
Setelah menempuh perjalanan jauh yang cukup melelahkan, Frans pun tiba di kampung halaman Nenek Arimbi, neneknya Kenzo.
Ya. Sepulang dari Jerman ia dikabari Khanza bahwa adiknya, Kenzo sudah menghilang lebih dari dua hari. Awalnya Frans cuek sebab ia mengira jika Kenzo pasti hanya bermain-main saja. Namun, setelah Khanza mengatakan bahwa Kayla dan kedua temannya ikut mencari, Frans pun segera pergi mencari Kenzo.
Frans sangat mengkhawatirkan keadaan Kayla ketimbang sahabatnya, sebab mata-mata yang ditempatkan untuk mengawasi Kayla mengatakan jika gadis itu sedang sakit tapi tidak mengatakan apa penyebabnya.
Pemuda itu memang mendaftar kuliah di luar negri karena ingin menghindar dari Kayla agar tidak merasa sakit hati melihat kebersamaan gadis itu bersama Kenzo. Tapi, Frans tetap mengawasi keadaan gadis itu dengan menempatkan orang kepercayaannya di sekitar Kayla.
Dari orang itulah ia tahu bahwa Kayla sedang sakit dan kepulangannya untuk menengok kondisi Kayla. Tapi, Khanza datang kepadanya dan mengatakan jika adiknya atau sahabat itu hilang.
Dengan hati tenang, Frans melangkah ke teras rumah dan mengetuk pintu rumah tersebut. Terdengar beberapa orang sedang mengobrol di dalam bahkan sampai tertawa riang.
"Pasti tuh anak ada di sini. Gue yakin itu," Frans semakin bersemangat untuk masuk.
Tok tok tok
Tangannya mengetuk pintu dan terdengar langkah seseorang menghampiri.
Perlahan pintu terbuka dan menampakkan seseorang yang cukup Frans kenali. Saat pintu terbuka sempurna, mereka saling menunjuk karena mengenal satu sama lain. "Kamu!" ujar keduanya berbarengan. "Sedang apa di sini?"
"Gue sekarang tinggal di sini," sahut gadis itu lalu bertanya balik. "Elu sendiri ngapain di sini? Tumben benar main ke sini, malam-malam lagi." sambungnya kemudian.
Sebelum menjawab, mata Frans sempat melirik ke dalam rumah dan menemukan motor sport merah milik seseorang yang di carinya. "Gue nyari si tengil, Tan!" tunjuknya ke arah motor Kenzo. "Di mana orangnya?" Tania mengikuti arah tunjukan Frans.
"Oh, dia di rumah Nenek," jawabnya seraya mempersilahkan masuk. "Masuk dulu, Frans!" ajak Tania kemudian.
Frans melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah kemudian duduk di sofa ruang tamu sebelum bertanya lagi. "Lho kok rumah Nenek! Bukankah ini rumah Nenek?" tanya Frans penasaran.
"Rumah ini disewakan Nenek sejak dua tahun yang lalu sama teman sekolah gue yang jauh dari tempat tinggalnya. Nenek membeli rumah lagi pas tanjakan pertama!" jelas Tania.
Frans terlihat mengangguk. "Jauh dari sini, nggak?" tanya Frans sedikit berteriak karena Tania masuk ke dapur.
Gadis itu kembali dengan secangkir kopi dan cemilan. "Enggak sih. Nanti gue anterin ke sono, deh!" ujarnya seraya menaruh kopi dan cemilan di meja. "Diminum dulu, mumpung panas!"
Frans kembali mengangguk sembari tersenyum. "Padahal nggak usah repot lah, Tan. Tapi, makasih lho!" ia pun menyeruput kopi panas tersebut.
Sejenak Tania terdiam melihat senyum manis dari pemuda di hadapannya itu. Sungguh, senyuman Frans membuat hatinya meleleh.
__ADS_1
Tania memang menaruh hati kepada pemuda tampan sahabat sepupunya itu. Dia sangat mendambakan si tampan tersebut sedari pertemuan pertama mereka lima tahun yang lalu, yaitu saat mereka sama-sama di bangku SMP hingga kini rasa itu tetap ada.
"Kita kesana sekarang, yuk!" ajak Frans membuyarkan lamunan Tania.
Gadis itu gelagapan sebelum mengiyakan ajakan pemuda tampan dihadapannya. "Baiklah! Gue pamit dulu sama teman-teman ya," ia pun masuk ke ruang tengah untuk berpamitan kepada teman-temannya yang mengintip sedari tadi sambil cekikikan.
"Dia cowok yang sering kamu bicarakan ya, Beb?" Diska bertanya dengan nada menggoda.
Tania mengulum senyum sembari mengangguk namun ia menempelkan telunjuk di bibirnya. "Hush. Jangan sampe dia denger ocehan kalian!" teman-temannya hanya mengacungkan kepalan tangan bermaksud memberi semangat.
Setelah berpamitan, Tania dan Frans berjalan melewati jalan pintas menuju rumah Nenek sambil mengobrol.
"Kenzo sebenarnya kenapa sih sampai bisa sakit gitu?" pertanyaan Tania membuat langkah Frans terhenti.
"Kenzo sakit?"
Tania mengerutkan keningnya. "Elu gak tahu kalo dia lagi sakit?" Frans menggelengkan kepala dengan tatapan serius. "Sejak dia sampai ke sini, wajahnya udah pucat dan tubuhnya pun lemah. Nenek mengajak dia ke rumah sakit tapi nggak mau. Dia berpura-pura sembuh biar nggak diajak berobat," jelas Tania.
"Terus, keadaannya gimana sekarang?" tanya Frans penasaran.
•
•
•
Melihat kondisi Kenzo saat ini, Kayla menjadi merasa bersalah. Ditambah lagi pemuda itu mengerang kesakitan karena kepalanya seperti berputar-putar.
Dokter mengatakan jika Kenzo baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan dengan kondisinya. Dia hanya perlu beristirahat dengan cukup dan makan tepat waktu.
Tapi bagi Kayla tetap saja dia merasa bersalah. Ia meminta maaf karena telah mendorong Kenzo hingga kepalanya terbentur, namun nenek menenangkan dengan mengatakan jika itu bukan kesalahannya.
Saat Kayla dilanda ke khawatiran, sebuah ketukan di pintu membuatnya sedikit lega untuk menetralkan perasaannya. Dia lekas beranjak dari duduknya dan mulai melangkahkan kaki menuju pintu.
Perlahan tangan Kayla menarik handle pintu sampai menampakkan postur tubuh sosok tamu yang datang. Gadis itu terkejut dengan kehadiran seseorang yang ada di hadapannya kini.
"Kamu!"
__ADS_1
"Hai, Neng! Ketemu lagi kita," ujar orang tersebut yang ternyata si preman pasar anak punk dengan suaranya yang tengek seperti toa tersumbat.
"Ngapain kamu ke sini?" tanya Kayla ketus.
Bukannya menjawab pertanyaan yang Kayla lontarkan kepadanya, tapi pemuda itu malah menyerobot masuk tanpa dipersilahkan. "Apa aku boleh masuk? Oh ya tentu saja, terima kasih!" berceloteh dengan suara ciri khasnya.
"Hei, siapa yang mengizinkanmu masuk!" Kayla berusaha menahan tangan si preman pasar, takut nenek marah karena ada tamu tidak sopan yang masuk ke rumah.
Walaupun awalnya Kayla takut kepada si preman pasar ini, tapi mendadak ia menjadi berani. Dia terus menarik tangan si preman supaya tidak masuk ke dalam rumah nenek.
"Siapa yang dateng Neng Kayla?" Gadis itu sontak berhenti menarik tangan si preman karena pertanyaan nenek diikuti lirikan mata semua yang ada di sana.
Si anak punk tersenyum simpul karena sudah tahu nama gadis yang diincarnya itu. "Oh, nama kamu Kayla!" Kayla mendelik sebal karena dia tahu namanya.
"Ini Nek, ada orang gila masuk rumah!" ketus Kayla.
"Orang gila?" serempak semua pasang mata tertuju ke arah Kayla termasuk si anak punk.
"Aaaaa-aku bukan orang gila, tapi ...!" Dia berusaha menjelaskan namun Kayla terus mendorongnya keluar.
"Sana ke luar! Kamu nggak boleh masuk ke sini!"
Melihat Kayla berusaha mengusir si preman pasar, Devian dan Bagas segera menghampiri untuk membantu Kayla.
Nenek Arimbi berdiri lalu menghampiri mereka. " Ngapain kalian ngusir dia? Dia ini bukan orang gila!" seketika Kayla menurunkan tangannya mendengar perkataan nenek. "Dia ke sini mau jemput ayahnya!" lanjut nenek menjelaskan. "Dokter, udah ada yang jemput nih!" Nenek berkata kepada Dokter Amar.
"Ya Bu, sebentar! Saya rapihkan dulu peralatannya," sahut Dokter Amar sembari menyerahkan resep obat yang harus dibeli di apotek.
Nenek mengambilnya dan tidak lupa mengucapkan terima kasih atas bantuan Dokter Amar. Sedangkan ketiga anak muda itu hanya mematung, menatap tidak percaya akan status si preman pasar yang ternyata anak dari Dokter Amar.
"Kamu mau di sini terus, Nak Riki?" Nenek bertanya kepada si anak punk yang sedang nyengir kuda sambil menatap Kayla.
"Kalau boleh," Ia cengengesan dengan terus menatap wajah Kayla sambil melangkah mendekati. "Iya kan Neng Kayla," lanjutnya sebelum terkejut karena kehadiran Bagas yang tiba-tiba di depannya.
"Dia udah ada yang punya," ketus Bagas sembari mendorong tubuh Riki sampai ke luar. "Balik sono lu, anak punk cacingan!" ejeknya sembali menutup pintu rumah nenek.
...Bersambung ......
__ADS_1