
Karena ujian telah berakhir, Kayla lebih tenang untuk mencari uang. Ia bekerja dari siang sampai malam hanya untuk mencari uang tambahan karena ingin melanjutkan studinya di Universitas impiannya untuk mewujudkan cita-citanya menjadi seorang Dokter.
Jam pelajaran digantikan dengan pekan olah raga. Jadi, mereka hanya berada di sekolah sampai pukul dua belas siang saja.
Setelah bel berbunyi, Kayla bergegas pulang untuk mengganti pakaiannya. Ia tak sempat mengobrol atau sekedar bercanda ria bersama teman-temannya karena sibuk untuk mencari uang.
Kayla lebih giat dibandingkan sebelumnya sebab cita-citanya menjadi seorang Dokter membutuhkan biaya yang sangat besar.
Langkah kaki sedikit berlari menaiki tangga terdengar dak duk dari bawah.
Ibu Pariyem sang pemilik kontrakan terheran dengan suara gaduh dari atas rumahnya, yaitu lantai dua tempat kontrakan anak-anak muda. Rasa penasaran menyeret ibu itu untuk melihat apa yang terjadi di atas sana.
Perlahan telapak kaki Pariyem menapaki anak tangga satu-persatu, sampai berakhir mendarat di atas dengan selamat. Kemudian melangkah mencari sumber kegaduhan yang menjadi rasa penasaran Pariyem.
Blagh ... blugh
Kayla nampak sibuk berlarian kesana-kemari sembari mengerjakan pekerjaan rumahnya seperti mencuci, menyapu, mengepel, dan beres-beres lainnya. Pariyem tampak memperhatikan tingkah tingkah Kayla yang menurutnya aneh itu.
Wanita paruh baya tersebut segera menghampiri sembari menegur Kayla, bertanya tentang apa yang membuat gadis itu terus berjalan bahkan setengah berlari.
Kayla tersenyum lalu menjelaskan maksud dan tujuannya mengerjakan semua dengan mode cepat. Pariyem pun mengangguk paham akan penjelasan Kayla yang menurut Pariem sendiri sangat rajin.
Sebetulnya miris sekali kehidupan Kayla yang hidup seorang diri dan harus berusaha bekerja banting tulang untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, ditambah biaya sekolah. Tapi, Pariyem nangga kepada Kayla sebab tidak putus asa atau pantang menyerah dalam menggapai cita-citanya.
Jika gadis lain yang seumuran dengannya, mungkin akan mengandalkan kedua orang tua dalam segala hal. Berhubung Kayla hidup sebatang kara, maka dia harus berusaha sendiri meraih impiannya.
__ADS_1
Beruntung Kayla tumbuh menjadi gadis baik yang rajin, dan tidak terjerumus kedalam lembah hitam atau pergaulan yang urakan layaknya anak gadis yang hidup sendiri pada umumnya. Kayla lebih memilih bekerja keras dibandingkan mengandalkan orang lain.
Pariyem memberikan nasihat-nasihat layaknya seorang ibu terhadap anaknya dan Kayla pun menurut padanya sebab nasihat Pariyem memang benar-benar seperti ibu kebanyakan yang menuntun anaknya di jalan kebenaran serta kebaikan.
Tak lupa Pariyem memberikan makan siang untuk Kayla sebab gadis itu berpamitan untuk bekerja menarik penumpang lagi agar mempunyai tambahan biaya sekolahnya.
Kayla bergegas menyalakan mesin motor, kemudian melaju kencang ke pangkalan ojek. Kebetulan, di sana sudah ada Bang Romi, Bang Jono, Mang Ujang, sama Mas Anto. Mereka berempat adalah teman seprofesi Kayla.
Sesampainya di pangkalan, keempat pria tersebut menyambutnya dengan ramah walaupun salah satunya bersikap ketus dan dingin padanya karena merasa disaingi.
"Eh, Neng Kayla. Udah kemari aja jam segini. Emang udah pulang sekolah?" tanya mereka.
"Udah Bang, baru aja pulang." sahut Kayla seraya mendaratkan bokongnya di bangku pangkalan.
Mereka menoleh ke arah Jono. "Kok ngomongnya gitu sih, Jon? Neng Kayla mah enggak mungkin bolos sekolah demi narik ojek. Iya kan, Neng!" bela Mang Ujang dengan logat sundanya.
"Heemh, dia kan pengen lulus dengan nilai bagus supaya masuk universitas ternama!" timpal Mas Anto.
Bang Romi pun mengangguk. "Lagian kalau pun bolos, kagak mungkin jam segini. Ini kan udah jam satu. Bisa jadi setengah hari masuk sekolahnya," timpalnya ikut membela Kayla.
Bang Jono berdecak mencibir. "Heh! Kalian itu baru kenal dia beberapa minggu. Kenapa bisa seyakin itu sama dia?"
"Walaupun baru kenal, kita yakin kalau dia itu anak baik-baik. Buktinya, dia nggak malu narik ngojek demi dapat duit buat kebutuhannya. Kalau anak yang lain, udah minta duit ama orang tuanya!" ujar Bang Romi.
"Itu karena dia udah nggak punya orang tua aja, makanya gak minta! Kalau masih punya orang tua, mungkin sama aja seperti yang lain!" ujar Bang Jono tidak mau kalah.
__ADS_1
"Elu kenape sih, Jon? Keknya elu nggak suka gitu sama Neng Kayla!" Jono terlihat mencebik sebal karena ketiga temannya malah berusaha membela gadis yang baru dikenalinya belum lama. "Justru karena dia udah nggak punya orang tua, makanya kita bantu dan dorong dia buat semangat menjalani hidup, bukan malah memojokkan dia." tambah ketiganya terus membela Kayla.
Sementara Jono terus saja memasang wajah ketus serta mencebik sebal atas kehadiran Kayla di sana di saat waktu masih siang. Jika Kayla berangkat siang, pasti para penumpang akan memilih naik ojeknya. Tapi, jika gadis itu datang sore, otomatis Jono dapat penumpang lebih banyak.
Melihat keributan yang terjadi, Kayla merasa tidak enak hati dan menghentikan keributan itu dengan melerainya. "Maaf, Abang semua! Sebaiknya kalian tidak usah ribut untuk masalah Kayla. Kita semua 'kan teman seperjuangan. Jadi sebaiknya kita akur aja ya," cicitnya sembari tersenyum.
"Tapi Neng, dia ..." Mas Anto menunjuk Bang Jono dan siap melayangkan umpatan-umpatan atau perkataan pedas.
Gadis itu segera memangkas ucapan Anto. "Kayla nggak apa-apa kok, walaupun Bang Jono nggak percaya sama Kayla. Tapi, kita nggak perlu bertengkar untuk ini 'kan," ucapnya sopan. "Terima kasih atas dukungan kalian semua. Dengan kalian udah ngizinin ikut mangkal di sini aja, Kay udah seneng!" lanjutnya kemudian.
Wajahnya terlihat senyum namun hatinya sungguh sedih sebab Jono ternyata tidak menyukai kehadirannya selama ini. Kayla akan pergi jika seandainya mereka semua memintanya pergi dan tidak mengizinkannya lagi ikut mangkal.
"Ini pangkalan milik kita warga Rt 05. Jika ada yang ingin narik ojek dan membayar untuk kas mesjid, apa salahnya. Iya nggak teman-teman!" pungkas Bang Romi.
"Iya ... benar!" seru mereka setuju kecuali Bang Jono.
Semenjak Kayla narik ojek di sana, pendapatan Bang Jono menurun drastis. Kebanyakan para penumpang ingin naik ojeknya Kayla, padahal sebenarnya bukan Kayla penyebab menurunnya pendapatan Bang Jono tapi kelakuan dia sendiri yang suka ceroboh jika sedang menarik penumpang.
Jono cenderung suka kebut-kebutan karena ingin segera sampai di tempat tujuan dan menarik penumpang lagi supaya tidak ditarik yang lain.
Terkadang, barang atau bahkan penumpangnya terjatuh karena cara mengemudi Jono yang tidak hati-hati menyebabkan para penumpang enggan untuk diantar olehnya.
Seharusnya Jono sadar, jika rejeki datang dari Tuhan sesuai porsinya. Tapi, pria itu tidak mau mengerti dan selalu menyalahkan orang lain atas menurunnya pendapatan sehari-harinya.
...Bersambung ......
__ADS_1