
Kenzo menunggu Kayla di dalam butik tepatnya di ruangan khusus atasan.
Walaupun butik itu milik kakaknya, tapi Kayla meminta Kenzo untuk tetap mengikuti peraturan dengan tidak berbuat seenaknya dan mau menunggu sampai jam pulang.
Kenzo bukan orang penyabar, tapi demi Kayla ia pun rela menunggu berjam-jam walaupun sangat membosankan.
Detik-demi detik sudah berganti dengan menit, begitupun menit yang telah berganti dengan jam. Mereka berlalu begitu cepat tapi Kayla masih belum menampakkan batang hidungnya atau tanda-tanda akan pulang.
Waktu menunjukkan pukul dua puluh dan mereka yang berada di lantai satu masih sibuk dengan pelanggan beserta bungkusan-bungkusannya.
Gerutuan kesal terlontar karena ternyata Kayla belum juga selesai untuk pulang.
"Si Onah lama banget sih," Kenzo terus memperhatikan satu persatu gadis yang berlalu lalang di lantai bawah dari jendela kaca di ruangan tadi. "Awas lu ya kalau gak mau ikut gue!" ancaman Kenzo tidak bisa di dengar Kayla, namun mengundang rasa penasaran orang lain.
Karena fokus memperhatikan orang-orang di bawah serta Kayla tentunya. Kenzo tidak sadar jika dua orang masuk ke dalam ruangan tersebut.
Plak
Vincent dan Khanza menepuk bahu Kenzo dengan sangat keras sebab pemuda itu tidak menyahut ketika dipanggil-panggil oleh kakaknya. Kenzo pun terlonjak kaget sampai terhenyak saat menoleh ke belakang.
"Astaga. Kak Vincent, Kak Khanza, ngagetin gue aja! Untung gue kagak punya penyakit jantung," hardiknya seraya memegangi dada karena syok. Kemudian pemuda itu segera berdiri dan balas menepuk bahu Vincent dan Khanza dengan sangat keras.
Plak ... plak
"Astaga, Ken. Sakit ini!" Khanza meringis memegangi lengannya yang mendapat tepukan keras yang dilakukan oleh Kenzo, sedangkan Vincent terlihat datar.
"Gue juga sakit, dodol!" ujar Kenzo membela diri diikuti decak sebal kakaknya.
Walaupun ingin sekali protes, tapi rasa penasaran mengalahkan perasaan sakitnya. "Elu ngapain masih di sini, Ken? Kerjaan kita udah kelar pan," kata Khanza dengan menyipitkan mata.
"Kenapa? Nggak boleh?"
__ADS_1
"Ya bukannya gak boleh, tapi lebih tepatnya heran aja. Ngapain coba seorang Kenzo duduk di ruangan sambil memperhatikan orang-orang yang kerja? Emangnya nggak bosen apa," seloroh Khanza sengaja menggoda.
Vincent yang biasanya cuek dan kaku, kini ikut berkata juga. "Hooh. Gue juga penasaran banget ini mah liatin elu yang biasanya jam segini nongkrongnya di cafe atau tempat hangout lainnya, sekarang malah nongkrong di tempat kerjanya orang." timpal Vincent.
Vincent tidak tahu jika Kenzo sedang menunggu seseorang yang bekerja di sana, lebih tepatnya asisten pribadi Khanza yaitu Kayla. Khanza pun tidak mengatakan kepada Vincent jika adiknya tengah dekat dengan asisten pribadinya.
"Elu nggak usah pengen tahu urusan gue, Kak Vincent. Sana balik lu! Emak lu nyariin," usir Kenzo dengan mendorong tubuh Vincent keluar ruangan, lalu berbalik menghadap kakaknya. "Elu juga, Kak! Dicariin si bule," cetusnya kemudian.
Khanza dan Vincent tidak terima tas perlakuan Kenzo pada mereka berdua. Keduanya bertahan dari dorongan Kenzo yang berusaha mengusirnya dari butik milik Khanza sendiri.
"Tengil. Ini butik gue, kampret. Ngapain elu ngusir gue?!" hardik Khanza kesal yang dibenarkan Vincent.
Seketika Kenzo tersadar jika tempat itu adalah punya kakaknya. Pemuda tersebut meringis sembari cengengesan tapi tidak tahu malu. "Tetep aja gue punya hak buat ngusir elu berdua dari sini," cetusnya membuat Khanza kesal.
"Idih, apaan lu tengil. Hak apa yang elu maksud? Ini butik kepunyaan gue. Yang ada juga gue ngusir elu dari sini," sentak Khanza sini.
Kenzo malah cengengesan. "Bentar aja deh Kak, sampe si Onah selesai!" desisnya kemudian.
Melihat ekspresi bahagia sang adik, amarah Khanza pun luntur dengan sendirinya. Jarang sekali melihat senyuman dari bibir adiknya semenjak saat itu, saat-saat dirinya berkumpul di rumah utama.
Tapi kini, Khanza memilih untuk hidup mandiri di rumah besar miliknya bersama para pelayan saja tanpa ditemani kedua orang tuanya sendiri.
Walaupun begitu, Khanza senang sebab bisa melakukan apapun tanpa harus meminta persetujuan ayahnya yang menurutnya susah diajak kompromi.
Khanza dan Vincent pun pergi ke ruangan lain untuk memeriksa laporan dari Kayla. Sebelum pergi ke ruangan lain, tangan Khanza terkepal ke atas memberi semangat adiknya. "Semangat!" cetusnya kemudian yang ditanggapi senyum ceria sang adik.
Cukup lama Kenzo menunggu, sampai tibalah waktunya untuk pulang. Terlihat Kayla berjalan menaiki anak tangga satu-persatu hingga menapak di lantai dua.
Lelah, letih, lesu. Setelah seharian bekerja rasanya Kayla sangat kelelahan tapi tidak bisa dibandingkan dengan menjadi supir ojek dan bekerja di cafe.
Di tempat ini, Kayla mendapat gaji lebih dari penghasilan di cafe dan ngojek sebulan. Malah masih kalah jauh dibanding dirinya harus mengerjakan keduanya itu secara bersamaan.
__ADS_1
Wajah sumringah Kenzo terlihat ketika membayangkan akan rencana yang dia susun untuk Kayla. Tapi, ekspresi wajah itu harus ia sembunyikan untuk menggoda Kayla agar terlihat sedang marah.
"Lama banget sih lu, Onah! Gue ampe bulukan nongkrong di sini!" selorohnya merajuk. Pemuda itu benar-benar cemberut layaknya anak kecil yang ditinggal lama oleh ibunya.
Kedua alis Kayla bertaut mendengar rengekan Kenzo. "Bulukan? Kayak kue aja kamu, bisa bulukan kalo kelamaan di simpen!" ledek Kayla menggoda.
Kenzo mendengus. "Udah lah jangan banyak omong, gue udah pegel nih. AC di sini juga suhunya terlalu rendah, bisa bikin wajah tampan gue beku. Tapi untungnya ketampanan gue itu asli buatan yang di Atas. Kalo enggak gimana?!"
Kayla hanya mendelik sebal mendengar ocehan narsis dari Kenzo. "Markoho ya tetap Markoho, pemuda tengil yang super narsis pokoknya." gumam Kayla lirih.
"Woi, ngelamun lu. Beraninya pemuda ganteng kek gue cuma dicuekin gitu aja," tangan Kenzo melambai di depan wajah Kayla dengan gerutuan yang menjengkelkan menurut Kayla. "Awas lu ke samber petir!" lanjutnya kemudian.
Kayla membulatkan mata sempurna. "Apaan sih, Ken. Orang ngelamun pasti ke sambet bukan ke samber!" ralatnya.
"Terserah gue. Mulut-mulut gue dan yang ngomong juga gue. Mau apa lu?"
Percuma berdebat sama pemuda yang pintar ngomong ini. Kayla memilih mengalah dan pergi dari ruangan dengan melambaikan tangan. "Daaah, aku mau pulang!"
Melihat Kayla pergi gitu aja tanpa menghiraukannya, Kenzo langsung menarik tangan Kayla sampai keningnya terbentur dada Kenzo. "Mau ke mana lu?"
"Aduh, Markoho!" diusap-usapnya kening yang bertabrakan dengan dada Kenzo.
"Makanya ikut gue sekarang!" ajak si tampan sembari menarik tangan Kayla untuk berjalan bersamanya.
Kayla hanya bisa pasrah tanpa membantah lagi. "Iya ... iya,"
Belum sempat Kayla turun, tangannya tertarik oleh seseorang dengan kencang hingga ia pun refleks menoleh.
"Mau dibawa ke mana?"
...Bersambung ......
__ADS_1