Di Antara Dua Hati

Di Antara Dua Hati
BAB 81 LARON TERJEBAK CAHAYA


__ADS_3

"Aku juga mencintaimu, kak Win..." Bisik Dara, di sela kecupannya itu.


Windu menyambut bibir Dara, menyesapnya dengan khidmat, ciuman itu terasa begitu nikmat saat di antarkan dengan kata cinta yang tulus.


Ketika Dara menegakkan lagi tubuhnya, Windu merasa candu untuk menikmati bibir sang istri.


Dia seperti laron yang terjebak cahaya, mengikuti wajah Dara tanpa di beri aba-aba. Dengan tanpa membiarkan Dara menunggu, dia bangun dari pangkuan Dara, merengkuh tubuh sang istri, mengejar bibir hangat yang memabukkannya itu.


Perlakuan bersemangat Windu memaksa bibir Dara terbuka, sementara Windu mel*m@tnya dengan nafas memburu. Dara memejamkan matanya dengan pasrah, dia tahu dalam posisi apapun sekarang dia juga sedang mengharapkan cumb*@n Windu itu berlanjut.


"Sayang, aku mencintaimu...aku mencintaimu dengan sangat..."Bisik Windu, tapi dia sendiri tak bisa diam mengejar wajah sang istri.


Dua orang itu larut sejenak dibuai gairah, di atas sofa, lupa hari sedang di jelang sore.


Tangan Windu merayap ke sana kemari, tidak lagi perlahan tapi sangat bersemangat.


"Aku ingin kita segera memiliki bayi..." Tiba-tiba Windu berucap di sela nafasnya yang tersengal.


Dara tersenyum mendengarnya, dibelainya pipi Windu dengan lembut.


"Aku juga ingin punya bayi, kak Win...aku akan segera memberimu seorang bayi." Dara menganggukkan kepalanya sambil menangkupkan kedua telapak tangannya pada pipi.


"Aku mau bayi laki-laki yang montok dan tampan."


"Aku akan memberikanmu tidak hanya satu tapi dua..."


"Hah! Benarkah? bayi bisa sistem request begitu? boleh dua, tiga?"


"Tentu saja, tapi jika Allah mengizinkan..." Dara tertawa, senang rasanya melihat sang suami yang sangat di cintainya itu melotot girang sesaat kemudian mulutnya melengkung setelahnya dalam mimik yang lucu karena kesal.


"Kukira bisa di request sesuai keinginan." Seloroh Windu.

__ADS_1


"Ini bukan menu di warung padang, kak Win sayang..." Dara tergelak manja.


"Tapi yang pasti, aku harus gencar tanam saham supaya bayinya cepat jadi." Windu memeluk Dara dan menarik bahu dress yang di kenakan istrinya itu.


Dara menggeliat, seakan ingin melepaskan diri. Tapi Windu menahan pinggang Dara, mengaitnya dengan erat.


"Kita bikin bayi, ya..." Bujuk Windu pada sang istri.


"Ini masih sore, kak Win sayang."


"Tak ada yang melarang bercinta sore-sore..."


"Nanti malam saja."


"Aku mau sekarang."


"Tapi..."


"Astaga, Kak Win...tadi kan' Kak Win bilang sedang pusing?"


"Sekarang bertambah pusing."


"Lalu harus bagaimana?"


"Obatnya cuma kamu." Windu membaringkan Dara di atas sepray, kemudian naik dan menindih istrinya itu sambil menjelajahi wajah sampai leher Dara dengan bibirnya, membuat Dara menggelinjang tak karuan.


"Kak Win...ugh...Kak Win..." Hanya itu yang keluar dari mulut Dara, tak ada kata lain.


Mendengar namanya di panggil dalam des@h membuat Windu semakin menjadi-jadi. Tiap jengkal tubuh Dara ditelusurinya dengan jemarinya dari lekuk hingga ceruk, di ciuminya tanpa jeda.


Di kepalanya tak bisa di tahan lagi, sejuta keinginan untuk memiliki buah hati bersama sang istri. Dua atau tiga anak tentu saja akan meramaikan rumah mereka yang besar ini, tawa para bocah yang menyambut kedatangannya di pintu akan membuat hidupnya sempurna.

__ADS_1


Pakaian Dara kusut masai, sebagian sudah melorot dari bahu dengan kancing yang terbuka di beberapa tempat membuat dada Dara terbuka menggoda.


"Sayang...bagaimana sekarang, kamu masih ingin menolak suamimu ini." Windu terkekeh nakal.


Dara menggelengkan kepalanya malu-malu, perutnya terasa menegang saat telapak tangan Windu menempel di pangkal pahanya.


"Kamu semakin cantik jika melotot begitu." Windu tertawa senang.


"Ugh..." Wajah Darah berubah merah, tangannya menggenggam pergelangan tangan Windu.


"Kamu tak sabar lagi sepertinya." Windu menyeringai.


"Kak Win..."


"Ya..."


"Kak Win...sakit." Mata Dara mendelik, memegang perutnya dengan wajah merah yang hampir membiru.


"Kamu kenapa?" Windu menatap Dara dengan bimbang, dia sedang meneliti wajah Dara, apakah istrinya itu sedang serius ataukah hanya sedang bermain-main dengannya.


"Sakit sekali." Dara merintih, kedua tangannya mendekap perutnya.


"Sakit? Sakit kenapa?" Windu sekarang mulai panik, dia ketakutan sendiri melihat Dara yang seperti sedang menahan sakit yang amat sangat.



(kehidupan selalu ada pasang surutnya, bukan jalan jika selalu rata, bukan hidup jika tak berliku. Andai ada cobaan, biarlah akan membuktikan sebesar apa cinta mereka melewatinya😅☺️☺️☺️)


...Terimakasih sudah membaca novel ini❤️...


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...

__ADS_1


...I love you all❤️...


__ADS_2