Di Antara Dua Hati

Di Antara Dua Hati
BAB 107.MENGAMBIL ALIH


__ADS_3

"Selamat pagi pak, bu..." Ucapnya dengan senyum tanpa dosa.


"Saya sudah menyiapkan materi yang akan di sampaikan pak Windu pagi ini, saya akan menunggu di ruang meeting." Lanjutnya, membuat Dara dan Windu saling pandang, melongo melihat bagaimana Fuji mengucapkan kalimat itu seolah dia amnesia dengan apa yang dilakukannya tadi malam di kamar Windu.


Dara dan Windu salimg berpandangan, melihat pada Fuji yang berdiri menghampiri meja mereka.


"Kamu...kamu belum pergi?" Windu menatap Fuji dengan wajah bengong.


"Pergi kemana?" Tanya Fuji membuat mimik bingung.


"Astaga, ular berkepala kelinci ini memang tidak tahu diri." Dara melotot pada Fuji, yang di pelototi membungkuk seolah sedang menunggu instruksi.


"Kak Win..." Dara berpaling kepada Windu sambil menatap orang-orang yang mulai berdatangan untuk sarapan. Resto itu mulai ramai.


"Bagaimana jika kita duduk bertiga di meja ini sebentar sambil minum segelas teh hangat untuk sedikit menyegarkan ingatan kita." Dara tersenyum dalam mimik yang sebenarnya terpaksa.


"Aku barusan habis sarapan." Fuji menaikkan alisnya, dia sebenarnya mengerti Dara sedang menyindirnya dengan keras


"Oh, syukurlah kalau begitu, berarti kita tidak perlu membuang waktu untuk sekedar berbasa-basi." Dara terkekeh.


"Aku akan mengambilkan teh untuk kita berdua, kak Win ." Ucap Dara sebelum Windu mencegahnya Dara sudah meninggalkan Windu yang duduk menghadap meja sementara Fuji berdiri di hadapannya dengan menunduk.


"Aku baru kali ini melihat seorang perempuan yang tak tahu malu sama sekali." Windu bergumam, sambil mengalihkan pandangannya pada sekelilingnya.


"Maafkan aku, pak..." Fuji menyahut dengan suara memohon.


"Aku tahu kamu bukanlah orang yang bodoh, Fuji. Kamu tahu benar bahwa dirimu telah ku pecat..." Suara Windu serupa geraman, dia kesal bukan main melihat Fuji yang terus menunduk sambil berdiri, seolah-olah dia adalah seorang korban.


"Sikapmu yang kurang ajar padaku tadi malam, jangan kamu kira aku melupakannya. Kau fikir aku orang yang sama dengan beberapa laki-laki yang mungkin bisa kamu rayu, atau mungkin karena aku terlalu lunak padamu sehingga kamu mungkin beranggapan aku sedikit tertarik padamu?" Windu mengangkat wajahnya, lurus pada Fuji yang terus menunduk di depannya.

__ADS_1


"Aku mencintai istriku, aku bukan jenis yang suka bermain-main, Fuji. Jadi, aku minta pagi ini pulanglah ke Jakarta, berkemaslah...karena aku tak suka semua bekas-bekasmu di dalam areal kantorku! Aku rasa kamu bisa mengatur keberangkatanmu kembali. Setelah itu menghilanglah. Aku benar-benar mulai merasa jijik padamu."


Wajah Fuji semerah apel, dia tak pernah mendengar kalimat sepedas ini dari seorang laki-laki. Untunglah meja tempat mereka berbicara itu agak jauh dari meja yang lain.


Tadi malam, dia sudah hampir menghabiskan setengah malam untuk menangis karena tidak bisa menerima setiap ucapan yang di lontarkan Dara, istri bossnya itu.


Dan akhirnya dia memutuskan untuk kembali dan berusaha mempertahankan posisinya, dengan berpura-pura seperti lupa telah di damprat habis-habisan oleh istri bossnya itu. Dia yakin, sebenarnya Windu tertarik padanya, karena Windu tidak blak-blakan memperlihatkan dia menolak perlakuan Fuji. Karena itu dia berusaha memperbaiki keadaan dan kembali lagi pagi ini meski mukanya terasa setebal tembok.


Dan semua kata-kata Windu sekarang dengan wajah sekeras batu itu menunjukkan memang Windu serius tidak bisa menerima perlakuan Fuji tadi malam.


"Pak Windu..."


Tapi Windu bersikap seolah-olah tak mendengar kalimat apapun dari bibir Fuji yang memelas.


Dia meraih ponselnya, menghubungi kontak Ricky,


"Rick, aku mau kamu turun ke kantor besok pagi, tolong urus resign dari pegawai bernama Fuji."


"Fuji? Fuji asistenmu?"


"Dia bukan asistenku lagi!"


"Tapi, kenapa?"


"Rick, aku tidak suka berdebat denganmu. Kemarin aku meminta seorang asisten pengganti tetapi kamu memberikanku seekor ular."


"Ular? apa maksudmu, Win?"


"Kamu merekomendasikan seekor ular, masih untung aku tidak mempertanyakan kredibilitasmu dalam memilih pegawai. Jadi aku minta, saat aku kembali, tidak ada nama Fuji dalam list nama pegawai di kantor kita!"

__ADS_1


"Hah...!"


"Terimakasih untuk menangani ini sebelum aku kembali. Dan aku tetap memperhitungkan urusan ini nanti denganmu."


"Win, memangnya kenapa dengan Fuji?"


Windu tak lagi menjawab, telponnya di tutupnya.


Dan mengarahkan pandangannya pada Fuji yang gemetaran. Dia mendengar semua apa yang di bicarakan oleh Windu dan kakak sepupunya, Ricky, asisten pribadi Windu yang sesungguhnya.


Dia telah merengek-rengek untuk jabatan ini dan pasti Ricky akan melarah besar padanya saat tahu Fuji telah merusak reputasinya dalam sekejap.


"Aku...aku..."


"Sudahlah, Fuji, suamiku telah mengatakan dengan tegas dia jijik padamu." Dara tiba dengan dua camgkir teh yang masih mengepulkan asap.


Dia sengaja meninggalkan Windu dengan Fuji, karena dia ingin Fuji mendengar sendiri kalimat-kalimat tajam itu dari mulut Windu. Seseorang mungkin masih menyimpan harapan karena menerima sikap baik, dan bisa saja mencoba menikung dari belakang untuk mencari cekah kembali membuat lubang yang lebih besar pada hubungan orang lain dengan berbagai cara dan upaya, untuk seorang yang berjiwa pelakor sejati, dia malah terobsesi berkompetisi jika hanya sekedar di caci maki oleh istri atau kekasih mangsanya. Tetapi jika dia mendengar sendiri, targetnya tidak menginginkannya sama sekali bahkan mengucapkan sendiri penolakannya maka harga dirinya akan remuk redam.


Tak ada alasan baginya, melanjutkan hal yang sia-sia. Perempuan tak berakhlak hanya perlu sikap penolakan yang tegas, dengan begitu dia akan kehilangan kebanggaannya.


Layanan resto di situ adalah buffet service. Ada berbagai macam makanan dan minuman ditawarkan di atas meja, di ambil dan di campurkan sendiri sehingga Dara harus menyeduh sendiri tehnya dan ditambah dia menjadi semakin lama karena melongo melihat bagaimana Windu tampak menyemburkan kata-kata kesal dari jauh kepada Fuji.


"Fuji, aku akan mengambil semua materi dan agenda pekerjaan suamiku dari kamarmu sekarang karena mulai hari ini, akulah asisten dari pak Windu putra Danuar!"


...Dukungan dan VOTEnya author tunggu😅...


...Jangan lupa KOMEN dan LIKE di bawah, please...please...❤️...


...Biar author tambah rajin UP...

__ADS_1


__ADS_2