
Bukannya membantu, semua orang malah berbisik menggunjing bahkan menertawakan Kayla yang sedang dimaki-maki oleh manager toko.
Melihat Kayla tidak berkata sepatah katapun, salah satu pelayan menghampirinya karena kasihan sembari berkata lirih. "Maaf, Mbak! Sebaiknya kamu pergi dari sini. Tempat ini tidak bisa dimasuki orang sembarangan!" bisiknya seraya mendorong sedikit tubuh Kayla setelah gadis itu sudah berdiri sempurna.
"Saya tahu, Mbak. Permisi!" perlahan Kayla berjalan menuju pintu keluar dengan kaki terpincang menahan sakit kembali.
Sebelum Kayla benar-benar keluar dari toko, datanglah si wanita cantik tadi dengan tatapan tajam menakutkan.
Dia menatap Kayla yang berjalan terpincang-pincang dengan menundukkan wajahnya. "Apa yang terjadi di sini?" hawa dingin menyelimuti saat wanita cantik itu bertanya.
Wajah yang cantik itu kini terlihat berbeda dari sebelumnya, ketus dan garang mengalahkan Kayla. Mungkin, dirinya merasa lebih tinggi dari yang lain.
Melihat ekspresi marah wanita tersebut, mereka yang tadi heboh mencela seketika diam seribu bahasa. "A-anu, Nona. Ga-gadis ini membuat onar di toko kami!" jawab si pelayan dengan terbata.
"Apa yang dia lakukan?" ia bertanya tetap dengan ekspresi datarnya.
"Di-dia menjatuhkan semua pakaian ke lantai, juga merusak properti di sini!" jelas pelayan masih dengan rasa takut.
Dari kejauhan, Manager toko melihat kedatangan wanita lain yang berpenampilan sederhana namun elegan dari pakaian yang dikenakannya. "Dia itu hanya orang miskin yang tak tahu diri, Nona. Jangan hiraukan keberadaannya, dan lanjutkan pencarian Anda untuk barang-barang di toko kami!" sambar manager sopan kepada wanita itu.
"Lanjutkan pencarian? Cih," ucap wanita tersebut berdecih sebal. Tanpa berkata, ia mengambil salah satu handphone milik pengunjung yang tadi merekam Kayla saat terjatuh dengan pakaian yang menumpuk di lantai.
Vidio itu berdurasi sepuluh menit, menampakan penampilan menyedihkan Kayla saat tersandung lalu tertimpa pakaian serta patung-patung manekin hingga kepala ya sedikit terbentur.
Wanita itu mengeram kesal. "Masuk!" teriaknya kemudian. Beberapa pria berbadan besar langsung masuk tanpa diminta dua kali. "Bereskan mereka!"ujarnya menunjuk semua orang yang berada di sana.
Mata semua orang terbelalak dengan perintah si wanita dingin itu. Sebenarnya, siapa dia? Apakah dia artis atau orang ternama? Mengapa dia membawa pengawal ke tempat seperti itu? Lalu, apa hubungannya dengan gadis sederhana itu?
__ADS_1
Banyak pertanyaan yang menari dipikiran mereka, namun mereka tetap bungkam tak mengeluarkan sepatah katapun saat para pengawal wanita itu mengambil benda pipih milik mereka.
Sang manager terlihat syok dan tercengang melihat apa yang dilakukan wanita itu untuk membungkam para netizen yang mengunggah vidio dan foto yang sempat mereka dapatkan tadi.
Salah satu pengunjung berbisik lirih. "Bukannya wanita cantik itu Nona Khanza Alberto, putri dari Tuan Kenji Alberto?!" semua orang sontak membulatkan mata sempurna mengetahui kenyataan tersebut.
Pantas saja wanita cantik itu membawa banyak pengawal. Jika orang biasa, itu sangatlah aneh dan tidak wajar. Tapi bagi seorang Khanza Alberto itu bukanlah hal yang aneh lagi sebab mengingat status dan kedudukannya di Alberto Grup, wajar saja jika dirinya punya banyak bodyguard.
Kaki jenjangnya melangkah menuju laptop yang tergeletak di meja kasir. Tangannya yang lihai segera menekan setiap tombol yang berada di sana, kemudian memperlihatkan rekaman itu kepada semua orang. "Dia tak sengaja!" ucapnya singkat.
Para pelayan dan manager menunduk malu karena telah menuding Kayla berbuat onar dan merugikan toko.
Walaupun Khanza telah membuktikan jika Kayla tidak bersalah, ia tetap membayar kerugian yang disebabkan atas kejadian tersebut.
"Ambil sebagai ganti rugi atas barang yang rusak!" Dilemparkannya segepok uang merah di atas meja kasir berkisar nominal sepuluh juta, lalu ia melangkah keluar dengan menggandeng tangan Kayla.
Tatapan setajam pisau menusuk ke setiap mata pengunjung mengartikan jika mereka tidak boleh berlama-lama dan tak boleh membeli satu barang pun di tempat ini.
Setelah mengeluarkan kata-katanya, ia pergi meninggalkan toko itu dengan semua pengunjung keluar mengikuti dan mengembalikan barang kepada mereka.
"Maaf, gak jadi beli!" para pengunjung segera berhamburan keluar toko mengikuti langkah kaki Khanza dan Kayla.
Sedangkan para pelayan dan manager toko dibuat kebingungan atas tindakan semua pengunjung yang sudah memilih barang dan mengembalikannya begitu saja. "Tapi, Mas ... Mbak ... kakak!"
Semua pengunjung berhamburan keluar tanpa menyisakan satupun di dalam toko. Mereka langsung pergi tanpa menghiraukan panggilan para pelayan toko dan managernya.
Selepas kepergian mereka, para pelayan dan manager toko dimarahi habis-habisan oleh Bos nya. Tindakan mereka yang tidak sopan terutama manager toko dianggap merugikan toko bahkan berkali-kali lipat sebab mulai dari saat itu mereka tidak menerima pengunjung satupun.
__ADS_1
Sedangkan Kayla saat ini terduduk di atas motor sambil menggerakkan lututnya lurus dan menekuk, mencoba menahan rasa sakit yang dirasakan.
Melihat hal tersebut lantas membuat Khanza kembali menghampiri Kayla dengan rasa bersalah. "Maafkan aku ya, Dek! Aku pikir mereka nggak akan berbuat kek gitu sama pengunjung,"
Kayla mendongak menatap wanita cantik di hadapannya tersebut. "Ah, enggak apa-apa, Kak! Itu udah biasa kok," gadis itu tersenyum sebelum berpamitan. "Baiklah, Kak. Aku langsung pulang aja ya," Kayla langsung memakai helm dan berpamitan kepada Khanza.
Tangan Khanza menghadang motor Kayla saat akan pergi. "Dek. Apa kamu masih sekolah?" Kayla mengangguk lalu menjawab pertanyaan Khanza bahwa dirinya lulus sebentar lagi. "Owh, sama seperti Adik Kakak dong! Dia juga bentar lagi lulus," Kayla hanya mengangguk sembari tersenyum. "Kenapa kamu kerja jadi tukang ojek? Kenapa nggak cari kerjaan lain?!"
"Karena aku cuma punya motor, Kak. Coba kalo punya mobil, mungkin mau jadi supir taksi online." sahut Kayla terkekeh. "Lagi pula, aku juga kerja di cafe kalo malem." lanjutnya kemudian.
Khanza tampak mengerutkan keningnya. "Kerja di cafe juga? Memangnya kamu gak capek?"
"Capek sih, Kak. Tapi mau gimana lagi, aku butuh duit buat biaya."
"Orang tua kamu?" tanya Khanza penasaran.
Kayla tampak menunduk dengan mata yang berkaca, "Mereka udah tenang di sisi Tuhan!"
"Ma-maksudnya ... Orang tua kamu udah ... ninggal gitu?!" Khanza tampak ragu-ragu untuk mengutarakan perkataannya.
Kayla mengangguk dengan senyum yang dipaksakan. Terlihat sekali raut kesedihan di wajah cantik itu. "Keduanya udah pergi sejak aku masih kecil," sahutnya lirih.
Khanza terhenyak mendengar jawaban gadis belia di hadapannya tersebut. Sungguh pilu nasib yang dialami Kayla, harus kehilangan kedua orang tua diusia yang masih kecil. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana berada di posisi Kayla. "Kamu mau ikut Kakak?"
"Hah?"
...Bersambung ......
__ADS_1