
Matahari terasa terik membakar kulit. Bisingnya kendaraan yang berlalu lalang, tidak meruntuhkan tekadnya untuk melaksanakan tugas yang diberikan sang Bos kepadanya, yaitu mencari seorang tukang ojek cantik dan manis itu.
Setiap sudut Ibukota ia telusuri hanya untuk mencari satu gadis yang bahkan wajahnya tidak pernah dilihat sebelumnya.
Perintah konyol Khanza mengharuskan Vincent menguras otak dan tenaganya hanya demi mencari gadis khayalan menurut dirinya.
"Haish, bocah itu. Kenapa dia harus terobsesi sama gadis machan sih? Nggak ada gadis lain apa selain tukang ojek?" gerutu kesal Vincent yang hanya ditanggapi senyum oleh supir pribadi Khanza yang bernama Andri.
Andri berdehem memperingatkan Vincent bahwa dia mendengar kekesalannya kepada sang Bos.
"Apa lihat-lihat? Kamu mau laporan sama si bocah konyol itu!" bentak Vincent dan Andri hanya tersenyum meledek.
"Di depan si Bos kamu selalu bersikap dingin dan kaku, tapi di belakangnya ... kamu tetap menjadi sahabat sejatinya!" ledek Andri.
Vincent melempar tatapan tajam ke arah supir pribadi Khanza tersebut. "Jangan banyak ngomong kamu, Ndri!" ketus Vincent. "Haish, kita udah berkeliling ke sana-kemari, tapi gak ada tanda-tanda gadis yang di maksud si konyol itu!" keluh Vincent lagi.
Keluhan Vincent sedikit menggelitik hati Andri hingga ia pun melajukan mobil ke arah komplek perumahan. Siapa tahu gadis yang sedang dicari mereka ternyata ada di area tersebut.
Hasil tidak mengkhianati usaha. Tidak jauh dari posisi mereka ada sebuah pangkalan ojek dan ternyata ada satu gadis yang sedang duduk termenung sendirian. Vincent mengikuti arah tunjukan jari Andri yang mengarah kepada gadis tersebut.
Entah dia tukang ojek cantik itu ataukah dia seorang penumpang yang sedang menunggu supir ojeknya.
Tidak lama kemudian, beberapa tukang ojek lainnya datang menghampiri gadis itu. Tapi, si gadis tidak naik ojek sama sekali, melainkan malah asyik mengobrol dan bercanda ria.
Mungkinkah gadis itu!
Vincent dan Andri terlihat diam memperhatikan gadis yang sedang duduk bersama para supir ojek tersebut dari kejauhan. "Sepertinya dia yang Bos cari," gumam Andri
Vincent terlihat membuka pintu mobil. "Kamu pergi saja sekarang! Aku akan mengurusnya, dan tunggu perintahku selanjutnya!" Ia kemudian turun setelah berkata kepada Andri.
__ADS_1
Tanpa bertanya lagi, Andri melajukan mobil meninggalkan Vincent yang minta diturunkan di warung pengkolan sebrang pangkalan ojek tempat Kayla dan yang lain mangkal.
Vincent duduk di bangku depan warung setelah memesan minuman kepada pemilik warung, alih-alih menumpang duduk sambil memperhatikan Kayla dari kejauhan.
Kayla yang tampak banyak diam, seolah bukan gadis yang sedang dicari. Hati Vincent menjadi ragu, namun sesuatu menggelitik untuk melakukan sesuatu saat melihat tingkah salah satu tukang ojek memperlakukan Kayla dengan tidak adil.
"Kesel juga ya ama orang kayak dia!" gumam Vincent masih dengan pengawasannya.
Karena sudah tidak sabar, Vincent pun turun tangan untuk bertindak menegakkan keadilan untuk si tukang ojek cantik itu. Pria tampan itu menghampiri Kayla yang termenung dengan menundukkan kepala dan wajah yang ditutupi telapak tangannya.
Vincent meminta Kayla untuk mengantarnya pulang alih-alih menjadi penumpang ojek. "Persetan dengan titah Khanza yang mencari gadis machan itu. Kalaupun gadis ini bukan gadis yang dicarinya, setidaknya aku bisa membantu dia untuk mendapatkan uang!" tekad Vincent.
Dengan hati-hati, Kayla menjalankan si kuda besi miliknya untuk mengantar penumpang sampai tujuan yang diinginkan dan fokus menatap jalan supaya tidak terjadi kecelakaan. Dengan sabarnya Kayla menuruti ke mana Vincent meminta diantar walaupun ia hanya berputar-putar mengelilingi jalanan Ibukota sebelum mengajak Kayla ke tempat yang diperintahkan Khanza.
• • •
Sebuah mension mewah berada jauh dari keramaian Ibukota menjadi tujuan Vincent saat ini. Sesuai perintah Khanza, Vincent membawa Kayla ke tempat tersebut.
Mata Kayla tidak berhenti berkedip saat melihat sekeliling mension yang tumbuhi pepohonan. Bunga bermekaran di taman, lengkap dengan ayunan. Senyum gadis itu pun terukir saat kelinci putih terlihat melompat-lompat di taman samping.
"Waaahh, tempat ini indah sekali ya!" seru Kayla dengan mata berbinar.
Vincent hanya diam dengan ekspresi datarnya tanpa memperdulikan kekaguman Kayla akan rumah pribadi Khanza.
Khanza memang penyuka tanaman dan juga hewan. Maka dari itu, rumahnya sengaja jauh dari pusat kota karena ingin leluasa memelihara apa yang menjadi hobinya.
Motor matic Kayla berhenti tepat di halaman depan rumah megah tersebut. Vincent langsung turun dari atas motor tersebut, namun sial kakinya malah tersandung kerikil yang mengakibatkan tubuhnya limbung terhuyung ke depan dengan wajah yang terkejut_terlihat sangat konyol.
"Eh!"
__ADS_1
Kayla terjingkat kaget saat menoleh ke belakang dan mendapati wajah konyol Vincent tepat berada di hadapannya. "Weleeeehh!" Gadis itu memundurkan wajah saking terkejutnya.
Malu bukan kepalang. Cowok cool macam Vincent harus menampakkan kekonyolan di hadapan gadis yang baru ia kenal. "Astaga!" bergegas pria itu berdiri dan kembali memasang ekspresi wajah datarnya sambil berdehem menetralkan suasana. "Ekhem!"
Kayla menahan tawa melipat bibir ke dalam supaya tidak tergelak di hadapan Vincent.
Melihat Kayla menahan tawa, Vincent bergegas masuk untuk menghindari gadis itu dan memberitahu Khanza bahwa dia sudah kembali dengan membawa gadis yang ia cari.
"Silahkan tunggu di teras!" ucapnya sebelum benar-benar pergi.
"Eh, kenapa harus nunggu? Aku langsung pulang aja, Mas! Hei, Mas ... Ongkosnya ... Haish, pria itu!" Kayla kesal terhadap penumpang tersebut, namun ia tidak bisa menahan tawa mengingat kejadian barusan. Sepeninggalan Vincent, ia terbahak geli sampai perutnya sakit karena tertawa. "Hahahaha ... ada juga tingkah konyol si pria dingin itu. Aku kira pria seperti dia nggak bakal melakukan kesalahan! Hahaha ... kocak abis tuh mukanya," celetuk Kayla masih dengan tawa renyahnya.
Vincent sendiri tidak mendengar cibiran yang dilayangkan Kayla untuknya, sebab dirinya sudah keburu masuk ke dalam rumah mewah tersebut untuk mencari sosok si Bos.
Langkah kaki jenjang Vincent terus mengayun menyusuri setiap penjuru ruangan, tapi tetap tidak menemukan sosok yang sedang dicarinya saat ini sampai terdengar suara jeritan dari luar.
"Aaarrghh!" jeritan Kayla memekik terdengar menggema membuat orang menutup telinga.
Vincent berlari setelah mendengar jeritan dari gadis yang dibawanya tadi.
Langkah kaki jenjang itu bergegas menuruni tangga menuju ruang tengah sampai bagian depan rumah mewah milik bosnya itu.
Di luar, terlihat Kayla yang sedang menutupi wajah dengan kedua telapak tangannya.
Pandangan Vincent beralih ke arah berlawanan yang memperlihatkan seorang pria bule sedang berdiri dengan bertelanjang dada. Keringat bercucuran dari pelipisnya hingga membasahi tubuh. Mungkin, pria bule itu habis berolahraga.
"Ngapain kamu di sini?" tanya Vincent menatap wajah si bule.
Pria bule itu menatap sinis ke arah Vincent. "Cih, aku berhak tinggal di sini sebab ini rumah kekasihku!" sahutnya arogan membuat Vincent sangat geram.
__ADS_1
Vincent maju menutupi pandangan Edward dari Kayla. Dia tahu jika si bule itu terus menatap gadis yang dibawanya atas perintah Khanza, kekasih Edward. "Kenakan pakaian kamu, Bung! Di sini bukan Jerman yang bebas berkeliaran dengan telanjang dada seperti itu," tegasnya membuat Edward mengerang kesal.
...Bersambung ......