Di Antara Dua Hati

Di Antara Dua Hati
Bab 148


__ADS_3

Happy reading


💕💕💕💕💕


"Kamu sudah selesai?” Reyhan menatap pantulan dirinya di cermin. Malam ini Reyhan mengenakan kaos putih model v neck dengan jas blazer warna hitam sesiku dipadu celana jins panjang. Sangat tampan.


Diana menghampiri Reyhan dan ikut memandang pantulan dirinya sendiri di cermin. Dia mengenakan midi dress warna hitam dengan motif flower. Dia tersenyum menatap pantulan wajah Reyhan. “Hmm, aku sudah siap.”


“Ayo, kita berangkat!” Mengulurkan lengannya.


Diana tersenyum, lalu menyelipkan tangannya ke lengan Reyhan. Malam ini mereka akan berangkat ke pesta Davin. Mereka berjalan bergandengan menuju mobil di mana sopir yang menjemput mereka di bandara tadi sudah menunggu.


Sopir langsung membukakan pintu mobil begitu melihat mereka datang. “Silakan Tuan dan Nona.” Sopir menutup pintu itu kembali begitu Reyhan dan Diana sudah berada di dalam mobil. Kemudian, dia duduk di kursi kemudi dan mulai melajukan mobil.


Diana sontak mencengkram erat lengan Reyhan begitu mereka melewati jalan yang tadi siang. Jalanan begitu gelap, hanya mendapat pencahayaan sinar rembulan. Itu pun tertutup oleh pepohonan besar yang ada di sepanjang jalan. Sesekali juga terdapat cahaya dari lampu hotel-hotel yang terletak di sisi kiri dan kanan sepanjang jalan itu.


"Apa kubilang, malam harinya lebih menyeramkan, bukan?” Diana mulai bergidik ngeri.


“Bukan seram Sayang, tapi eksotis.” Reyhan merangkul bahu Diana. “Ini yang disukai sama wisatawan asing yang berkunjung ke sini.”


Diana hanya diam, dia memilih menyusupkan wajahnya di dada Reyhan, tidak berani lagi melihat keluar jendela. Reyhan hanya mengulum senyum sembari mengusap-usap rambut Diana.


Setelah memasuki area bypass, Diana baru berani duduk tegak. Kebisingan pun sudah terdengar kembali.


“Kita akan ke hotel Davin yang mana, Pak?” tanya Reyhan pada sopir.


“Hotel yang di Kuta, Tuan.”


“Owh, yang katanya baru opening itu ya, Pak?”


“Betul Tuan, baru opening dua bulan lalu.”


“Jadi, Tuan Davin itu pengusaha properti?”


“Iya, dia mewarisi usaha keluarganya di sini.”


“Owh, Tuan Davin itu orang asli Bali?”


Reyhan mengangguk. “Ibunya orang Bali tapi Ayahnya orang asing.”


“Blasteran, dong, ya? Terus kenapa kalian bisa saling kenal, bukannya bisnis kalian beda?”


“Kita bertemu sewaktu kuliah. Jadi, aku dan Davin sama-sama ngambil Ekonomi dan Bisnis, sama kayak kamu,” kenang Reyhan, “semasih kuliah aku memintanya tinggal di rumahku saja karena kita sudah sangat dekat.”

__ADS_1


Diana hanya mengangguk mendengar cerita Reyhan.


“Kau tau, dia dulu sempat naksir Bella.” Reyhan tersenyum penuh makna mengingat kenangan itu.


“Oh, ya?” Diana menatap Reyhan curiga. Senyum Reyhan menimbulkan banyak tanya dalam benaknya. Mungkinkah ini semacam cinta segitiga antara Bella, Jimmy, dan Davin?


“Iya," angguk Reyhan.


“Apa mereka terlibat cinta segitiga?”


Reyhan tergelak. "Bella menolaknya!”


“Kenapa?” Diana penasaran. “Bukankah Tuan Davin itu blasteran, cakep dong pasti.”


“Karena Bella sudah punya Jimmy."


"Berarti benar kisah cinta segitiga."


"Bella itu penyuka pria dewasa.”


“Sama dong kayak aku.” Diana mengerling.


“Lagipula, Davin dan Bella beda keyakinan,” sambung Reyhan.


“Owh, iya, ya.” Diana manggut-manggut.


“Kenapa kita tidak menginap di sini saja?” tanya Diana saat akan memasuki lobby hotel. Netranya berbinar kagum menatap view di depannya.


“Daerah sini bising, tempatnya orang dugem. Gak cocok untuk berbulan madu, Sayang.” Mengecup pipi Diana sekilas.


“Tuan Reyhan, ya?” sapa pria berbadan tinggi besar yang berdiri di depan lobby.


“Iya betul,” jawab Reyhan.


“Saya utusan Tuan Davin. Mari saya antar, Tuan Davin sudah menunggu Anda.” Pria itu berjalan mendahului Reyhan dan Diana.


Mereka memasuki ballroom, tempat berlangsungnya pesta. Lampu remang-remang dan kelap-kelip, serta dentuman keras music DJ memenuhi seisi ruangan itu.


“Tuan dan Nona silakan duduk di sini dulu, saya panggilkan Tuan Davin.” Menunjuk sofa panjang yang ada di ruangan itu. Suaranya nyaris tidak terdengar, tertelan musik DJ.


Pria itu berjalan di antara kerumunan para tamu. Setelah beberapa menit dia muncul lagi bersama pria berbadan tinggi atletis. Pria mengenakan kaos warna gelap dipadu jas blazer warna putih tengah mendekat ke arah mereka. Reyhan segera berdiri menyambutnya.


“Hai, Rey, apa kabar loe?” Mereka tertawa sembari menyatukan tinju mereka, lalu beralih saling menepuk bahu.

__ADS_1


Salam persahabatan, begitu pikir Diana.


“Baik, loe sendiri?” Reyhan sudah memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.


“Yahhh, seperti yang loe lihat sekarang.”


“Masih jomblo juga? Move-on dong,” cibir Reyhan, “masak mau jadi perjaka tua.” Dia tergelak karena ucapannya sendiri.


“Enak aja loe.” Davin meninju bahu Reyhan pelan. “Jomblo sih iya, tapi perjaka?” Kedua pria itu tersenyum penuh makna.


“Oh, no! Impossible!” Mereka bicara bersamaan dan tergelak bersama.


Sementara Diana hanya mengulum senyum melihat tingkah dua pria itu. Sejenak Reyhan menoleh ke arah Diana. “Oya, Vin, kenalin istri gue.” Reyhan mengulurkan tangan, menginstruksi Diana untuk berdiri dan mendekat.


“Diana,” ucap Diana mengulurkan tangan kepada Davin.


“Davin,” balas Davin yang menjabat tangan Diana.


Meskipun lampu dalam keadaan remang-remang, tetapi Diana masih bisa melihat jelas ketampanan pria yang berdiri di hadapannya kini. Wajah kebulean dengan kulit putih dan bola mata biru. Menurut Diana, Davin tidak kalah tampan dari Jimmy. Bella beruntung diperebutkan dua pria tampan dan kebulean.


Begitu juga dengan Davin, dia merasa terpukau begitu melihat Diana. Cantik walau dengan makeup sederhana, pikirnya.


“Udah, jangan lama-lama! Entar loe naksir lagi sama istri gue.”


Diana segera menarik tangannya kembali, lalu mereka pun duduk bersama.


“Oya, kalian belum ambil minuman, ya?” Davin melirik meja di depan mereka yang masih kosong. Dia menjentikkan jari pada pelayan yang kebetulan lewat.


“Maaf, ada apa, Tuan?”


“Bawakan red wine ke sini!” perintahnya tegas.


Pelayan itu mengangguk patuh. “Baik, Tuan."


Davin membenarkan posisi duduknya, lalu menyalakan sebatang rokok. “Jadi, gimana bulan madu kalian? Menyenangkan berada di villaku?”


Reyhan dan Diana saling menatap penuh cinta. "Tentu saja, Vin. Kami sangat menyukai villamu, terutama kolam renangnya." Reyhan mengulum senyum, sedangkan Diana seketika menunduk malu. Wajahnya terasa panas hingga ke telinga mengingat kejadian di kolam renang tadi siang.




❤️❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


Yuhuuu, happy weekend all, semoga akhir pekan kalian menyenangkan 🎉🎉🎉


Jangan lupa jempol kalian ya, see you on next chapter guys😘


__ADS_2