Di Antara Dua Hati

Di Antara Dua Hati
BAB 104. BULAN MADU IMPIAN


__ADS_3

"Jadi, dari tadi pagi kamu memang tahu akan memyusulku kemari?" Tanya Windu tercengang pada sang istri.


Dara menganggukkan kepalanya.


"Papa bilang, tak usah bilang Kak Win, siapa tahu nanti tak di perbolehkan dokter, ternyata usia kandunganku sudah menginjak trimester kedua dan kesehatanku juga memungkinkan untuk melakukan perjalanan menggunakan pesawat. Jadi, selepas siang tadi aku dan papa berangkat kemari. Sebenarnya aku berharap Fuji tidak melakukan itu..." Dara menggigit bibirnya.


"Tapi kenapa kamu menyuruhku membawa Fuji jika sebenarnya kamu takut Fuji akan mencoba merayu suamimu ini?" Goda Windu.


"Karena..." Dara menatap mata suaminya itu sesaat.


"Aku percaya, kak Windu tidak akan benar-benar meladeninya, aku percaya kak Windu tidak akan mengkhianatiku, aku percaya kak Windu tak akan mau jika aku kabur lagi...jadi andaipun aku tak datang malam ini, aku sebenarnya percaya sepenuhnya pada kak Windu bahwa kak Windu akan menolak Fuji, bahkan lebih keras dari apa yang kulakukan tadi." Dara tersenyum lebar pada Windu.


"Aish...istriku ini memang sudah mengenalku luar dalam, aku juga tak akan membiarkan perempuan itu menyentuh tubuh suci milik istriku ini, hanya saja sebelum aku memukulnya, ku sudah mendahuluinya. Padahal selisih sepersekian detik dari seharusnya aku melemparnya dari kamarku." Windu terkekeh riang, melihat mata Dara yang berbinar menatapnya seolah terkagum-kagum dengan sang suami.


"Kak Windu tidak sedang merayuky kan?" Dara melotot polos pada Windu


"Kamu tidak perlu rayuan, sayang...kamu tak pernah mempan untuk di rayu." Windu memeluk Dara dengan gemas, dia tak lernah bosan melihat istrinya itu saat bermanja padanya.


"Tahu kah kamu, aku lebih takut jika aku membuat kesalahan yang bisa membuatmu kabur lagi dariku, aku takut kali ini kamu akan pergi sekolah lagi untuk menghindariku dan mengambil S-2 dengan anakku di perutmu. Aku tidak sanggup menjagamu kuliah lagi sambil mengasuh bayi kita." Windu tergelak, membuat Dara tersipu malu, mengingat kelakuannya yang pernah lari dari rumah karena pertengkaran mereka.


"Jangan mengungkit masalah itu." Dara mencubit pinggang Windu.


"Sayang, kamu belum mandi?" Windu mencium kepala Dara dengan sikap lucu.


"Ya, kapan mandinya, orang baru datang..." Dara mengomel dengan bibir manyun.


Dan Windu tak melewatkan kesempatan itu untuk *****@* bibir Dara yang menggoda.


"Ah...kak Win asal sosor saja." Dara mendorong tubuh Windu dengan wajah pura-pura masam.


"Kamu tidak bawa baju ke sini?" Tanya Windu sambil melotot pada Dara, menyadari bahwa istrinya itu masuk tanpa membawa apapun.


"Tentu saja bawa, kopernya ku tinggal di kamar Mbak Parmi di lantai dua."


Jawab Dara.


"Hah, kamu juga membawa mbak Parmi?" Windu menatap Dara dengan mimik lucu.

__ADS_1


"Aku juga membawa Fitri..."


"Astaga, sayang...kamu membawa orang serumahan kemari?" tanya Windu.


"Hanya empat dengan abang bodyguard yang kamu suruh untuk jadi ekorku kemana saja itu, kalau serumahan berarti 10 orang, dengan mas Koki dan pak sopir, dengan..."


"Ya..ya...aku mengerti. Sudahlah, tak perlu mengabsen mereka, sekarang pergilah mandi dulu biar segar aku akan mengambil kopermu di kamar mbak Parmi."


Dara menyebutkan nomor kamar mbak Parmi dan Fitri sebelum masuk ke kamar mandi.


Sekitar dua puluh menit Dara keluar dari kamar mandi dan mendaoati sang suami sudah duduk di pinggir tempat tidur seperti seseorang yang menunggu show.


"Kak Win sudah datang..." Dara merapikan piyama handuknya, rambutnya yang masih setenfah basah setelah di keringkannya nampak begitu eksotis.


"Aku hanya mengambil kopermu." Windu menunjuk sebuah koper di samping tempat tidur yang di dudukinya.


"Oh..."


"Sayang, kamu cantik sekali..." Windu perlahan berdiri menarik pinggang Dara, entah mengapa dia terbakar gairah melihat penampilan sang istri.


"Aku senang kamu datang kemari..."


"Benarkah?"


"Aku selalu ingin berdua denganmu, Aku selalu ingin membawamu berbulan madu, untuk menggantikan kenangan buruk malam pengantin kita di masa lalu." Desah Windu.


"Aku sudah tak mengingat lagi tentang itu." Tukas Dara sambil mendonggakkan kepalanya pada Windu, bibirnya yang terbuka itu begitu basah dan merona segar seolah sedang menunggu Windu mengulvmnya.


"Aku sering berharap kita menghabiskan beberapa malam berdua di pinggir pantai, bercinta sampai pagi, dengan dilatari suara deburan ombak. Pasti sangat indah dan menyenangkan."


"Kak Windu suka berfantasi yang berlebihan." Dara merengut lucu.


"Aku serius..." Windu menangkup pipi Dara dengan kedua tangannya lalu perlahan menurunkan kepalanya, menunduk mendekati wajah istrinya yang tak berkedip menatap padanya.


"Apakah kamu menginginkan hal yang sama?" Windu berbisik lembut. Desah nafasnya menerpa kulit wajah Dara.


Dara tak menyahut tapi dia tidak menggeleng atau memberi isyarat apapun.

__ADS_1


Dengan sangat perlahan Windu mengecup bibir Dara, tanpa suara sama sekali. Tapi membuat Dara merinding karena lembutnya.


"Aku mencintaimu, sayang...aku mencintaimu." Windu melepaskan kecupan itu dengan tatapan sendu.


"Aku juga...mencintaimu, kak Win..." Ucap Dara serak, kemudian memejamkan matanya, seolah sedang menunggu ciuman lain yang akan memabukkannya.


Windu tersenyum kecil kemudian bibirnya menciumi mata yang terpejam itu.


"Aku akan menjagamu, Daraku..." Windu berucap lembut lalu mennurunkan bibirnya menyusuri batang hidung Dara yang bangir, singgah di bibir istrinya yang tipis tapi hangat itu.


Mulut Windu menyesap bibir Dara seperti es krim yang segera meleleh, Dara yang awalnya terlihat pasrah tiba-tiba membalas ciuman Windu.


Tangan Windu merayap turun menarik kerah piyama handuk Dara. Dalam sekejap piyama itu melorot terlepas dari tubuh Dara.


"Ugh..." Windu menelan salivanya, memandangi pemandangan indah di depannya. Meski Dara dalam keadaan hamil 4 bulan tapi penampilannya sangat sempurna.


Kulitnya yang mulus terawat seperti pualam, dengan lekuk yang masih begitu menawan. Dadanya padat kencang, khas perempuan hamil, benar-benar membuatnya sangat indah dan menggairahkan.


"Aku selalu menyukaimu..." Windu menyentuh kulit Dara dengan jemarinya, menyusuri kulit istrinya dengan ujung-ujung jarinya.


Dara sedikit meringkuk sambil menggigit bibirnya, dan Windu selalu tahu Dara tak perlu berkata apa-apa, jika dia menggigit bibirnya, itu adalah bahasa tubuh yang sangat di kenal Windu kalau Dara menginginkan Windu terus melakukannya.


"Sayang, bagaimana jika kita bercinta sekarang?" Bisik Windu di telinga Dara.


"Kak Win..." Dara menggeliat sambil memanggil nama Windu dengan lirih.


"Anginnya sangat dingin..." Bisiknya pada Windu, dia tak mengenakan apapun, angin dari pantai masuk lewat sela-sela pintu yang terbuka sedikit ke arah pantai.


Windu mendekap tubuh Dara, menggesekkan badannya ke tubuh Dara yang tak mengenakan sehelai benangpun, lalu menariknya ketempat tidur dan membaringkannya perlahan di atas sepray putih.


(Emmmm.....Akhirnya akak UP lg malam inišŸ˜… Tarik nafas dulu ya sambil menunggu lemparan bunga, kopi, vote atau apalah untuk membuat akak semangat crazy UP lagi malam ini🤣🤣🤣🤣)



...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...


...I love you allā¤ļø...

__ADS_1


__ADS_2