
Happy reading
đź’•đź’•đź’•đź’•đź’•
Diana masih duduk di kursi tunggu, air mata masih terus mengalir di pipinya. Dia mencakup kedua telapak tangannya di depan wajah dengan terus mengucap doa dalam hati.
Sementara Laura sibuk mondar-mandir di depan Diana sambil menggigit jari telunjukknya. Mulutnya terus komat-kamit memaki kebodohan Diana hingga akhirnya pintu UGD terbuka. Seorang perawat pria keluar dari balik pintu. Diana dan Laura bergegas menghampiri perawat itu.
“Bagaimana keadaan putra saya?” tanya Diana dan Laura berbarengan.
Perawat itu mengernyit bingung. “Apa kalian keluarga pasien atas nama Adipati Rangga Wijaya?”
“Saya ibunya,” jawab Diana dan Laura berbarengan lagi dengan menunjuk diri mereka masing-masing.
Laura melempar tatapan sinis pada Diana, membuat Diana segera menyadari posisinya.
“Iya, dia ibunya,” ungkap Diana lemah seraya menunjuk Laura. Laura adalah ibu kandung Rangga, kenyataan yang tidak bisa Diana sangkal.
“Saya ibunya. Bagaimana keadaan putra saya?” tanya Laura cemas.
Perawat itu menatap serius Laura. “Begini Nyonya, putra Nyonya mengalami cedera yang parah di bagian kepala ...,” kata perawat itu tegang.
“Apa?” pekik Diana dan Laura bersamaan. “Lalu bagaimana keadaannya sekarang?” mereka semakin panik.
“Kondisinya saat ini kritis, dokter rencananya akan melakukan operasi secepatnya. Jadi, pasien membutuhkan donor darah saat ini juga. Sayangnya stok darah O negatif kami sedang kosong. Kami juga sudah menghubungi PMI, tapi stoknya kosong juga. Apa di antara kalian memiliki golongan darah yang sama? Mengingat golongan darah O negatif memang langka dan hanya bisa menerima transfusi dari golongan darah yang sama.” Perawat itu menjelaskan dengan detail dan dengan nada yang khawatir. Dia juga takut jika di antara mereka tidak memiliki golongan darah yang sama dengan pasien.
“Jika tidak, kalian secepatnya menghubungi keluarga atau orang yang mempunyai golongan darah yang sama. Pasien harus segera dioperasi!” imbuhnya.
Tangis Diana seketika pecah, mengingat golongan darahnya jelas berbeda dengan Rangga, apalagi dengan keluarganya. Dia ingin menghubungi Reyhan, tetapi lagi-lagi dia hanya bisa mengutuk dirinya karena meninggalkan ponselnya dan tidak menghafal nomor Reyhan. Begitu juga dengan nomor Jonathan, orang penting yang harus dia hubungi setelah Reyhan. Apa yang harus dia lakukan sekarang? Diana sangat frustasi.
Tuhan! Kenapa kau biarkan Rangga yang harus mengalami semua ini? Kenapa bukan aku saja? Kenapa bukan aku? teriak batinnya.
__ADS_1
Aku ikhlas menggantikannya, Tuhan.
“Golongan darah saya O negatif, ambillah sebanyak yang kalian mau,” ucap Laura di tengah rasa frustasi yang mendera Diana.
“Baiklah kalau begitu saya kabari dokter dulu,” jawab perawat itu lega dan bergegas masuk ke dalam ruangan tadi.
Diana menatap Laura dengan mata bercahaya, dia berusaha meraih tangan Laura. “Makasih Laura, aku sangat baha ....”
“Cihhh, aku melakukan ini demi putraku.” Laura menepis tangan Diana. “Rangga itu putraku! Sudah pasti di tubuhnya mengalir darah yang sama denganku. Aku ibu yang mengandung dan melahirkannya. Memangnya kamu, mengaku sebagai ibunya, tapi tidak berguna sama sekali saat dibutuhkan,” sindirnya pedas.
Ucapan Laura memang menyakitkan, tetapi Diana tidak mau ambil hati semua itu sekarang. Yang terpenting baginya Rangga sudah mendapat pendonor darah. Setidaknya dia merasa sedikit lega sekarang.
“Sekarang lebih baik sadarkan dirimu, masihkah kau merasa lebih pantas menjadi ibunya Rangga dan tetap berada di sisinya. Sementara jelas-jelas kau tidak ada gunanya di saat Rangga sangat membutuhkan pertolongan. Pikirkan jika hari ini aku tidak ada di sini, apa yang akan terjadi pada Rangga? Apakah dengan menyebut dirimu sebagai ibu dari Rangga, bisa menyelamatkan nyawanya?"
Perkataan Laura kali ini benar-benar menohok diri Diana. Membuatnya tertegun dan tidak sanggup membalas ucapan Laura. Diana membeku, bibirnya terkatup rapat. Dia merasa apa yang diucapkan Laura sangatlah benar. Dia memang tidak pantas disebut sebagai ibunya Rangga. Dia tidak pantas mendampingi Rangga. Dia tidak berguna di saat Rangga sangat membutuhkannya.
Wajah Diana menjadi pias, tubuhnya gemetar, kedua kakinya rasanya sudah tidak mampu menopang berat tubuhnya. Dia merosot, terduduk lemas di kursi tunggu.
Sudut bibir Laura tersungging sebelah. Dia tersenyum sinis melihat kondisi Diana yang terpuruk karena ucapannya barusan.
“Ayo, Nyonya ikut saya. Kita adakan pengecekan dulu.” Perawat yang tadi keluar lagi dan memanggil Laura.
Laura mengangguk, sekejap dia melirik Diana. “Setelah ini aku masih ingin bicara penting denganmu," ujar Laura sebelum menghilang di balik pintu.
Reyhan bergegas menuju rumah sakit setelah mendapat kabar dari Jonathan tiga hari yang lalu. Tepatnya saat dirinya baru tiba di negara tempat tinggal Jimmy. Dia menyerahkan sepenuhnya urusan papanya di sana kepada Bella dan Jimmy, setelah itu langsung terbang kembali ke kotanya. Tanpa beristirahat dulu dia langsung menyuruh Jonathan mengantarnya ke rumah sakit tempat Rangga dirawat. Reyhan sudah sangat gelisah dan cemas saat mendengar kabar Rangga kecelakaan, ditambah lagi Diana tidak bisa dihubungi selama tiga hari ini. Dia bertanya pada Jonathan, tetapi pria itu selalu berusaha menghindar untuk memberinya jawaban prihal Diana.
Kini Reyhan sudah sampai di rumah sakit. Jonathan langsung mengantarnya menuju ruang perawatan Rangga.
“Kondisi Tuan Muda sudah membaik Tuan, masa kritisnya sudah lewat. Hari ini dokter akan memindahkan Tuan Muda ke ruang perawatan,” jelas Jonathan saat mereka melewati lorong rumah sakit.
“Apa Diana yang menunggui Rangga di rumah sakit?”
__ADS_1
Jonathan menggaruk alisnya yang tiba-tiba gatal. “Ehem, Tuan sebaiknya kita naik lift saja biar lebih cepat sampai,” ucap Jonathan mengalihkan perhatian Reyhan. Dia memencet tombol lift.
Ting!
“Itu aku juga tau. Memangnya siapa yang mau menaiki tangga sampai lantai lima,” cibir Reyhan begitu melihat Jonathan menekan angka lima. Dia merasakan ada yang janggal dengan Jonathan, seperti ada yang ditutupi mengenai Diana. Namun, Reyhan menghela napas, mencoba bersabar. Lagi pula sebentar lagi mereka akan bertemu.
Ting!
Pintu lift terbuka lagi saat mereka sudah mencapai lantai lima. Jonathan menuntun Reyhan menuju ruangan VVIP, tempat Rangga dirawat. Jonathan membuka pintu, seorang pria bertubuh kekar langsung berdiri tegap dan mengangguk hormat begitu Reyhan muncul.
“Reyhan,” seru Laura yang tadinya duduk di sebelah ranjang Rangga. Dia langsung berdiri menghampiri Reyhan dan bermaksud memeluknya.
Namun, Jonathan lebih dulu mengahalau Laura. Seketika tindakan Jonathan itu menghentikan niat Laura.
Reyhan mengernyit, kedua alisnya saling bertaut. Lalu, mendengkus kesal, mengalihkan pandangannya ke arah Jonathan. “Kenapa wanita ini masih kau biarkan berkeliaran di sekitarku? Apa kau sudah tidak ingin bekerja denganku lagi?” Manik elangnya menyorot tajam.
“Ma—maaf Tuan, tapi ....”
“Jangan salahkan Jonathan, dia sudah melakukan tugasnya dengan benar,” sela Laura yang memberikan pembelaan untuk Jonathan.
“Apa maksudnya ini, Jo?” Reyhan meneleng, menatap Jonathan dengan mengabaikan ucapan Laura.
“Begini Tuan, saat itu Tuan Muda membutuhkan donor darah, tapi stok darah yang sama di rumah sakit ini kosong. Hanya Laura yang memiliki golongan darah sama dan bisa mendonorkan darahnya untuk Tuan Muda.” Jonathan menunduk, sedangkan Laura tersenyum bangga mendengar penjelasan Jonathan. Dia yakin setelah ini Reyhan akan merasa berhutang budi padanya. Sehingga, dia akan merubah sikap dinginnya dan menerima Laura kembali.
Reyhan memasukkan kedua tangan ke dalam saku celananya. Pandangannya lurus ke depan. “Oh, ya? Kalau begitu berikan dia cek kosong, suruh dia menulis seberapa banyak yang dia inginkan. Berikan itu sebagai pengganti rasa terima kasihku padanya,” perintah Reyhan tanpa melirik Laura sama sekali.
“Apa maksudmu, Rey?” tanya Laura tidak mengerti.
“Cihh! Sudahlah Laura, aku tau apa yang kamu inginkan. Bukankah demi itu juga kamu dulu meninggalkan kami?” cibir Reyhan. “Sekarang beri tahu aku di mana Diana? Aku merindukannya.”
“Kamu tidak akan menemukannya di sini. Wanita sudah kabur. Dia menghilang setelah membuat Rangga menjadi seperti ini,” adu Laura.
__ADS_1
Reyhan mengeram, kemudian meraih kerah kemeja Jonathan dengan kasar. “Katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi? Di mana Diana?” desisnya pelan.
Jonathan hanya menunduk, tidak berani membalas tatapan Reyhan. “Maafkan saya Tuan, Nona menghilang."