Di Antara Dua Hati

Di Antara Dua Hati
PART. 21


__ADS_3

Sore harinya, Bradd kembali ke rumah, Teresa menyambutnya.


"Jenny di mana?"


"Di kamarnya Tuan?"


"Masih tidur?"


"Tadi siang Nona bangun, mandi lalu makan, Nona sangat senang dengan hadiah dari Tuan."


"Syukurlah, aku ke atas dulu Teresa," pamit Bradd.


"Ya Tuan," kepala Teresa mengangguk, ia tersenyum melihat tingkah Bradd yang tampak penuh semangat.


"Jenny," Bradd masuk tanpa mengetuk pintu, dan dilihatnya Jenny terbaring telentang di atas ranjang. Kaki dinaikan ke atas, telapaknya menjejak dinding kamar, lututnya bergoyang-goyang, kepalanya menggeleng-geleng, headset menutup telinganya.


Bradd tersenyum melihat tingkah istrinya, senyumnya lebih lebar lagi saat melihat Jenny mengenakan kemejanya yang tadi siang ia selimutkan ke tubuh Jenny.


"Hallo," Bisik Bradd, saat ia melepaskan sebelah headseat di telinga Jenny. Jenny menolehkan kepala, ia langsung melompat bangun.


"Daddy!" Jenny berseru ceria, direnggutkan headseat dari telinganya, lalu ia menubruk Bradd, hingga tubuh Bradd terjengkang di atas ranjang. Jenny tertawa riang, ia duduk di atas perut Bradd, tubuhnya membungkuk, bibirnya langsung menyambar bibir Bradd.


Bradd merapikan rambut Jenny yang berjatuhan ke atas wajahnya. Jenny melepaskan ciumannya, digulung rambutnya ke atas asal saja, lalu ia kembali menunduk untuk melanjutkan ciumannya. Bradd membuka kancing kemeja Jenny, Jenny melakukan hal yang sama pada kemeja Bradd. Setelah kancing Jenny terlepas semua, Bradd meloloskan kemeja itu melewati kedua tangan Jenny. Baru ia mendekap punggung Jenny, dan membawa Jenny berguling bersamanya. Kini Bradd yang menguasai bibir Jenny. Jenny berusaha melepaskan kemeja Bradd, setelah kemeja Bradd terlepas, tangan Jenny berusaha melepas celana Bradd. Tapi Bradd memundurkan tubuhnya, mulutnya menggapai ujung dada Jenny.


"Ooh, Daddy!" Jenny mendesah saat Bradd berusaha melepaskan celana dalamnya, dan jemari Bradd langsung beraksi mencumbu miliknya.


Tubuh Jenny menggelinjang, saat badai gairah menerjang tubuhnya, membawa jiwanya melambung, dan terhempas dalam rasa nikmat yang menerpa tubuhnya. Bradd turun dari atas ranjang, sementara Jenny masih menikmati sisa orgasmenya akibat permainan jemari Bradd.


Bradd melepaskan celananya, lalu kembali naik ke atas ranjang, siap untuk menuntaskan hasrat yang sudah ia tahan sejak tadi siang.


🌼🌼🍍🌼🌼


Pertarungan mereka sudah usai, Bradd membawa Jenny berguling, sehingga Jenny berbaring tertelungkup di atas tubuhnya. Bradd mengusap punggung Jenny lembut.

__ADS_1


"Daddy, apa ini sudah masuk hitungan malam kedua?"


"Hmmm, kenapa?"


"Kalau sudah, berarti aku tidak perlu pakai baju tidur pemberian Daddy"


"Kamu suka apa yang sudah aku beri?"


"Suka semuanya Daddy. Daddy romantis sekali, aku tidak menyangka." Jenny mengangkat kepalanya.


"Ehmm, nanti malam, setelah kita makan malam, pakai ya." Bradd menyentil puncak hidung Jenny.


"Nanti malam, aku boleh tidur seperti inikan, Daddy?"


"Tentu saja boleh"


"Daddy belum mandi, aku juga belum. Mandikan aku ya Daddy," mohon Jenny bernada rengekan.


"Kita mandi sekarang ya"


"Iya Daddy," Jenny tersenyum ceria. Bradd turun dari atas ranjang, dengan Jenny di dalam gendongannya. Dibawa Jenny masuk ke dalam kamar mandi, seperti keinginan Jenny, Bradd memandikan Jenny, tapi tentu saja kali ini berbeda dengan saat dulu, karena mereka bukan hanya sekedar mandi, tapi tubuh mereka terbakar gairah kembali, meski air jatuh membasahi.


🌼🌼🍍🌼🌼


Hari ini, Jenny ke luar dari dalam kampus lebih cepat dari biasanya. Ia berjalan bersama teman-temannya. Angelica yang menunggu sejak tadi ke luar dari dalam mobil. Di dekatinya Jenny yang berdiri tergugu melihatnya. Jenny membiarkan teman-temannya pergi lebih dahulu, karena ia tidak ingin teman-temannya mendengar pembicaraan antara dirinya dengan Angelica.


"Hallo Jenny," Angelica ingin meraih bahu Jenny, tapi Jenny mundur dua langkah.


"Jangan mendekat!" Jenny mengangkat telapak tangannya, untuk mencegah Angelica mendekatinya.


"Jenny, aku ibumu, bukan penjahat yang ingin menculikmu!" Seru Angelica gusar.


"Ya, aku berterimakasih pada anda Nyonya. Karena sudah mengandung, dan melahirkan aku. Tapi ingat, hanya sampai disitu peranan anda sebagai ibu. Dan, hal itu tidak membuat anda bisa sesukanya terhadapku!"

__ADS_1


"Jenny, tidak bisakah kita berdamai, tolong ijinkan aku memelukmu, meski hanya sebentar saja," mohon Angelica.


"Kenapa baru sekarang anda ingin memelukku Nyonya. Anda tiba di kota ini sudah berbulan-bulan yang lalu. Jika niat anda tulus padaku, pasti sejak pertama datang anda langsung mencariku, memelukku, membujukku, tapi semua itu tidak anda lakukan bukan!?"


"Jenny, aku adalah ibumu, aku lebih berhak atas dirimu dari pada Bradd!"


"Kenapa anda berkata begitu Nyonya, anda boleh saja sudah mengandung, dan melahirkan aku. Tapi daddy yang sudah membesarkan, dan menjagaku. Sampai dia mengorbankan kehidupan pribadinya, dengan tidak pernah menikah. Bukankah daddy juga memiliki hak atas diriku?" Sahut Jenny, berlagak ia tidak tahu kalau Bradd bukanlah daddynya.


"Kamu tidak tahu apa-apa tentang Bradd, Jenny. Dia tidak seperti yang kamu bayangkan, dia.... "


"Cukup Nyonya! Sepanjang hidupku, aku hidup bersama daddy, aku lebih tahu seperti apa daddy dari pada anda. Jika anda ingin membujukku agar aku mengikuti anda, lupakan saja hal itu!" Jenny berjalan meninggalkan Angelica, Angelica mengikutinya, dan masih berusaha menggapai bahu Jenny.  Tapi Jenny memutar tubuhnya, ditatap tajam wajah Angelica.


"Apa yang anda lakukan tidak tulus Nyonya. Anda mendekatiku hanya sebagai upaya untuk mengambil harta warisan kakekku, benarkan!?"


"Siapa yang mengatakan hal itu padamu, Jenny. Apa Bradd yang mengatakannya?"


"Aku sudah cukup dewasa untuk bisa menilai seseorang, Nyonya. Tidak perlu melibatkan daddy dalam hal ini!"


"Jenny, dengarkan aku, Bradd itu bukan.... "


Suara klakson yang cukup nyaring membuat ucapan Angelica terhenti. Simon menghentikan mobilnya di dekat kedua wanita itu. Simon ke luar dari dalam mobil.


"Silahkan Nona," Simon membuka pintu mobil, dan mempersilakan Jenny untuk masuk.


"Jenny, kita belum selesai bicara!" seru Angelica gusar.


"Anda ingin bicara atau ingin bertemu dengan Nona, silahkan minta ijin dulu pada Tuan. Jangan seperti ini Nyonya," ucap Simon bernada kalem saja.


"Minta ijin? Aku ibunya Simon, sejak kapan seorang ibu harus meminta ijin untuk bertemu putrinya sendiri!"


"Itu hanya berlaku untuk ibu seperti anda, Nyonya. Selamat siang," Simon masuk ke dalam mobil, tanpa menghiraukan lagi Angelica yang menatap marah kepadanya. Sedang Jenny sudah sejak tadi menutup telinga dengan headseat sambil memejamkan matanya.


🌼🌼🍍BERSAMBUNG🍍🌼🌼

__ADS_1


__ADS_2