
Happy reading
đź’•đź’•đź’•đź’•đź’•
Dua puluh tahun berlalu ....
Dua puluh tahun yang sangat panjang. Diana menghabiskan waktu dua puluh tahun itu dengan menyibukkan diri mengurus restoran milik Bayu yang terletak di luar kota. Jauh dari kota yang dia tempati sebelumnya bersama Reyhan.
Diana akui, waktu dua puluh tahun ini dia gunakan untuk berlari, berlari dari masalah yang dia ciptakan sendiri. Kecelakaan Rangga membuatnya panik, kalut, cemas berkepanjangan. Ditambah dengan ucapan Laura saat itu yang mengguncang Diana. Menyakitkan, tetapi memang benar menurut Diana. Bayangkan, bagaimana jika saat itu tidak ada Laura? Bagaimana jika Laura tidak memiliki golongan darah yang sama? Bagaimana? Bagaimana keadaan Rangga? Diana tidak pernah sanggup untuk membayangkannya dan tentu tidak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri jika hal buruk itu harus terjadi.
Laura benar, dia adalah ibu yang ceroboh, ibu yang tidak berguna untuk Rangga. Dia tidak bisa melakukan apa pun di saat Rangga sangat membutuhkan pertolongan. Rangga membutuhkan seorang ibu dan ibunya telah kembali. Jadi, untuk apa dia masih bersama Rangga? Pergi. Menjauh. Hanya itu yang terlintas di benak Diana saat itu.
"Reyhan tidak menikah lagi dengan Laura, Diana," ungkap Bella setelah menyesap teh dan meletakkan cangkirnya kembali ke meja. Mereka sudah berada di ruang tengah rumah Diana. Menikmati teh hangat sembari berkisah tentang perjalanan panjang selama dua puluh tahun ini.
"Lalu anak laki-laki yang aku lihat bersama Laura—"
"Ben? Dia anak kedua Laura, tapi dengan Jonathan." Bella terkekeh kecil melihat wajah terkejut Diana.
Ya, sebelum pertemuannya dengan Reyhan di restoran miliknya kemarin, Diana sempat memergoki Reyhan dan Laura di mall bersama anak laki-laki sekitar umur sepuluh tahun. Saat itu juga Diana pikir mereka sudah menikah kembali.
"Sebenarnya Jonathan dan Laura sudah lebih dulu saling mengenal sebelum Laura menikah dengan Reyhan. Mereka satu sekolah. Jadi, ya ... gitu deh." Bella mengedikkan kedua bahu.
Diana mengangguk paham.
"Reyhan sangat mencintaimu."
Diana mengangkat kedua alisnya menatap Bella.
"Dia tidak berniat menikah kembali dengan Laura ataupun wanita lainnya."
Diana tertegun sejenak. "Sampai sekarang Reyhan belum menikah lagi?"
__ADS_1
Bella menghela napas seraya mengangguk, sebagai jawaban dari pertanyaan Diana yang seharusnya tidak perlu dijawab lagi. "Dia sangat terpukul karena kepergianmu yang tiba-tiba dan tanpa sebab. Dia hampir gila karena tidak berhasil menemukanmu di mana pun. Sampai akhirnya dia mendapat informasi dari salah satu rumah sakit yang menyatakan kamu hamil. Reyhan sangat marah dan kecewa, dia mengira kamu menghianatinya. Dia pikir kamu menikah dengan Bayu dan Cinta adalah putri kalian." Bella menggeleng seraya tersenyum mengejek, menyadari betapa bodohnya Reyhan waktu itu.
"Aku tidak pernah menikah dengan Bayu. Yang menikah dengan Bayu itu—"
"Ya, aku tahu." Bella yang hendak menyesap tehnya harus menahan tawa menyadari kekonyolan ini. Dua orang dewasa yang bersikap seperti ABG labil, memilih menghindar dan lari dari masalah. Masih saling menginginkan, tetapi gengsi untuk mengakui lebih dulu.
Seandainya Reyhan berani mendekati Diana pada waktu itu, mungkin kebenaran sudah terungkap. Sehingga, cerita Rangga dan Cinta tidak akan berakhir seperti hari ini. Sayangnya, Reyhan terlalu takut, takut hatinya tidak kuat menerima kenyataan jika Diana sudah menjadi milik Bayu.
"Ternyata semua ini hanya salah paham."
"Salah paham apa?"
Tawa Bella terhenti lantaran suara bariton yang terdengar dari ambang pintu. Dia dan Diana secara bersamaan mengalihkan pandangan ke pintu. Reyhan sudah berdiri tegap di sana dengan wibawa dan sorot mata mengintimidasi seperti biasa.
"Rey—han." Diana berdiri perlahan, menatap Reyhan takut-takut. Dia harus menelan ludahnya dengan susah payah untuk mengurangi rasa gugupnya. Kehadiran Reyhan dengan tatapan dingin itu seketika membuat tengkuknya meremang. Berbagai pikiran buruk berkecamuk dalam benak Diana sekarang. Apa yang akan Reyhan lakukan? Mungkinkah dia akan berkata kasar seperti beberapa waktu lalu? Tidak. Dia sudah mengetahui siapa Cinta. Atau, pria itu datang untuk membawa Cinta? Memisahkannya dengan Cinta?
Reyhan menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan sampai sesak-sesak di dada membaik. Tidak dapat Reyhan pungkiri, bertemu dengan Diana merupakan kesulitan terbesar untuknya. Perasaannya sulit dikendalikan atau lebih tepatnya seluruh indera dalam tubuhnya sulit dikuasai dengan benar.
Diana harus tahu betapa Reyhan melewati kesulitan besar di waktu pertemuan pertama mereka di restoran. Reyhan harus bersikap tenang, bersikap tidak peduli, meski tubuhnya sangat ingin membawa Diana dalam rengkuhannya. Benar, Reyhan sangat merindukan Diana. Dia ingin mendekap Diana dan berjanji tidak akan melepaskannya lagi jika wanita itu berkata 'iya'.
Diana harus menelan ludah, sebuah gumpalan sesak seolah menahan di tenggorokan ketika Reyhan berdehem pelan dan berjalan mendekatinya. Diana harus menyeret kakinya mundur selangkah saat Reyhan melangkah semakin dekat.
Apa yang akan dia lakukan? Memaki, menampar?
Ya, Diana memang bersalah, Diana memang pantas mendapatkannya. Dia sudah menghalangi hak Reyhan atas Cinta.
Namun, semua ketakutannya menjadi tak berarti ketika Reyhan sudah berada dalam jarak yang lebih dekat lagi. Satu tangan Reyhan terangkat mengusap pipi Diana, turun ke dagu, mengangkatnya perlahan. Sementara tangan satunya meraih pinggang. Merapatkan tubuh Diana ke tubuhnya.
Demi Tuhan, Diana hanya bisa diam saat wajah Reyhan bergerak mendekat perlahan. Begitu perlahan seolah memberi ruang untuk Diana menolak atau menghindar jika enggan. Namun, kenyataannya Diana tetap diam sampai bibir itu menyentuh dengan lembut dan perlahan.
"Aku merindukanmu," gumam Reyhan dengan suara terdengar parau.
__ADS_1
Diana mengerjap perlahan. Dadanya bergemuruh saat mendengar ungkapan Reyhan, seolah menyetujui, mengiyakan jika, dia memiliki rindu yang sama, rindu yang serupa. Jadi, saat tangan Reyhan menarik pinggangnya, menekan agar lebih merapat, Diana membalas dengan uluran lengan yang melingkar ke punggung Reyhan.
Diana mengenalinya, ciuman itu. Tidak terburu-buru, lembut, tetapi memabukkan. Hal yang selama dua puluh tahun ini tidak pernah lagi menyapanya. Hanya Reyhan.
"Ehem! Ehem!" Deheman berulang Bella menyadarkan Reyhan dan Diana jika masih ada orang selain mereka di ruangan itu.
Diana segera menjauhkan wajahnya dari wajah Reyhan. Dia menoleh ke arah Bella yang duduk di sofa sembari menangkup keningnya, enggan menatap mereka.
Apa yang mereka barusan lakukan? Umur mereka sudah tidak muda lagi, harusnya mereka lebih bisa menahan diri, 'kan? Nyatanya rasa rindu yang terpendam puluhan tahun, mematahkan segala logika yang ada.
"Be—Bella, kami ...."
"Sebaiknya aku pulang, kalian lanjutkan saja," sela Bella dengan tertawa mencibir.
Wajah Diana memanas. Dia bergerak menjauhi Reyhan. "Bella—." Diana melirik Reyhan seolah meminta bantuan Reyhan untuk menghalangi niat Bella. Namun, laki-laki malah bersikap tak acuh dengan mengedikkan bahu dan duduk begitu saja di sofa.
Diana mendekati Bella, mencoba menahannya. "Tunggu Bel, kau akan pulang dengan siapa? Bukankah mobilnya dibawa Rangga."
Bella memutar bola mata ke atas. "Aku bisa pulang dengan Sekretaris Jonathan. Rey, bukankah kau datang dengan Sekretaris Jonathan?" Bella beralih menatap Reyhan yang duduk dengan santainya.
"Iya, Jonathan ada di depan."
"Baiklah Diana, Reyhan, aku pulang. Enjoy your time," goda Bella dengan terkekeh geli.
Semburat merah terlihat di wajah Diana. Lihatlah, dia sungguh menggelikan seperti ABG yang pertama kali berkencan.
"Setidaknya kau tunggu sampai Cinta dan Rangga datang. Cinta harus tahu kau itu tantenya." Diana menatap Bella penuh harap, berbeda dengan Reyhan. Dahi pria itu mengernyit semakin dalam. Dia baru sadar jika putra dan putrinya itu sedang tidak bersama mereka sekarang. Sekejap Reyhan merenung, memikirkan perasaan Rangga dan Cinta setelah mengetahui dalam tubuh mereka mengalir darah yang sama.
"Ke mana Rangga dan Cinta?"
❤️❤️❤️❤️❤️
__ADS_1
Yang sudah baca "Bukan Salah Cinta" tahu dong ya ke mana Rangga membawa Cinta. Yuk, bantu jawabđź¤