Di Antara Dua Hati

Di Antara Dua Hati
Bab 138


__ADS_3

Happy reading


💕💕💕💕💕


"Diana!"


Suara itu terdengar samar-samar dan lembut. Membangunkan Diana dari kegelapan yang melingkupinya. Perlahan Diana membuka mata, dia mengernyit ketika sinar lampu membuatnya silau.


"Sayang, Diana? Kau sudah sadar, Nak?" Soraya menyentuh bahu Diana lembut. Dia duduk di tepi ranjang, wajahnya terlihat pucat pasi. Terlihat sangat cemas.


"Aku di mana, Ma?" Diana mengedarkan pandangan ke seisi ruangan. "Ini rumah sakit?" tanyanya ragu.


"Iya, Sayang." Soraya mengangguk lemah, di sela-sela isak tangisnya.


Diana mencoba bangkit, tetapi nyeri di area perut bagian bawahnya begitu terasa.


"Jangan bergerak dulu, Sayang. Kondisimu masih sangat lemah." Soraya bergumam lembut sembari mendorong tubuh Diana pelan. Mencoba membaringkan kembali tubuh Diana.


Diana mengernyit, menahan sakit yang begitu menyiksa. Kemudian, darah. Dia teringat darah yang mengucur di lengan Reyhan.


"Reyhan. Reyhan di mana, Ma?" Diana langsung terduduk panik, mengabaikan rasa sakit yang menyiksa perut bawahnya.

__ADS_1


Bersamaan dengan itu pintu ruangan terbuka, Tuan Wijaya masuk dengan wajah muram.


"Pa, bagaimana keadaan Reyhan? Dia di mana?" Diana menatap Tuan Wijaya penuh harap. "Tangannya terluka parah karena menyelamatkanku. Reyhanku ... terluka karena aku." Diana menjatuhkan kepalanya di bahu Soraya dan terisak hebat di sana.


"Mas, bagaimana keadaan Reyhan?" Soraya mengusap punggung Diana, mencoba menenangkan putrinya.


Tuan Wijaya mende*sah pelan. Dia menatap Diana dan Soraya bergantian. "Operasi Reyhan berjalan lancar. Dia baru saja sadar dan tengah membahas sesuatu dengan Jonathan. Kau tidak perlu mengkhawatirkannya, justru papa ke sini karena Reyhan sangat mengkhawatirkan dirimu."


Tuan Wijaya dan Soraya menatap ke arah perut Diana dan seketika tergurat kesedihan di wajah mereka.


Refleks Diana mengusap perutnya. "Ada apa? Kenapa kalian terlihat sedih?" Diana melayangkan tatapan waswas. Sedari tadi dia mencoba melawan rasa sakit di bagian perut bawah. Seketika dia teringat pada benturan di perutnya. "Tidak!" Diana menggeleng kuat.


"Maafkan kami Sayang, kami tidak bisa menjaga kalian dengan baik." Tuan Wijaya menunduk, menyusut sudut matanya yang mulai mengeluarkan cairan bening.


"Maafkan, maafkan papa," ucap Tuan Wijaya lirih.


❤️


❤️


❤️

__ADS_1


❤️


❤️


"Bagaimana? Kau sudah berhasil menangkap pelakunya?" Reyhan duduk bersandar di ranjang pasien. Dia masih di ruang pemulihan pasca operasi lengan kanannya. Luka Reyhan sangat parah dan dia kehilangan banyak darah tadi.


"Sudah Tuan, orang suruhan saya berhasil menangkapnya. Dia sudah dibawa ke markas termasuk Nona Alice," jawab Jonathan gugup. Dia menunduk dalam, tidak berani sedikit pun menatap mata Reyhan. Dia sudah melakukan kesalahan paling fatal sepanjang dia bekerja pada Reyhan.


"Aku tidak menyangka kau sebodoh ini, Jo!" Tatapan Reyhan bagai pedang yang menghunus ke dada Jonathan. Dia sangat marah, sangat kecewa atas keteledoran Jonathan malam ini. Bisa-bisanya setelah dia peringatkan berkali-kali tentang Alice, Jonathan masih bisa kecolongan.


"Maaf, Tuan. Saya sungguh menyesal." Jonathan semakin tertunduk.


"Jangan melakukan apa pun sampai aku ke sana."


"Baik, Tuan."


"Kenapa kau menunduk begitu? Tatap aku kalau bicara!" bentak Reyhan.


"Ma—maaf Tuan, saya tidak berani menatap Anda. Saya sudah melakukan kesalahan berat malam ini." Jonathan mendesah. Dia memaki dirinya sendiri dalam hati atas kecerobohannya.


"Bagus kalau kau menyadarinya. Karena keteledoranmu, Diana terluka, aku terluka, dan ...." Reyhan membuang napas kesal. "Aku sediri belum berani menemui Diana. Aku tidak tahu harus berkata apa padanya. Dia pasti sangat hancur."

__ADS_1


❤️❤️❤️❤️❤️


Hai readers tersayang, makasih atas dukungan kalian hari ini. Aku tunggu jempol dan komen kalian lho😘 see u next chapter ya guys😍


__ADS_2