
Sudah dua hari Kenzo menghilang. Kedua orang tua dan kakaknya sangat khawatir dengan keadaannya yang belum diketahui.
Orang-orang terpercaya sudah Kenji kerahkan untuk mencari tahu di mana keberadaan putranya. Tapi tetap saja tidak ada kabar baik dari mereka yang mendapat perintah Kenji.
Bukan hanya Kenji, Khanza pun bergerak mencari adik kesayangannya. Wanita itu diperintahkan sang ibu untuk mencari putra kesayangannya sebab hatinya sangat khawatir atas keadaan si bungsu.
Sebuah mobil berhenti di pinggir jalan karena si pengemudi mendapat panggilan. Ponselnya berdering nyaring membuat si pemilik menghentikan sejenak kendaraannya untuk menjawab panggilan itu.
Matanya menatap layar ponsel. Nama yang tertera di layar datar itu adalah ... "Kuya"
"Apa udah ketemu?" tanya Khanza setelah menggeser warna hijau di layar benda pipih nya.
"Belum ada tanda-tanda keberadaannya," jawab orang yang bernama Kuya itu dari sebrang.
"Kira-kira, ke mana anak itu akan pergi?" tanya Khanza lagi.
"Saya nggak tahu, Nona Muda. Mungkin Anda yang lebih tahu," ujarnya datar.
"Asem lu ah, bukannya ngasih pendapat malah balikin kata-kata gue. Gue emang Kakaknya, tapi dia 'kan bukan anak kecil yang harus dipantau setiap waktu." ketus Khanza.
Vincent memangkas cepat. "Nah, itu maksud saya!"
Khanza menepuk keningnya pelan. Entahlah dia harus berkata apa lagi sebab asisten pribadinya itu benar-benar membuatnya bingung. Dingin, kaku, dan datar.
"Elu pernah ditendang gajah sambil salto gak?" tanya Khanza kesal.
"Tidak pernah dan tak kan pernah mau, Nona. Apa mungkin Nona Muda mau mencobanya?" ujar Vincent balik bertanya.
Khanza membulatkan matanya dengan sempurna. "Mati aja lu sekalian," bentak wanita itu dengan mematikan sambungan telponnya. "Astaga ... si kuya bikin gue darah tinggi!" keluh Khanza kesal kepada asisten pribadinya.
__ADS_1
Helaan nafas terdengar berat. Khanza memejamkan mata dengan kepala menyandar di bantalan jok kemudi. Tangannya menggenggam erat kemudi. "Kenzo ... di mana sih lu?" nada khawatir terdengar. "Walaupun gue kesal sama adik lucknat itu, tapi dia adik gue satu-satunya!" lanjutnya kemudian.
Ponsel Khanza kembali berdering, namun ia tak melihat siapa yang menghubunginya. "Ada apa lagi sih, Kuya?" Khanza bertanya dengan nada tinggi.
"Siapa kuya?"
Mata Khanza terbuka, kemudian menatap layar ponselnya. "Mommy!" desisnya pelan meringis sembari menggigit ujung lidah.
"Kak, kamu masih di sana?" panggil Kelly kepada putri pertamanya.
Khanza menjadi malu dan canggung karena ternyata Nyonya Kelly atau Mommy nya yang menghubungi, bukan Vincent. Lebih tidak enaknya lagi, dia langsung membentak dengan nada tinggi ibunya itu.
"Ah i-iya, Mom. Aku masih di sini, kok!" sahut Khanza gugup.
Kelly berkata lirih. "Mommy cuma mau tanya, apa kamu sudah mengetahui keberadaan Kenzo?" tanya Nyonya Kelly dari sebrang.
"Belum, Mom. Kalau nanti Kenzo sudah ketemu, pasti Khanza kabari!" tuturnya meringis masih malu dengan kejadian tadi. "Mm ... Mom, maaf ya!" lanjutnya kemudian.
"Tadi Khanza udah bentak Mommy. Khanza pikir yang tadi menghubungi itu si Kuya!" jelasnya kemudian. Untung ibunya itu tidak melihat ekspresi wajah Khanza saat ini. Dia menggigit-gigit bibir setelah mengucapkan kata-katanya tadi.
"Nggak apa-apa, Nak. Tapi Mommy penasaran sama si kuya. Emang dia itu siapa sih, Kak?" tanya Nyonya Kelly kemudian.
"Si kuya itu robot yang suka ngikutin Kakak ke mana-mana!" tuturnya sebal dengan ekspresi berapi-api.
"Robot yang suka ngikutin? Maksud kamu ... Vincent?" tebak Nyonya Kelly.
Sang ibu lebih pintar dari dugaan Khanza. Dia bisa menebak hanya dengan diberi clue seperti itu, padahal jika orang lain mungkin belum tentu mengerti siapa yang dimaksud.
Khanza tercengang karena ternyata sang ibu tahu siapa orang yang dimaksudnya itu. "Kok Mommy bisa nebak sih kalau yang aku maksud itu Vincent?!"
__ADS_1
"Ya ... cuma nebak aja." sahut Nyonya Kelly.
"Hemh. Ya udah deh, Mom. Aku tutup telponnya dulu ya, mau lanjut nyari Kenzo lagi. Nanti aku kabari Mommy kalau udah ketemu!" kata Khanza mengakhiri.
"Kabari Mommy secepatnya ya, Nak!" pinta Kelly.
"Mommy jangan khawatir ya, biar aku yang nyari Kenzo." tuturnya menenangkan.
Kelly terdiam sejenak sebelum melanjutkan ucapannya lagi. "Khanza, tolong sampaikan maaf Mommy kepada Ken ya! Mommy enggak bisa menolongnya untuk ..." nada bicara Kelly terdengar lirih_sepertinya wanita paruh baya itu sedang terisak.
Mendengar ibunya menangis, Khanza pun berusaha menenangkan. "Mom, ini semua bukan salah Mommy atau pun Kenzo. Ini semua hanya karena perjodohan sialan itu yang direncanakan Opa dan Daddy. Wajar jika Kenzo menolaknya dan Mommy tidak bisa menghentikannya. Aku tahu sifat Opa dan Daddy. Keduanya sama-sama egois," cetus Khanza penuh kekesalan. Dia memang kesal terhadap sikap ayah dan kakeknya yang selalu memaksakan kehendak terhadap anak-cucunya.
Nyonya Kelly menghela nafas panjang, kemudian menghembuskan kembali secara perlahan sebelum berkata lagi. "Khanza, pokoknya Mommy cuma minta tolong temukan dia bagaimana pun caranya! Mommy nggak perduli di mana dia berada, yang penting dia harus ditemukan!" pintanya penuh harap.
Khanza mengangguk walaupun ibunya tidak melihat. "Iya, Mom. Ya udah, Kakak akan mencari lagi Kenzo kemana pun tempat yang sering dia datangi. Mommy tunggu kabar dari Kakak atau Vincent aja ya," tukasnya terus berusaha menenangkan hati sang ibu.
Panggilan pun berakhir setelah Khanza menggeser warna merah di layar ponselnya. "Ke mana lagi harus nyari elu sih, Ken?" wajah gusarnya terlihat begitu cemas. Khanza tidak menyangka jika kejadiannya akan seperti ini.
Kenzo memang sangat sensitif jika berhubungan dengan hal perjodohan walaupun dirinya sering tidak bisa menolak keinginan ayah atau kakeknya. Dia akan berbuat nekad dan tidak memperdulikan apapun walaupun itu keselamatannya sekalipun.
"Maafin aku, Ya Tuhan! Aku sering memanasi Kenzo agar membantah perintah Daddy ataupun Opa, walaupun Mommy udah melarang untuk bicara. Seharusnya aku denger omongan Mommy dan mengabaikan semuanya. Tapi ... dia juga harus tahu yang sebenarnya," desisnya lirih dengan wajah frustasi.
Mobil Khanza melaju kembali di jalan beraspal, menembus gelapnya malam. Walaupun malam sudah semakin larut, tapi wanita muda itu tidak perduli dan tetap melanjutkan perjalanan untuk mencari sang adik demi kebahagiaan hati ibunya.
Walaupun Kenzo terbilang pemuda yang jahil dan menyebalkan, tapi Khanza sangat ... Sangat menyayangi adiknya itu. Terlebih, perlakuan ayah dan kakeknya yang selalu menekan Kenzo serta memaksakan kehendak untuk pemuda tersebut.
Entahlah Khanza harus mencari ke mana lagi keberadaan adik tersayangnya itu sebab satu-satunya orang yang dekat dengannya saat ini tidak tahu-menahu tentang kabar Kenzo.
Gadis itu adalah Kayla, gadis yang diklaim sebagai pacarnya Kenzo itu tidak masuk sebab sedang sakit. Jadi, ke mana lagi Khanza harus mencarinya?
__ADS_1
...Bersambung ......