
"Jenny, apa kamu tidak sadar, kalau kamu itu sudah dewasa, tidak pantas lagi bermanja seperti itu!" Angelica menatap Jenny tajam.
Jenny mendongakan wajah ke arah Bradd.
"Apa Daddy keberatan, aku bermanja pada Daddy?"
"Tentu saja tidak, Jenny." Bradd menjawab pertanyaan Jenny diiringi senyum di bibirnya.
"Daddyku saja tidak keberatan, kenapa anda harus keberatan, Nyonya?" Jenny membalas tatapan tajam Angelica.
"Bradd, harusnya kamu tidak lagi memanjakannya seperti ini!"
"Siapa yang mengharuskan, Angelica? Aku akan melakukan apa yang aku mau, dan akan memberikan apapun yang Jenny mau. Tidak ada yang berhak melarangku melakukan itu."
"Kita harus bicara, Bradd."
"Apa lagi yang ingin kamu bicarakan, Angelica?"
"Jenny sebaiknya kamu pulang, aku ingin bicara berdua dengan Bradd!"
"Katakan saja di hadapan Jenny, Angelica. Dia sudah cukup dewasa untuk mendengarkan pembicaraan kita," sahut Bradd dengan tetap terlihat tenang. Mata Angelica melebar mendengar ucapan Bradd.
"Kamu yakin, mengijinkan dia mendengarkan semuanya, Bradd? Ingat Bradd, ada rahasia yang masih kita simpan!"
Bradd menatap Angelica, lalu menatap Jenny. Digenggamnya jemari Jenny lembut. Jenny kembali mendongakan wajahnya untuk menatap Bradd.
"Sayang, kamu ingin pulang sekarang, atau ingin tetap di sini untuk mendengarkan dia bicara?" tanya Bradd pada Jenny.
"Ummm, aku ingin pulang saja Daddy, aku lapar, lelah, ingin istirahat," jawab Jenny.
"Baiklah, pulanglah sekarang. Nanti Daddy akan pulang menyusulmu," Bradd menepuk pipi Jenny lembut. Jenny menarik bahu Bradd, agar ia bisa berbisik di telinga Bradd.
"Baju tidurnya boleh dipakai siang ini tidak, Daddy?"
Kedua alis Bradd terangkat, lalu pecahlah tawanya. Diacak rambut di puncak kepala Jenny.
__ADS_1
"Kalau kamu suka, pakai saja Sayang."Angelica menatap
mereka dengan kening berkerut dalam, ia penasaran dengan apa yang dibisikan Jenny pada Bradd. Tawa Bradd yang terdengar lepaspun baru sekali ini didengarnya.
Senyum genit Jenny menambah kebingungannya.
"Pulanglah, hati-hati di jalan ya," Bradd menepuk pipi Jenny lembut. Jenny menjinjitkan kakinya, dikecup pipi kanan Bradd.
"I love you, aku pulang ya," pamit Jenny.
"I love you too, honey" jawab Bradd sambil mengantarkan Jenny menuju pintu.
Di ambang pintu, Jenny memutar tubuhnya, mereka berdua berdiri berhadapan, Jenny mendongak menatap wajah Bradd.
"Jangan terlalu lama bicara dengan wanita itu, aku tidak ingin terlalu lama menunggu di atas ranjang, Daddy," ucapnya dengan suara berbisik. Bradd tersenyum, dicubit kedua pipi Jenny, sebelum ia kecup kedua pipi itu.
"Iya Sayang, sekarang pulanglah"
"Bye, Daddy"
Bradd mengikuti langkah Jenny, sampai Jenny menghilang dari pandangannya. Baru ia kembali ke dalam untuk menemui Angelica yang sudah menunggunya dengan duduk di sofa. Bradd duduk di sofa yang ada di hadapan Angelica.
"Apa yang ingin kamu katakan, Angelica?" Bradd menatap wajah Angelica. Wajah yang mirip dengan Wajah Jenny, namun dalam pandangan Bradd, memiliki aura yang berbeda.
"Aku butuh uang Bradd," jawab Angelica cepat. Bradd mengerutkan keningnya, ditatap wajah Angelica dengan lekat.
"Kamu butuh uang, kenapa datang padaku? Aku bukan bank yang bisa memberimu pinjaman Angelica, kamu salah alamat kalau perlu uang, datang padaku." Ujar Bradd, berlagak tidak paham dengan apa yang dimaksudkan Angelica.
"Jangan main-main Bradd!" seru Angelica gusar.
"Siapa yang main-main Angelica, apa yang aku katakan, benar bukan" ujar Bradd tetap terdengar tenang.
"Kamu mengerti akan apa yang aku maksudkan Bradd!"
"Tentu saja aku mengerti, kamu datang untuk meminjam uang bukan, harusnya kamu yang mengerti, kalau aku bukan bank tempat untuk meminjam uang."
__ADS_1
"Bradd, jangan main-main. Aku datang untuk mengambil apa yang seharusnya menjadi hakku. Aku memerlukannya sekarang Bradd!"
"Hakmu? Hakmu yang mana Angelica?"
"Bradd, semua yang kamu genggam sekarang adalah milik orangtuaku, ada hakku di situ, Bradd!"
"Siapa yang memberimu hak, Angelica? Namamu sudah dicoret dari keluarga, seluruh harta papa, sudah diwariskan pada Jenny. Bukan cuma kamu yang tidak punya hak, akupun juga tidak." Bradd menggelengkan kepalanya.
"Tapi kamu ikut menikmati semuanya, Bradd. Sedang aku, tidak ada sesuatupun yang bisa aku nikmati!"
"Itu pilihanmu, Angelica. Kamu tidak pantas mengeluh untuk hal itu."
"Aku tidak sedang mengeluh Bradd, aku sedang menuntut apa yang menjadi hakku!"
"Hakmu? Kamu merasa berhak atas apa, Angelica?"
"Aku berhak atas Jenny, aku berhak atas harta papa. Aku putri tunggal papa, aku ibu kandung Jenny. Sedang kamu, siapa kamu Bradd? Kamu hanya sampah yang dipungut orang tuaku dari panti asuhan. Kamu tidak memiliki hak apapun! Kamu bukan anak papa, kamu bukan daddy Jenny, kamu bukan mantan suamiku, jadi apa hakmu untuk ikut menikmati harta peninggalan papa, apa!?"
Bradd tersenyum, melihat Angelica yang terlihat sangat emosional. Bradd berusaha tetap tenang.
"Papa, memintaku untuk menjaga semua yang ia tinggalkan, yaitu Jenny, dan seluruh harta yang ia wariskan pada Jenny. Dengar Angelica, seluruh harta yang diwariskan pada Jenny. Jadi semua ini milik Jenny, aku hanya menjaganya. Aku berhak mendapat imbalan atas apa yang aku lakukan, bukan?"
Mata Angelica semakin tajam menusuk bola mata Bradd, mendengar apa yang Bradd ucapkan.
"Apa yang sebenarnya kamu inginkan, Bradd? Apa kamu ingin memperalat Jenny, agar bisa menguasai semuanya!?" Tuding Angelica. Bradd tertawa mendengar tuduhan Angelica kepadanya. Digelengkan kepalanya perlahan.
"Angelica, otakmu sangat kotor rupanya, sehingga kamu berpikir, orang lain juga sekotor dirimu. Aku tidak perlu memperalat Jenny, aku tidak tertarik untuk menguasai hartanya. Untuk apa aku melakukan itu? Tanpa melakukan itu, hidupku sudah bahagia Angelica. Bahagia bersama Jenny tentunya. Sedang kamu, masih berkutat dengan kesulitan dalam hidupmu. Itu mungkin balasan untukmu, karena dulu meninggalkan putrimu."
"Jangan mentertawakan aku Bradd!" Angelica bangkit dari duduknya.
"Kita lihat saja, apa kamu masih berkeras tidak mau memberikan apa yang menjadi hakku. Ingat Bradd, kamu bukan daddy Jenny, akan kubuktikan hal itu pada Jenny. Dan, akan kita lihat, apa kamu masih bisa tertawa setelah Jenny tahu yang sebenarnya!" ancam Angelica.
"Kamu mengancamku, Angelica? Kamu ingin membongkar semuanya pada Jenny? Hmmm, lakukan saja, aku tidak takut, karena aku yakin, itu tidak akan merubah apapun di antara aku dan Jenny."
"Kita lihat saja nanti Bradd!" Angelica meninggalkan Bradd, ia keluar dari dalam ruangan Bradd. Bradd menatap Angelica, sesungguhnya ia merasa iba, bagaimanapun Angelica adalah adik angkatnya. Tapi, ia juga harus melaksanakan pesan ayah mereka, untuk menjaga Jenny beserta harta yang diwariskan pada Jenny.
__ADS_1
🌼🌼🍍BERSAMBUNG🍍🌼🌼