
[Nad, jangan lupa besok siang yaa] pesan itu dari kontak yang di beri nama Lena.
"Siapa lagi ini, pertama Susi sudah mengusik kedamaian rumah tangga saya. Sekarang datang lagi yang bernama Lena," keluh Pras.
"Dik, siapa lagi Lena?" cecar Pras saat istrinya keluar dari kamar mandi.
"Lena? dia temanku juga. Beberapa hari yang lalu bertemu di salon. Kasian sekali dia di tinggal selingkuh oleh suaminya. kenapa Mas?"
Pras tidak menjawab, tapi tanganya menyodorkan ponsel pada Nadia.
Nadia terlihat kurang senang karna Pras sudah membuka pesan di ponselnya.
"Mas buka ya?" tanyanya dengan raut muka masam.
"Sejak kapan kau keberatan Mas buka ponselnya? Perasaan sejak bergaul dengan Susi kau banyak berubah" ucap Pras.
"Jangan mulai lagi deh Mas, Susi lagi Susi lagi yang di salahin.Harusnya Mas Pras itu senang, karna Susi, istrinya bisa mengenal dunia luar, bisa belajar cari duit sendiri."
Pras menatap istrinya dalam dalam.
Nadia sangat berubah. Berubah cara pandang hidupnya, berubah penampilan dan gaya bicaranya. Pras seperti tidsk mengenal pribadi Nadia lagi.
"Ini, bukanya terimakasih , malah berperasangka buruk terus pada Susi." Nadia melanjutkan omelanya.
"Iya, sudah. Jangan di perpanjang lagi."
Pras mengalah. Ia tau, kalau di lanjutkan juga percuma karna Nadia tidak akan mau mengerti.
"Aku jadi pakai tabungan kita untuk investasi.
Mungkin hanya tiga bulan akan kembali mas," ucapnya yakin.
"Dik, kau harus lebih pinter lagi mengatur keuangan kita. Beberapa bulan terakhir ini perusahaan mengalami kerugian besar. Karna itu para karyawan tidak dapat bonus dan hadiah seperti biasa." terang Pras merasa cemas.
"Iyaa mas, lagian aku sudah berusaha menghemat kok."
"Cicilan mobilmu masih berjalan beberapa bulan lagi. Belum tagihan tagihan yang lainya.
"Mendengar kata mobil. Nadia terkesiap.
Pras tidak tau kalau surat mobil itu sudah di gadaikan.
"Iya, mas. aku ngerti kok. Justru karna itu sangat tepat kita ikut bisnis dari Susi ini," cicit Nadia.
"Mas berharap semua berjalan harapan."
Pagi harinya..
"Kau jdi pergi?'Nadia mengangguk sambil berkata, "Mumpung waktunya di jam belajar mereka."
Keetemu Lena sebentar saja.katanya mau memperkenalkan aku dengan seorang guru spiritualnya. Selama ini Lena rajin mengikuti kajian kajianya."
Feeling Pras tidak enak. Ia tak tau kenapa. Tapi ia tidak mau membahasnya. Karna pasti Nadia tidak mau mendengarnya.
"Mas cuma mohon, hati hati berinteraksi dengan orang baru. Dan bagaimanapun sibuknya, kamu harus menomorsatukan anak anak." pras mengingatkan isrinya.
"Mas tinggal dukung aku, maka semua akan baik baik saja." ucap Nadia tersenyum manis.
Saat Pras sudah hendak berangkat. Tiba tiba Toni muncul di hadapan mereka.
Pras dan Nadia kaget melihatnya.
"Kapan datangnya Ton?" tanya Nadia menyambut Toni.
"Kok mbak nggak liat."
"Semalam mbak ..."
__ADS_1
"Apa dong oleh olehnya nih ?" canda Pras.
Dan bagaimana bisnis yang sedang kau rintis itu?" sambung Pras lagi sambil menyeruput kopinya.
Toni tampak ragu.
" Bisnisnya gagal. Dan ini nih, oleh oleh yang dia bawakan untuk kita," tiba tiba saja bu Warsih sudah di situ dengan tanganya kirinya memegang sapu dan tangan kananya memegang tangan seorang wanita berpipi gendut.
"Apa apaan ini?" tanya Pras tidak mengerti.
"Kilahnya mau merantau, tapi lihat perbuatanya. Dia sudah kepergok di kamar dengan wanita ini. akhirnya mereka di paksa menikah oleh warga." kata bu Widya sambil memukuli kaki Toni dengan sapu.
"kenapa pulang kesini sih Ton," sesal Nadia.
"Aku harus pulang kemana lagi mbak? Rumah di kampung sudah ibu jual.
"Ibu mohon pada kalian. Kasi tempat buat mereka di rumah ini," bu Warsih mengeluarkan jurus andalanya.
Akhirnya Pras tidak tega juga.
"Terserah kalian lah. Mas berangkat dulu ya." sesampainya di garasi, ia tertegun.
...Pras heran melihat seorang pria paro baya sedang celingukan mengintip kedalam....
"Cari siapa pak?"
Pria itu tertegun sejenak. Lalu dia balik bertanya, "Benar disini rumah dik Warsih?"
"Dik Warsih?" tanya Pras bingung.
Pria itu mengangguk pasti.
Saat itu Nadia menghampiri mereka karna mendengar suara ribut ribut.
"Dia cari siapa Mas?" tanya Nadia sambil mengamati Pria di depanya.
"Warsih kan i- bu.," ucap Nadia pelan.
"Maksud bapak, Warsih yang orangnya tinggi, rambut kriting dan
seumuran bapak lah mungkin?"
"Iya betul nak. Dimana dia?"
"Bikin ulah apa lagi si ibu." Nadia menggerutu sebelum ahirnya memanggil bu Warsih,
"Ibuu! sini cepat!"
Bu Warsih yang sedang bersama menantu barunya, bergegas keluar oleh teriakan Nadia.
Dari pintu bu Warsih dapat melihat dengan jelas, siapa yang sedang berbicara dengan Nadia.
"Mati aku! itu kan paijo. Ngapain dia kesini?"
Bu Warsih merasa panik. Apalagi di depan ada Pras juga. lalu dia menghampiri Mar yang sedang beberes di dapur.
"He Mar, kamu keluar geh! bilang pada mereka yang di depan kalau saya sedang keluar dari tadi. Cukup bilang itu saja!" kata bu Warsih dengan galak.
Mar yang tidak tau apa apa jadi bingung di buatnya.
"Memangnya di depan ada siapa Eyang?"
"Gadis bo**h! Malah banyak tanya. Ayo cepat sana!"
Bu Warsih mendorong tubuh Mar agar cepat keluar.
"Mana ibu Mar?" Sambut Nadia saat melihat Mar yang datang.
__ADS_1
"Anu bu, Eyang sedang keluar. Bahkan dari tadi pagi," jawab Mar gugup.
Nadia dan Pras merasa heran.
"Kamu tidak bohong kan Mar?" tanya Pras yang sebenarnya sudah tau kalau Mar di suruh berbohong oleh bu Warsih.
Mar hanya berani menggeleng.
"Bapak dengar sendiri kan? Ibu saya sedang keluar. Sebenarnya ada urusan apa dengan ibu?" cecar Nadia.
"Kamu urus sendiri Dik, Mas berangkat sekarang," kata Pras seraya masuk ke mobil.
"Sekarang tolong jelaskan sama saya!"
"Dik Warsih memakai uang saya mbak, katanya cuma tiga hari mau di ganti. Ini sudah sepuluh hari. Padahal uang itu mau saya kirim ke kampung." ucap Pria itu dengan sedih.
Nadia tercengang.
" Berapa uang bapak yang di pakai ibu ssya?"
"Memang tidak banyak. Cuma satu juta."
Nadia kembali menghela nafas panjang.
"Gini saja pak, nanti bapak kembali lagi kesini kalau sudah ada ibu saya. Saya buru buru mau keluar soalnya."
Pria yang berprofesi tukang kebun itu ahirnya mengerti dan pergi.
Bu Warsih menggerutu kesal , karna Nadia menyuruhnya kembali lagi.
***
Setelah mengantar si kembar kesekolah, Nadia melajukan mobilnya dengan cepat ke tempat yang sudah di janjikan Lena.
"Hey.. Kirain nggak jadi datang," sambut Lena sambil merangkul Nadia.
"Saya belum terlambat kan?" jawab Nadia sambil cipika cipiki.
"Tentu belum," ujar Lena sambil melirik jam di pergelangan tanganya.
Lena seorang wanita yang telah di selingkuhi suaminya.Mereka akhirnya bercerai saat Lena tengah mengandung anak kedua.
Pahitnya kenyataan hidup membuatnya putus asa dan hampir mengahiri hidupnya. Di situlah awal mula dia bertemu dengan seorang ustadz. sejak saat itu pula dia rajin datang sekedar untuk mendengarkan kajian kajianya.
Itulah sepenggal cerita tentang Lena. Cerita itu pun Nadia mengetetahuinya dari Lena sendiri.
Selain kasihan, rasa kagumnya terhadap Lena membuat Nadia merasa simpati.
"Ayo kta berangkat?" ajaknya tersenyum.
Nadia mengiyakanya.
Masih di dalam mobil saat ponselnya bergetar. Ternyata pesan dari Susi.
[Jadi transfer hari ini?]
[Jadi, aku sudah bilang suamiku. Tunggu saja] balas Nadia sambil menyertir.
"Susi," kata Nadia pada Lena yang menatapnya seolah ingin tau siapa yang mengirim pesan.
"Bagaimana bisnismu dengan Susi?"
"Alhamdulillah sejauh ini sesuai harapan."
"Syukurlah kalau begitu."
💕Mohon dukunganya!!
__ADS_1