Di Antara Dua Hati

Di Antara Dua Hati
Bab 176


__ADS_3

Happy reading


đź’•đź’•đź’•đź’•đź’•


Jonathan hanya menunduk. “Maafkan saya Tuan, saat saya tiba di rumah sakit, Nona sudah tidak ada.”


Reyhan melepaskan cengkeramannya dengan kasar, tetapi masih menyorot tajam, menunggu penjelasan Jonathan lagi.


“Awalnya saya pikir nona sudah kembali ke rumah untuk membersihkan diri, tapi hingga malam tiba nona belum juga datang ke rumah sakit. Saya sudah coba menghubungi nona, tapi tidak pernah diangkat. Kemudian, saya hubungi orang rumah kata mereka nona belum kembali dari saat membawa tuan muda keluar keliling komplek," tutur Jonathan. Dia menatap Reyhan takut-takut.


“Keliling komplek?” Reyhan mengerutkan dahi. “Untuk apa?”


“Untuk menemuiku,” jawab Laura cepat. Reyhan beralih menatap Laura untuk kali pertama.


“Aku tadinya bermaksud bertemu dengan Rangga untuk terakhir kali sebelum aku berangkat ke LN. Jadi, aku meminta tolong Diana untuk mengajak Rangga keluar sebentar, tapi begitu aku sampai di dekat rumahmu, aku melihat kerumunan orang dan Rangga sudah ....” Laura tidak sanggup melanjutkan ucapannya, air matanya lebih dulu luruh, dia menangis sesegukan. “Aku dan Diana bergegas membawa Rangga ke rumah sakit, tapi saat aku selesai mendonorkan darahku, Diana sudah tidak ada di tempat. Kemudian, aku menghubungi Jonathan untuk mengabari keadaan Rangga.”


Reyhan membuang napas kasar. “Di mana orang yang menabrak Rangga?” tanyanya dengan suara berat.


“Masih di kantor polisi Tuan, saya sudah menemuinya. Dia bilang tidak sengaja menabrak tuan muda.” Reyhan menatap tajam Jonathan. “Waktu itu dia sedang mendapat panggilan telpon, saat ingin mengangkatnya tidak sengaja ponselnya terjatuh lalu, dia membungkuk berusaha mengambil ponselnya. Dia tidak menyadari kalau tuan muda saat itu sedang mencoba menyebrang jalan sehingga, mobilnya menabrak tuan muda.”


“Lalu? Kau mempercayainya begitu saja?” Reyhan menaikkan satu alisnya.


“Tentu saja tidak Tuan, apalagi dengan hilangnya nona yang tiba-tiba. Saya curiga ini adalah konspirasi dari pesaing bisnis Anda.”


“Bagus! Selidiki terus!” titahnya sembari melangkah mendekati bed, tempat Rangga terbaring. Hatinya terenyuh melihat tubuh mungil putranya terbaring lemah di sana. Kepala diperban, hidung dipasang selang oksigen, dan selang infus yang menempel di tangan. Suasana menjadi sangat hening sampai, terdengar ponsel Jonathan berbunyi.


“Maaf Tuan, saya permisi keluar sebentar,” ijin Jonathan.


“Hm.”


“Untung saat kejadian aku belum berangkat, coba kalau sudah, apa yang akan terjadi pada putra kita? Siapa yang akan mendonorkan darah untuknya?” Laura kembali mencoba menarik simpati Reyhan.


“Jika saat itu kau tidak meminta Diana untuk mempertemukan kalian diam-diam maka, Diana tidak akan membawa Rangga keluar rumah dan kecelakaan yang menimpa Rangga tidak akan pernah terjadi,” balas Reyhan dengan tatapan sinis.


“Rey, aku, 'kan cuma ....” Mencoba membela diri, tetapi Reyhan langsung menyela ucapannya.


“Cukup Laura! Jika kamu masih ingin berada di dekat Rangga maka, tutup mulutmu mulai sekarang,” desis Reyhan.


Dengan kesal akhirnya Laura menghentikan niatnya bicara. Fia menjatuhkan dirinya di sofa yang ada di ruangan itu dengan malas.

__ADS_1


Jonathan kembali masuk dan berjalan mendekati Reyhan.


“Siapa yang menelpon?” tanya Reyhan.


“Orang dari kepolisian Tuan,” jawab Jonathan. Maniknya bergerak cepat, dia terlihat gelisah.


“Apa katanya? Apa ada info tentang Diana?”


“Bukan Tuan, ini bukan tentang nona.”


“Lalu?”


“Tentang orang yang menabrak tuan muda, polisi bilang ini murni ketidaksengajaan.” Jonathan menatap Reyhan yang juga sedang menatapnya. Tatapan Reyhan begitu menakutkan, membuat Jonathan ngeri untuk melanjutkan ucapannya.


“Polisi tidak menemukan bukti dari kecurigaan kita. Kecelakaan yang menimpa tuan muda tidak ada hubungannya dengan pesaing bisnis Anda, termasuk ....” Jonathan menjeda ucapannya untuk menarik napas kuat. “Termasuk dengan hilangnya nona.”


Reyhan memejamkan mata, mencoba menenangkan gejolak hatinya. Beberapa saat dia kembali membuka mata dengan perlahan. Tatapannya teralih pada Rangga.


Tenang sayang, ayah akan menemukan ibumu dan membawanya kembali, batinnya sembari mengecup kening Rangga yang dibalut perban.


“Jo, mana kunci mobil?”


“Aku tau di mana harus menemukan Diana.” Reyhan segera bangkit untuk mendekati Jonathan.


“Biar saya antar, Anda masih lelah, baru kembali dari perjalanan jauh," saran Jonathan yang khawatir dengan kondisi Reyhan. Pria baru tiba dari perjalanan jauh ditambah emosinya yang tidak dalam keadaan stabil, tentu akan beresiko jika menyetir sendiri.


“Tidak Jo, tugasmu kerahkan semua orang-orangmu untuk mencari keberadaan Diana. Temukan dia! Cek namanya di seluruh tempat! Bandara, Terminal, apa pun dan di mana pun itu,” titahnya pada Jonathan.


“Baik Tuan,” jawab Jonathan patuh.


“Lalu kau ....” Menunjuk Laura sebelum membuka pintu, “jaga putraku dengan baik. Dengan begitu aku akan memikirkan lagi mengenai keberadaanmu di sisinya.”


Laura tersenyum senang mendengar pernyataan Reyhan barusan.


❤️


❤️


❤️

__ADS_1


❤️


❤️


“Diana tidak ada di sini Tuan,” ujar Sandra saat Reyhan mendatangi tempat karaokenya. “Saya dan Mas Surya belum sempat bertemu dengannya lagi setelah pesta pernikahan kalian waktu itu.”


“Apa aku bisa mempercayaimu?” tanya Reyhan dengan sorot menyelidik.


“Tentu Tuan, mana mungkin kami berani membohongi Anda. Sebenarnya apa yang terjadi, Tuan?”


Reyhan melihat gurat kekhawatiran di mata Sandra. Namun, Reyhan tidak menjawab. Dia melengos dan bergegas menuju mobil. Tujuannya sekarang adalah rumah Siska, dia yakin Diana pasti menemui sahabat satu-satunya itu.


Kenyataan yang terjadi di hadapannya kini tidak sesuai dengan ekspetasinya. Dia harus menelan kekecewaan kembali karena Siska memberi jawaban yang sama dengan Sandra.


Tanpa banyak pikir, Reyhan memutuskan ke tempat yang sebenarnya dia sendiri benci untuk mengatakannya. Namun, hanya tempat itu satu-satunya pilihan terakhir.


Langit nampak mendung ketika Reyhan tiba di restoran milik Bayu. Dia segera memasuki area parkir, entah kebetulan atau memang Dewi Fortuna sedang berpihak padanya, orang yang dia cari juga sedang di area yang sama saat ini. Bergegas Reyhan mematikan mesin mobil dan segera keluar.


“Bayu!” teriaknya memanggil pria yang baru selesai menutup pintu mobilnya.


Bayu menoleh ke arah suara. “Tuan Reyhan?” Menatap heran Reyhan yang sedang berlari mendekatinya. “Ada apa?”


“Di mana Diana?” tanyanya to the point.


Bayu berkacak pinggang seraya menyunggingkan sebelah sudut bibirnya. “Kenapa Anda menanyakan istri Anda pada saya?” tanyanya setengah mencibir.


Reyhan mengeram. “Saya tau Anda dalang dibalik hilangnya Diana. Saya tau Anda masih sangat menginginkan Diana," tuduh Reyhan bertubi-tubi.


Bayu merasa terpancing. Dadanya bergerak naik-turun seiring napas yang memburu. Kedua tangannya sudah mengepal kuat.


"Katakan padaku di mana Anda sembunyikan Diana? Di mana istriku?” teriak Reyhan berapi-api.


Bugh!


❤️❤️❤️❤️❤️



Kira-kira di mana Diana nih, guys? Yuk, bantu Reyhan mencari tahu keberadaan Diana🤔🤔🤔

__ADS_1


Jangan lupa tetep dukung aku ya guys dengan tap jempol kalian. 👍


__ADS_2