Di Antara Dua Hati

Di Antara Dua Hati
Bab 179


__ADS_3

Happy reading


💕💕💕💕💕


Di bawah langit sore, tampak seorang wanita tengah duduk di bangku yang letaknya di bawah pohon ketapang di pinggir pantai. Netranya jauh memandang ke laut lepas, menyaksikan deburan ombak yang berlomba menyerbu bibir pantai. Orang-orang tampak sudah mulai berdatangan dan berkumpul di bawah-bawah pohon. Mereka bersiap menyaksikan keindahan langit matahari terbenam.


“Sabar ya Sayang, beberapa bulan lagi kamu akan bisa melihat keindahan ini juga.” Wanita itu tersenyum sembari mengelus perutnya yang nampak sudah membuncit.


Senyumnya melebar saat bulatan kuning bergerak turun di ufuk barak. Langit semakin lama berubah dramatis. Langit berubah warna, terlihat begitu indah dengan warnanya yang menjingga. Namun, di detik berikutnya senyuman itu perlahan lenyap dan dia mulai menitikkan air mata.


“Maafkan aku tuan.” Wanita itu bergumam lirih. Pemandangan matahari terbenam mengingatkannya kembali akan kenangan dia bersama suaminya, ketika mereka berbulan madu beberapa bulan lalu.


“Aku terpaksa melakukan ini, demi kebaikan Rangga dan juga Anda.” Wajahnya bertambah muram. Pandangannya mulai berkabut, seiring genangan air yang semakin banyak berkumpul di kelopak matanya.


"Dari awal hubungan kita dimulai dengan cara yang tidak baik, mungkin ini adalah hukuman." Setitik butiran bening mulai menetes, semakin lama semakin banyak. Seolah berlomba, kini wajahnya sudah basah akan cairan bening yang mengalir semakin deras.


Di tengah larut dalam kesedihan, tanpa dia sadari seorang pria sudah berdiri di sampingnya, menyelimuti bahunya dengan jas besar milik pria itu. Wanita itu mendongak.


“Bayu.” Bibirnya menyunggingkan senyum tipis.


Bayu tersenyum, lalu duduk di sebelahnya. “Di, sedang apa di sini? Menangis lagi?” Menyusut air mata Diana dengan jarinya.


“Tidak, aku hanya ingin melihat sunset,” elak Diana.


“Ini apa?” Menunjuk bekas air mata di telunjuknya.


Diana terkekeh pelan. “Hehe, sedikit.”


Bayu menatap Diana dan menggenggam tangannya. “Apa kamu masih belum bisa melupakannya?”


Diana menunduk lemah. “Aku akan terus berusaha Bay,” ucapnya lirih.


Bayu mengusap rambut Diana sayang. “Sebaiknya kita pulang, angin malam di pantai tidak baik untuk kesehatan ibu hamil dan calon bayinya.” Bayu tersenyum tulus yang dijawab anggukan oleh Diana.


Mereka berjalan beriringan. Bayu merangkul bahu Diana saat mereka melangkah meninggalkan tempat itu.


Tanpa mereka ketahui dari kejauhan, seorang pria tengah mengawasi mereka sejak tadi. Pria itu mengepalkan tangannya, lalu menghantam batang pohon di sebelah tempatnya berdiri.


❤️


❤️


❤️


❤️


❤️


Dua puluh tahun kemudian ....


Dalam ruangan yang dibisingkan oleh dentuman musik DJ yang berdengung hebat, mau tidak mau orang-orang yang berada di dalam ruangan itu menggerakkan kepala dan tubuh mereka mengikuti dentuman musik.


Begitu juga dengan gerombolan pemuda yang duduk di meja bartender, mereka menggerak-gerakkan kepala sembari menikmati minumannya.


"Sial!" umpat seorang pemuda yang baru datang dan langsung bergabung dengan mereka. Pemuda itu langsung meneguk minuman yang ada di atas meja tanpa permisi pada pemiliknya. Ada sensasi rasa terbakar pada tenggorokannya setelah meneguk minuman itu.


"Woi, punya gue!" salak temannya.


"Buset! Pelit amat, minta dikit doang," jawab pemuda itu santai.


"Kenapa loe kok kayak bete gitu?" tanya salah seorang dari pemuda yang duduk di meja bartender.

__ADS_1


"Motor gue kalah, brengsek!" umpatnya lagi.


"Hahaaaa." Teman-temannya tertawa bersamaan.


"Jadi, motor Adipati kalah sama motor loe, Arga?" tanya salah seorang pada pemuda yang datang bersamaan dengan pemuda yang dipanggil Adipati itu.


"Ya, begitulah." Pemuda yang dipanggil Arga itu tersenyum bangga sembari meneguk minumannya.


"Berarti taruhannya jadi, dong?" ujar pemuda tadi bersemangat. "Wahh, harus diabadikan ini. Kapan lagi kita bisa menghukum seorang Adipati Rangga Wijaya?"


Semua pemuda yang ada di sana tertawa, kecuali pemuda yang dipanggil Adipati itu. Dia sangat kesal walaupun ini adalah kekalahan pertamanya. Kini dia harus menerima konsekuensi dari taruhan yang dia buat sendiri.


"Nah, loe udah siap belum terima hukuman?" Salah seorang temannya kali ini berbicara dengan setengah berteriak karena suaranya nyaris tertelan dentuman musik yang semakin keras dipadu dentingan gelas-gelas yang saling beradu.


"Apa?" jawab Adipati malas.


Temannya itu tersenyum miring lalu menunjuk ke arah pintu masuk, "Loe liat, 'kan, pintu itu?"


"Hm," jawab Adipati yang sudah fokus menatap pintu masuk.


"Loe jalan ke sana, terus loe harus nyium bibir siapa pun yang berdiri terakhir kali di pintu itu!" kata temannya sembari terkekeh geli. "Selama satu menit!" imbuhnya dengan mengacungkan jari telunjuk.


Glekkk!


Adipati menelan ludahnya sendiri, dia bisa melihat dengan jelas siapa yang berdiri di pintu itu sekarang. Seorang pria! Oh, no! Tidak mungkin Adipati mencium pria itu. Apa nanti yang akan dipikirkan pria yang tidak di kenalnya itu? Apalagi kalau para gadis melihatnya, bisa-bisa kejantanannya akan dipertanyakan.


"Buset! Laki itu Ar," protesnya pada Arga.


Namun, Arga malah tersenyum penuh kemenangan. "Justru di situ gregetnya." Arga terkekeh geli. Begitu juga dengan teman-temannya. Mereka sudah siap dengan kamera ponsel masing-masing. Seperti biasa yang kalah taruhan akan direkam saat menerima hukuman, lalu videonya akan diposting di akun sosmed grup mereka.


"Udah buruan!" Arga mendorong pelan bahu Adipati. "Gue udah gak sabar melihat seorang Adipati, Sang Casanova mencium seorang pria," kelakarnya.


Meskipun dengan berat hati, Adipati tetap berjalan mendekati pintu masuk kelab. Ciuman jelas bukan hal sulit bagi Adipati, mengingat julukan badboy yang disematkan para gadis padanya. Dia bahkan terkadang melakukan hal lebih daripada itu dengan gadis-gadis yang dekat dengannya. Namun, kali ini yang dia cium adalah seorang pria dan di depan umum. Dam*ned! Ini akan benar-benar merusak citranya.


Adipati terus berjalan seraya berdoa dalam hati, semoga pria yang berdiri di sana akan pergi dan diganti oleh seorang gadis ketika dia sampai di sana. Namun, sampai jaraknya sudah semakin dekat, pria itu masih berdiri di sana sembari memainkan ponselnya.


Adipati menyerah, mungkin ini memang kesialan yang harus dia terima. Lima langkah lagi dia akan sampai, begitulah batinnya menghitung. Dia memejamkan mata, untuk menutupi rasa malunya pada pria yang akan diciumnya.


Satu,


Dua,


Tiga,


Empat,


Lima,


Kini lima langkah itu telah dia lalui. Tanpa membuka mata, dengan gesit dia meraih tengkuk orang di hadapannya lalu meng*lum bibirnya. Dia bisa merasakan orang yang dia cium menegang, tetapi bukan itu yang membuatnya merasa aneh.


Bibir orang itu terasa manis. Hampir sama. Ah, tidak! Lebih manis dari bibir gadis-gadis yang biasa Adipati cium. No! Apa dia sudah tidak waras? Menganggap ciuman dengan pria terasa lebih manis daripada ciuman dengan gadis?


Seolah sudah menjadi candu bagi Adipati, tanpa sadar dia mel*mat bibir itu pelan. Dia menikmati ciuman itu. Oh, God! Dia sudah benar-benar tidak normal sekarang! Tiba tiba ....


Plakkk!


Sebuah tamparan keras melayang di wajah tampan Adipati. Membuatnya tersadar dan sontak menghentikan ciumannya. Dia membuka mata dan membelalak kaget saat melihat siapa yang berdiri di hadapannya.


Seorang gadis mengenakan tas ransel di punggungnya, dengan rambut diikat kucir kuda. Gadis itu terlihat melotot marah.


Tunggu, ke mana pria tadi? Apa gadis ini yang dicium Adipati barusan? Pantas saja rasa bibirnya ....

__ADS_1


Gadis itu menarik kerah kaos Adipati. "Dasar kurang ajar! Beraninya kau menciumku! Pria m*sum! Pria tidak tau malu!" umpat gadis itu dengan setengah berteriak.


Adipati hanya membisu, tiba-tiba saja dia merasa kehabisan kata-kata. Dia hanya memandang wajah gadis yang sedang menarik kaosnya. Wajah mereka hanya berjarak beberapa senti, dia terus memperhatikan bibir mungil yang terus mengumpatnya. Tanpa dia tahu gadis itu mengumpat apa karena kini dia disibukkan dengan pikirannya sendiri.


Apa bibir itu yang tadi kucium? batinnya.


Sekelebat ingatannya kembali pada ciuman tadi. Tanpa sadar dia tersenyum-senyum sendiri.


"Hehh! Kenapa senyum-senyum?" umpatan gadis itu mengembalikan kesadaran Adipati.


"Jangan bilang kamu lagi mikir me*sum tentangku, ya!" Melepas cengkramannya di kerah kaos Adipati dengan kasar dan reflek menyilangkan tangannya di depan dada.


Adipati semakin tersenyum geli melihat tingkahnya. "Adipati." Mengulurkan tangannya.


Gadis itu mengerutkan dahi, dia melirik sekilas tangan yang terulur padanya. "Idih, siapa juga yang mau kenalan sama cowok m*sum kayak kamu," jawabnya sinis.


Adipati menarik tangannya kembali, dia semakin tersenyum lebar menatap gadis yang memberinya tatapan sinis.


"Loh, Kak Cinta sudah datang?" sapa seorang gadis yang terlihat lebih muda dari mereka.


Gadis yang dipanggil Cinta itu lalu tersenyum ke arah gadis yang memanggilnya tadi. Double damn untuk Adipati, Cinta tersenyum memperlihatkan dimples di kedua pipinya. Demi apa? Adipati melihat itu, dia melihat lesung pipi itu dan ... dia semakin terpesona.


Dia sangat manis!


"Cika, kamu kenapa ada di tempat beginian? Kalau ayah tau dia akan memarahimu." Senyumnya tadi berubah menjadi cemas.


"Tenang Kak, aku tadi hanya menemui temanku sebentar, ayah tidak akan tau," jawab gadis itu santai. "Kak Cinta kapan datang? Apa ibu Kak Cinta juga ikut?"


"Sudah, nanti kita bicara di mobil. Di sini berisik, orang-orangnya pada m*sum!" Cinta melirik sinis ke arah Adipati.


"Apa Kakak sudah beli kue ulang tahun untuk ayah?"


"Sudah, dong, Ayah Bayu itu kesayanganku."


"Ih, dia itu ayahku!" sungut gadis yang dipanggil Cika.


"Aku yang lebih dulu lahir, jadi aku yang lebih dulu memanggilnya ayah." Cinta menggodanya. "Ayo, kita pulang. Ayah dan ibu sudah lama menunggu," ajaknya.


Mereka beranjak dari tempat itu tanpa menoleh ke arah Adipati yang masih terus memandangi mereka. Terutama gadis berlesung pipi yang dipanggil Cinta itu. Entah kenapa kekalahannya kali ini justru membuatnya merasa menang karena menempatnya pada insiden ciuman tadi.


Cinta! Gadis yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama. Oh, ya? Benarkah? Benarkah seorang Adipati Rangga Wijaya bisa jatuh cinta? Bukankah selama ini, para gadis yang bersamanya hanya boneka barbie? Namun, saat melihat Cinta, apalagi tamparannya, membuat Cinta terlihat berbeda. Biasanya para gadis dengan senang hati menawarkan dirinya, tetapi Cinta langsung menamparnya padahal, mereka hanya berciuman sebentar.


Adipati meng*lum senyum sembari memegang pipinya yang ditampar Cinta tadi.


Cinta, i will get you!


❤️❤️❤️❤️❤️


Yuhuuu, gimana-gimana, bingung ya? Mau tahu kelanjutan Reyhan dan Diana, sabar...


Kita lanjut next bab ya😊 tapi jempol jangan lupa🤗


Sebelum lanjut kenalan dulu sama Rangga dan Cinta



Kisah mereka ada di sini nih, yang mampir dijamin gak nyesel😍



Yuk, mampir yuk. Aku tunggu jempol kalian.

__ADS_1


__ADS_2