Di Antara Dua Hati

Di Antara Dua Hati
BAB 89 TAKUT SALAH PAHAM


__ADS_3

Dicky muncul dari balik pintu, sepeninggal Novi yang keluar tadi dengan wajah kesal membuat Ricky tak tahan untuk tidak masuk ke dalam ruangan bossnya sekaligus teman baiknya itu, dia tampak cemas dengan bosnya itu.


Sebagai asisten lama Windu, yang menghandel semua pekerjaan Windu jika Windu sedang tidak di tempat, Ricky mengenal Novi, bahkan dari mereka masih berpacaran bertahun-tahun yang lalu, sebelum Windu menikah dengan Dara.


"Bos, semua baik-baik saja?" Tanya Ricky sambil menutup pintu.


"Semua baik-baik saja."


"Tapi Novi sepertinya marah."


"Hanya salah paham, Rick." Windu cengengesan mengingat bagaimana sikap pedenya yang telah membuat Novi jengkel.


"Tidak bagus bos ketemuan sama mantan, bisa jadi gosip." Ricky nyengir.


"Aku tahu..." Sahut Windu.


"Kalau ketahuan istri bos, ntar dia bisa kabur lagi, lho..." Goda Ricky, dia lega melihat bos sekaligus temannya itu tak menunjukkan rasa tertarik lagi pada mantan pacarnya yang seksi itu.


"Ya, bisa barabe, Rick...sekarang Dara moodnya lagi tak jelas, kalau sampai dia ngambek, susah urusannya." Windu menunjukkan undangan pernikahan di atas meja.


"Itu undangan pernikahan Novi, dia cuma mengantarkan ini kemari."


"Oooh...." Disambut anggukan kepala Ricky, tanda mengerti.


"Tapi kenapa mukanya keluar tadi lebih masam dari belimbing tunjuk?" Tanya Ricky sembari mengambil beberapa dokumen yang tersusun di atas meja kerja Windu.


"Lah, kenapa nanya aku? mana ku tahu." Windu menggedikkan bahunya.


"Jangan pernah memberi kesempatan untuk bermain mata dengan masa lalu bos, ntar masa depanmu mengamuk. Apa lagi dia mau nikah."


"Astaga, Rick...kamu curiga aku main mata sama Novi, begitu?" Windu berujar kesal, matanya melotot pada Ricky.


"Ya, asisten kewajibannya mengingatkan saja bos..." Ricky terkekeh.


"Masih teringat dulu, waktu boss ngejar-ngejar Dara ke jogja, Dalam sehari bisa bolak balik naik pesawat Jakarta-Jogja. Yang rempong asistenmu ini, bos...mesan tiket mendadak, handle meeting yang cancel, di omelin bos besar. Masih trauma akunya bos..." Ricky tergelak.


Windu cuma masam-mesem, Ricky mengingatkannya pada kenangan-kenangan lama di awal pernikahannya.


"Kamu mending trauma, aku yang berdarah-darah demi Dara, belum lagi saingan bocah muka tembok...perasaan harga diriku terinjak-injak sebagai laki-laki macho." Seloroh Windu membuat tawa Ricky makin panjang.


"Bos, aku tadi mau ngomong sesuatu, tapi tertunda tuh gara-gara Novi nyelonong kemari." Akhirnya Ricky menghentikan tawanya, lalu berbicara serius.


"Mau ngomong apa?"


"Aku minta cuti dua minggu, bos."


"Hah, cuti?" Windu mengeryit dahinya.

__ADS_1


Ricky menganggukkan kepalanya.


"Kamu mau cuti kemana?" Windu bertanya penuh selidik kelihatan keberatan.


"Aduh, si bos mah suka lupa. Istriku besok melahirkan, di jadwalkan dengan tindakan caesar."


"Ooooh...Wiwi melahirkan?"


"Iya."


"Melahirkan sehari, kok kamu cutinya dua minggu?"


"Ya, namanya juga anak pertama bos, aku mau hadi suami siaga membantu Wiwi, masa habis melahirkan ku tinggal-tinggal, apalahi pasca operasi biasanya susah bergerak."


"Waaaah, kamu suami teladan, ****..." Windu memuji Ricky sambil berdecak, yang terdengar begitu idealis sebagai suami.


"Nanti boss juga akan merasakan euforianya, kalau istri Boss mau melahirkan." Ricky tersipu.


"Ya, sudahlah...kamu boleh cuti, tapi yang mengurus semua pekerjaanmu siapa?"


"Ada yang bersedia menggantikan pekerjaanku, membuat jadwal, memeriksa janji temu dan meeting, sekaligus memeriksa dokumen yang harus segera di tangani. Kemarin aku sudah crosscek dan interview yang cocok untuk sementara menggantikan aku selama dua minggu ini."


"Oh, ya...kamu cepat tanggap juga, Rick."


"Yaaa, nanti susah minta cuti kalau kerjaan tidak ada yang handle. Jadi aku sudah siap-siap." Ricky cengengesan sambil mengangsurkan beberapa dokumen yang belum di randa tangani Windu karena selama dua hari ini dia tidak turun ke kantor.


"Akan aku panggilkan..." Ricky berdiri dan keluar, meninggalkan Windu sejenak.


Beberapa waktu kemudian dia muncul dengan seorang gadis cantik berambut coklat, meskipun hidungnya terlihat besar tapi begitu serasi dengan dagu belahnya yang manis.


...



Fuji...


"Perkenalkan bos, ini yang akan menggantikan aku sementara, namanya Fuji." Ricky mengerling pada wanita yang berdiri di sampingnya dengan senyum ramah.


"Ohhh..." Windu menaikkan alisnya, tampak bengong melihat mahluk cantik di depannya itu.


"Fuji?"


"Ya, bos. Namanya Fuji Destari, dari bagian arsip."


"Selamat pagi, pak...saya Fuji." Gadis muda yang menawan itu membungkukkan badannya, sementara Windu berdiri dari duduknya, dengan sedikit canggung menyambut gadis yang baru di lihatnya itu.


"A...begitu, ya..." Windu memasang wajah sok coolnya itu, berpura-pura tidak melihat ketika Fuji tampak hendak mengangkat tangannya untuk menyalami Windu.

__ADS_1


"Kamu bisa tunggu sebentar di luar? aku mau berbicara sebentar dengan Dicky." Aura boss segera di tunjukkan oleh Windu, terlihat acuh.


"Oh, tentu saja, pak." Fuji mengangguk, meski wajahnya tampak bingung sejenak, barusan di panggil sekarang di suruh keluar lagi.


Sepeninggal Fuji, Windu langsung melotot pada Ricky.


"Kenapa harus perempuan muda begitu, hah? kamu mau menjebakku?"


"Menjebak apanya, bos? Lah, bos maunya yang bagaimana? yang sudah nenek-nenek?" Ricky balas bertanya tanpa dosa, senyumnya tertahan melihat bos sekaligus temannya itu nampak gusar.


"Dia masih lajang?" Tanya Windu mengernyit dahinya.


"Iya..."


"Kenapa yang masih lajang, kan bisa yang sudah menikah atau yang sedikit lebih tua..." Omel Windu kelihatan keberatan.


"Aduh, bos...cuma Fuji yang kinerjanya paling telaten urusan penjadwalan dan pemeriksaan dokumen, lagian dia sudah dua tahun kerja di sini, di bagian kearsipan, kurasa setelah interview singkat dia yang paling cocok."


"Sudah dua tahun kerja di sini?"


"Iya, bos aja yang tidak kenal karyawan sendiri."


"Karyawan ada ratusan di gedung ini, ya mana aku bisa kenal semua." Windu mengomel lagi.


"Yang laki-laki, memangnya tidak ada?"


"Tidak ada yang cocok, bos...ada yang modelan Harry potter tampilannya tapi tidak luwes ngomong, ada yang setampan Ryan Gossling tapi tidak cekatan dan mudah lupa, ada yang tua'an tapi tidak sanggup standbye calling, mudah encok. Aku harus kudu pilih yang mana?"


Windu menggaruk-garuk kepalanya, sambil matanya tetap melotot pada Ricky.


"Kamu suka bikin masalah untukku, Rick..." Keluhnya kesal.


"Masalah bagaimana?" Gantian Ricky yang melotot pada Windu.


"Aku malas berurusan dengan gadis-gadis begitu, aku takut Dara nanti salah paham." Ujar Windu kemudian.


"Ah, bos sensitif sekali, sih? Mana ada jadi masalah kalau bosnya profesional." Ricky terkekeh.


"Dan lagi, memangnya istri bos pernah cemburu sama bos? Rasanya yang cemburuan itu kamu, bos. Dara mah anteng saja." Ricky sekarang tergelak senang melihat Windu yang serius sekali mimiknya.


"Tapi, aku tidak enak dengan istriku..."



...Terimakasih sudah membaca novel ini❤️...


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...

__ADS_1


...I love you all❤️...


__ADS_2