Di Antara Dua Hati

Di Antara Dua Hati
PART. 18


__ADS_3

Jenny," Bradd mengerang dengan suara parau, napsu yang sempat mampu ia tahan, kini hampir menjebol pertahanannya.


"Apa tubuhku terlalu buruk, Daddy? Apa Daddy tidak merasa tergiur melihat milikku. Lihat Daddy, mil... hmpppp" tubuh Jenny terasa terbang, lalu terhempas di atas ranjang, Jenny memekik karena rasa kaget.


"Daddy!" pekikannya semakin nyaring, saat kepala Bradd berada di antara kedua pahanya. Jenny mendesis, dan melenguh tiada henti, sampai kepala Bradd terangkat, dan bibir Bradd memagut bibirnya dengan dahsyat.


"Kamu sudah membangunkan macan tidur, Jenny. Terimalah akibatnya!" Bradd melepaskan ciumannya, lalu melepaskan celana yang sempat ia kenakan. Dibukanya lebar paha Jenny, ditekuk kedua kaki Jenny, ia gesekan ujung miliknya disela milik Jenny yang sudah ******* lagi.


Jemari di kedua tangan Bradd, ia selipkan diantara jemari di kedua tangan Jenny. Ia tekan tautan jemari mereka ke atas kasur, sementara pinggulnya mulai turun, mencoba menembus, dan memasuki milik Jenny.


"Berteriaklah Jenny, berteriak sesukamu," desis Bradd tepat di atas wajah Jenny. Dan, benar saja, Jenny berteriak saat milik Bradd menembus miliknya dalam satu hentakan. Mata Jenny membeliak, Bradd menatap Jenny, tanpa berusaha meredam teriakan Jenny dengan ciumannya. Karena ia yakin, tidak akan ada yang berani mengganggu mereka.


Bradd lebih memilih memagut ujung dada Jenny, mengisapnya sesuka hati, hingga Jenny berusaha melepaskan jemarinya dari tangan Bradd. Jenny ingin sekali menjambak rambut Bradd.


"Daddy," Jenny merintih, malam ini ia benar-benar merasa melihat Bradd dalam sosok yang berbeda. Bradd yang bak singa lapar, siap memangsanya. Bukan lagi Bradd yang selalu lemah lembut kepadanya. Tapi, Jenny sangat menyukainya.


Semua anggota tubuh Bradd, seakan bekerja sama dengan baik, untuk mencumbui tubuh Jenny. Membuat Jenny lemas, kehilangan tenaga, karena berulang kali ******* dengan rasa puas di dalam hatinya.


Bradd masih perkasa, sementara Jenny sudah kehilangan tenaga. Ayunan pinggul Bradd semakin cepat saja, meski lelah, Jenny berusaha mengimbangi dengan menggoyangkan pinggulnya.


"Ini hasi dari menonton film dewasa, Jenny?" desis Bradd. Jenny membuang wajahnya yang sudah memerah sejak tadi, bahkan seluruh tubuhnya ikut memerah, karena terbakar oleh hasrat yang telah disulut oleh Bradd.


"Tidak buruk Jenny, tapi dari sekarang, dari pada kamu menonton film untuk mencari pengalaman, lebih baik kamu minta aku untukย  mengajarimu langsung," suara Bradd terdengar menggeram.


Jenny tersenyum di dalam hatinya, ia merasa menang karena membuat Bradd ingin lagi bercinta dengannya.


Jenny memegang bahu Bradd, ia bergerak mengimbangi ayunan pinggul Bradd.

__ADS_1


Bradd semakin kuat dan cepat melakukannya, tubuh Jenny ikut bergerak seiring gerakan Bradd.


"Jenny!"


"Daddy!"


Jenny memejamkan matanya rapat, ia tidak ingin kehilangan moment ternikmat, mengalami pelepasan bersamaan, itu sungguh nikmat luar biasa. Tubuh mereka berdua menegang, lalu bergetar halus setelah semua tertuntaskan. Tubuh besar Bradd ambruk di atas tubuh Jenny. Jenny tak mampu lagi membuka matanya, ia bahkan tidak ingin membuka matanya, karena takut, ini hanyalah mimpi belaka baginya. Jenny memejamkan matanya rapat, menikmati sisa-sisa percintaan yang baru pertama kali baginya. Di dalam hatinya, ia benar-benar takut, jika yang terjadi tidaklah nyata. Karena Bradd yang terlihat sangat berbeda baginya.


'Tuhan, semoga ini bukan mimpi, kalau ini mimpi, tolong biarkan aku tidur tanpa bangun lagi. Ehmmm, Daddy, i love you Daddy.... '


Jenny merasa ada yang menindih tubuhnya, ia sesak bernapas. Perlahan ia buka matanya, dan menatap tubuhnya. Matanya melebar, saat menemukan sepasang tangan kokoh tengah memeluknya. Satu tangan yang menyusup di bawah tengkuk, dan melewati bahu, telapaknya berada di atas dadanya, sedang tangan yang lain berada di atas perutnya.


Jenny mengerjap-ngerjapkan mata, lalu berulang kali menepuk kedua pipinya.


"Bukan mimpi," gumamnya lirih.


"Bukan mimpi," volume suaranya mulai naik.


"Daddy!" Jenny berteriak tanpa ia sadari, Bradd melepaskan pelukannya, lalu terlonjak bangun.


"Jenny, ada apa!" Bradd terduduk sambil menatap Jenny bingung.


Jenny bangun dari berbaringnya.


"Bukan mimpi Daddy, bukan mimpi!" Jenny menubruk tubuh Bradd dengan kuat, sehingga Bradd terjengkang ke belakang, dan Jenny langsung duduk di atas perut Bradd.


"Jenny, ada apa?" Bradd benar-benar terlihat bingung akan sikap Jenny. Jenny hanya menjawab dengan tawa riangnya. Bradd bangun dari berbaringnya, posisi Jenny melorot ke bawah perut Bradd.

__ADS_1


"Awww, Daddy!" Jenny mengangkat pantatnya, dan munculah si kecil Bradd, dari belakang tubuhnya.


"Daddy," Jenny menggenggam si kecil Bradd dengan kedua telapak tangannya, ia terperangah dengan ukuran si kecil yang semalam sudah merobek keperawanannya. Jenny menegakan punggung, si kecil Bradd ia tegakan di depan perutnya. Mata Jenny terbelalak, saat melihat si kecil Bradd panjangnya melewati perutnya.


"Sepanjang ini, bagaimana bisa... hmmppp" Jenny tidak punya kesempatan untuk bicara, Bradd memagut bibir Jenny, memeluk punggung Jenny, satu tangan Jenny memeluk bahu Bradd, ia mengangkat pinggulnya sedikit, dan menuntun milik Bradd untuk menembus miliknya dengan tangan yang satu lagi. Bradd melepaskan ciumannya di bibir Jenny, ujung dada Jenny yang kini menjadi sasarannya.


Kedua telapak tangan Jenny menekan bahu Bradd, kedua kakinya saling mengait di belakang tubuh Bradd, sementara tubuhnya maju, dan mundur dengan teratur.


"Daddy.... "


Jenny memejamkan matanya, berusaha memutar ingatan akan apa yang pernah ia lihat di film. Jika semalam Bradd yang bagai singa lapar maka kali ini Jenny yang bertindak bak kuda binal. Ia benar-benar mempraktekan semua ia dapatkan dari hasil menonton film dewasa. Bradd tampaknya hanya mengikuti kemauan Jenny saja.


Mereka berdua terkapar, setelah digulung badai kenikmatan yang meluluh lantakan tubuh mereka, terutama tubuh Jenny tentunya. Mereka berbaring bersisian, Jenny berada dalam dekapan erat Bradd.


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐Ÿ๐ŸŒผ๐ŸŒผ


"Mhhhh," Jenny menggeliat, ia membentangkan kedua tangan selebarnya. Ia meraba-raba tempat di sebelahnya. Jenny terlonjak bangun, saat merasakan tidak ada siapapun di sampingnya. Ia menolehkan kepala, tempat di sebelahnya terlihat tidak bekas ditiduri.


"Ya Tuhan, ternyata cuma mimpi," Jenny menghela napas kecewa, tapi ia merasa, semua seperti nyata, bukan mimpi belaka. Jenny menyingkap selimut, saat merasakan nyeri di bagian bawah perutnya. Ia perhatikan tubuh polosnya. Jenny terlompat bangun, saat melihat bercak merah di sekitar dadanya.


"Bukan mimpi, uhhh ini juga nyeri!" Jenny bergerak menuju meja rias, ia berdiri di depan cermin. Matanya melebar, saat melihat dari leher, sampai ke pahanya, dihiasi bercak merah yang ia sangat tahu bekas kecupan.


Jenny tertawa riang, ia memungut pakaian tidurnya, lalu mengenakannya. Jenny ingin membuka pintu, ia bermaksud ke kamar sebelah menemui Bradd.


Pintu ia buka, ternyata Teresa sudah ada di depan kamarnya.


"Selamat pagi, Nona. Syukurlah Nona sudah bangun. Tuan sudah pergi bekerja, dia menitipkan ini untuk Nona." Teresa menunjuk apa yang ia bawa di atas nampan. Mata Jenny melebar, melihat apa yang dibawa Teresa.

__ADS_1


Ia menatap Teresa, Teresa menganggukan kepala, meyakinkan Jenny, kalau apa yang ia bawa memang dari Bradd, untuk Jenny.


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸBERSAMBUNG๐Ÿ๐ŸŒผ๐ŸŒผ


__ADS_2