. “Udah, aku mau turun dulu.” Mendorong pelan bahu Reyhan.


“Ibu,” panggil Rangga saat Diana sudah turun dari ranjang.


Diana dan Reyhan tersenyum ke arah Rangga. “Eh, anak ibu sudah bangun rupanya. Sini, kita cari suster Lala terus mandi.” Mengulurkan tangan untuk mengendong Rangga yang merangkak ke arahnya. “Kita turun dulu, ya."


Reyhan hanya mengangguk, kemudian masuk ke kamar mandi saat Diana sudah keluar dan menutup pintu kamar.


Sementara Diana menuju kamar Rangga mencari Lala. “La, kamu tolong mandiin Rangga dulu ya, aku mau ke bawah siapin sarapan.”


“Baik, Nona.” Mengambil alih Rangga dari gendongan Diana.


“Sayang, kamu mandi sama suster ya, ibu mau bantuin Oma siapin sarapan.”


“Ia, Bu,” jawab Rangga patuh.


Diana mengecup pipi gembul Rangga sebelum berlalu menuju dapur.


“Pagi Ma, pagi Bik,” sapanya pada Soraya dan Bik Sumi saat sudah sampai di dapur.


“Pagi juga,” balas Soraya yang memindahkan makanan ke meja makan.


“Pagi juga Non,” jawab Bi Sumi yang membantu Soraya memindahkan makanan dan menyiapkan piring di atas meja.


“Sudah selesai ya, Ma?” Diana mengedarkan pandangannya ke seluruh makanan yang sudah terhidang di meja makan.


“Sudah, Sayang."


“Yah, maaf ya Ma, aku gak sempat bantuin.”


“Gak apa-apa Sayang, kamu habis dari perjalanan jauh pasti masih capek." Soraya mengusap lengan Diana. "Gimana urusan Rangga?” sambungnya begitu Diana sudah duduk.


Wajah Diana seketika berubah lesu. “Lagi diurus sama Sekretaris Jonathan.” Soraya mengangguk. “Aku takut Ma,” ujarnya cemas.


“Takut apa?” Soraya mengerutkan kening.


“Takut kalau Laura berhasil menang di pengadilan dan mengambil Rangga.”


Soraya menghela napas dalam. “Gak akan bisa, Sayang. Dia sudah meninggalkan Rangga dari bayi. Itu artinya dia sudah kehilangan hak dan kewajibannya sebagai seorang ibu.”


“Tapi Rangga masih di bawah umur dan Laura adalah ibu yang telah melahirkannya.”

__ADS_1


❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2