
"Kamu telah memberikan aku banyak kesempatan dalam hidupku, bahkan sejak kamu datang masih dalam kandungan di masa kanak-kanakku pun, aku tidak sadar bahwa kamu telah membuat ikatan denganku." Windu tak lagi bisa menahan setitik air mata yang menggantung di sudut matanya.
"Kamu ingat tentang surat dari surga?" Dara berbisik di telinga Windu.
Mendengar pertanyaan itu tubuh Windu terasa gemetar, ingatannya melayang pada bertahun-tahun silam, saat dia hampir menceraikan Dara.
"Tahukah kamu, surat mama itu begitu pendek, bahkan aku mengira mama tak menyayangiku, sehingga dia hanya memintaku menuruti apapun keputusanmu saja, sementara aku tahu saat itu kamu begitu membenciku." Dara berucap, dagunya berada di pundak Windu, suaranya begitu bening.
"Tapi, aku sama sekali tak menyesalinya sekarang, ketika kamu memilih untuk bertahan denganku, meski kamu tak mencintaiku."Dara tertawa kecil di telinga Windu.
"Sttt..." Windu menoleh ke wajah Dara, sesaat hidung mereka bertemu, des@h nafasnya mereka bertukar saling memburu perlahan.
"Maafkan aku, maafkan aku..." Air mata Windu jatuh begitu saja, Dara tak berkedip memandangnya
"Kamu telah begitu banyak meminta maaf, sayangku. Mulai hari ini jangan pernah melakukannya lagi." Dara menyeka air mata suaminya itu dengan ujung jarinya.
"Mama pernah bilang, dia memberikanmu sebagai istriku, karena hanya kamu yang bisa menjagaku. Sekarang aku percaya dengan segenap jiwaku, jika bukan kamu istriku, belum tentu aku bisa menerima pengorbanan sebesar ini dalam hidupku." Windu meraih leher Dara dan menciumi pipi istrinya itu.
"Dalam tubuhku ini, ada jantung kakakmu dan kini kamu menambahnya dengan ginjalmu. Sungguh berat utang hidupku padamu, Dara. Jika aku sampai menyia-nyiakanmu, maka aku percaya Allah akan mengutukku." Windu berbisik parau.
"Allah telah menciptakan kita dan membuat kita berjodoh sedemikian dalamnya. Bagaimana bisa Allah mengutuknya? Aku bergantung padamu di dunia ini sebagai imamku. Tak ada alasan untukku tak membagi separuh nyawaku padamu." Dara beringsut dan memeluk leher Windu.
__ADS_1
"Aku menyesal telah mengucapkan banyak hal buruk di awal pernikahan kita..."
"Stttt...." Dara menyela dan menutup bibir Windu dengan bibirnya sendiri.
Bibir Windu yang kering gemetaran, saat Dara mengecupnya dengan lembut.
"Aku mencintaimu, dari awal aku melihatmu sebagai kak Win yang tampan, tak ada rasa dendam yang pantas di sandingkan dengan cintaku padamu. Jika aku kembali ke masa itu, aku tetap menelan rasa sakitnya tanpa menyesalinya, jika akhirnya kamu tulus mencintaiku." Ucap Dara lembut.
"Aku...mencintaimu Dara, aku mencintaimu bahkan dari sebelum aku menyadarinya. Aku mencintaimu bahkan saat aku mengucapkan semua hal jahat itu. Aku mencintaimu...lebih dalam dari yang kamu tahu." Tubuh ringkih Windu bergoncang ketika Dara memeluknya begitu erat dari belakang punggungnya.
"Kak Win, lihatlah ke langit malam sana..." Dara menunjuk ke luar kaca.
"Aku akan mendampingimu melewati hujan dan badai, dalam sehat dan sakitmu. Sampai maut benar-benar memisahkan kita."
Windu tak bisa berkata-kata lagi, kecuali memeluk lengan Dara sekuat-kuatnya. Memunajatkan doa, berharap Istrinya itu tak hanya mendampinginya di dunia tetapi sampai ke Surganya Allah. Dia tak ingin ada orang lain selain Dara, di alam manapun dia berada nantinya
Suara rengekan Sunny menyadarkan mereka, anak mereka itu menggeliat di atas tempat tidur. Keduanya sama-sama menoleh ke sana, tetapi Sunny hanya sekedar menggeliat mengganti posisinya, kemudian kembali terlelap. Senyumnya terlukis di bibir mungilnya, sepertinya bayi berumur 8 bulan itu sedang mimpi indah.
Dara dan Windu berpandangan sesaat, lalu saling melemparkan senyum.
"Terimakasih telah menjadi istriku dan ibu dari anakku..." Bisik Windu lembut sembari berdiri, lalu menarik tubuh istrinya itu kepelukannya.
__ADS_1
...*****TAMAT*****...
Pembaca tersayang, terimakasih sudah mengikuti cerita ini,
Dan jika pagi tunai, ada terik yang menunggu. Lewatlah sengatan matahari yang memerihkan kulit, yakinlah senja tentu akan menunggu, berbias merona sementara gelap tetap di tempatnya menunggu di sapa. Begitu seterusnya. Bukankah, kehidupan manusia serupa alam?
Jika panas, keringkan lukamu. Jika hujan, nikmati rindu. Jika gelap, biarkan harapan menuntunmu. Mentari akan selalu terbit, di ufuk timur dan senja dalam sabar di belahan barat. Seperti itulah hidup.
Akhirnya, terimakasih telah membaca perjalanan kisah cinta Dara dan Windu, mereka yang di satukan dari ketiadaan perasaan tetapi akhirnya di kalahkan oleh cinta yang hadir dalam dua hati bersama waktu.
Yah, waktu adalah mesin untuk memulihkan hati, waktu juga adalah obat untuk untuk setiap luka dan waktu memberi ruang rindu pada setiap hati yang bertahan untuk mengenal perasaannya masing-masing.
Dan saat ikatan suami istri itu telah mengikat hatimu, percayalah...cinta yang semula tiada itu akan tumbuh dengan sendirinya dengan kebersamaan. Kadangkala cinta datang pada dua hati karena terbiasa.
I LOVE YOU ALL, jangan lupa mampir ke novel othor yang lain, ya...di tunggu🙏☺️❤️❤️❤️❤️
...Dukungan dan VOTEnya author tunggu selalu, ya😅...
...Apalah artinya author tanpa kalian semua, bagaikan sayur tanpa garam😅...
...Jangan lupa KOMEN dan LIKE di bawah, please...please...❤️...
__ADS_1