
Happy reading
đź’•đź’•đź’•đź’•đź’•
"Hai, Sayang, lagi ngapain?” Laura memeluk bahu Jonathan yang duduk di bangku taman sekolah.
Jonathan memutar kepalanya menengok Laura. Dia tersenyum. “Lagi mikirin kamu,” rayu Jonathan.
Laura mengulum senyum. “Dasar gombal!” Dia menepuk bahu Jonathan sebelum duduk di sebelah Jonathan.
“Dibilangin gak percaya. Cewek cantik kayak kamu gak bisa ilang dari pikiranku.” Mencubit hidung mancung Laura.
Laura memang cantik, dia memiliki darah campuran. Mewarisi mata kehijauan dan hidung mancung dari ibunya yang keturunan Norwegia. Kulit putih serta memiliki berat dan tinggi badan yang proporsional.
Laura menoyor pipi Jonathan. “Udah ah, gombalnya.” Mereka tergelak bersama. “Lulus nanti kamu lanjut ngambil apa?” tanyanya Jonathan.
“Hmm, kayaknya aku bakal ngambil Ekonomi dan Bisnis. Kamu? Sudah pasti fashion.”
“Kamu, 'kan, tau aku seorang model. Aku sangat menyukai dunia fashion.” Merapikan anak rambut Jonathan yang menutupi dahi.
Jonathan mengangguk. “Aku selalu mendukungmu, Sayang.”
“Makasih Jo, aku juga selalu mendukungmu.”
Mereka saling menatap satu sama lain. Jonathan meraih tangan Laura, lalu mengaitkan jemari mereka. Tiga tahun sudah mereka menjalin hubungan, selalu bersama sampai lulus SMA. Mereka memilih melanjutkan kuliah di bidang yang berbeda. Laura mengambil sekolah fashion sehingga, mempertemukannya dengan Bella dan Adinda. Sementara Jonathan mengambil Fakultas Ekonomi dan Bisnis di kampus yang sama dengan Reyhan, Davin, Doni dan Riski.
Jonathan mendapat jam kelas yang sama dengan Reyhan dan Davin, karena itu mereka jadi sangat akrab. Setelah wisuda dan meraih gelar S1, Reyhan menawari Jonathan bekerja di perusahaan peninggalan mamanya sebagai sekretaris pribadinya. Mereka mereka berteman dekat hingga Reyhan mempercayakan posisi itu pada Jonathan dan tanpa pikir panjang Jonathan menyanggupinya.
__ADS_1
Tiba saat Reyhan launching produk terbarunya. Dia tidak pernah mempercayakan model iklan produknya pada biro periklanan. Dia selalu menentukan sendiri model untuk iklan produknya. Waktu itu produk terbaru perusahaan Reyhan berupa sabun mandi terdiri dari tiga macam wewangian. Dia membutuhkan tiga model wanita. Bella dan Adinda sudah menawarkan teman model mereka lagi satu, tetapi Reyhan menolak. Reyhan malah menyuruh Jonathan mencarikannya model lagi satu. Tanpa dia ketahui Jonathan membawa Laura, dari situlah awal pertemuan Reyhan dengan Laura.
“Laura.” Laura mengulurkan tangannya pada Reyhan.
“Reyhan.” Reyhan membalas uluran tangan Laura.
Tengah Reyhan bercakap-cakap dengan Laura, Bella dan Adinda memasuki ruangan Reyhan.
“Lho, Laura, kamu kok bisa ada di sini?” Bella yang terheran langsung mendekati Laura begitu juga dengan Adinda.
Reyhan mengerutkan dahi. “Kalian saling kenal?”
Bella mencebik. “Kamu gimana sih Rey, Laura ini temanku yang kemarin aku ceritain ke kamu.”
"Iya, Laura ini model yang kami sarankan ke kamu," sambung Adinda.
“Owh.” Mulut Reyhan membulat sempurna.
“Aku mau shoting untuk produk sabun mandi terbaru Tuan Reyhan.”
Bella menaikkan sebelah alisnya menatap Reyhan meminta penjelasan, sementara Reyhan hanya mengedikkan bahu.
“Bagaimana, are you ready girls?” Jimmy dan Jonathan memasuki ruangan.
“Apa semua sudah siap?” Reyhan menghampiri Jimmy sembari memasukkan kedua tangan ke dalam saku celananya.
“Yeah, orang-orang dari biro iklan sudah datang,” jawab Jimmy.
__ADS_1
“Ok, kalau begitu kita mulai shoting.” Reyhan menatap gadis-gadis itu.
❤️
❤️
❤️
❤️
❤️
“Tuan Reyhan melamarku!” kata Laura suatu malam.
Bagai disambar petir Jonathan mendengar ucapan Laura yang tiba-tiba itu. Dia terduduk lemas di sebuah kafe tempat mereka janjian. Dadanya terasa sesak seiring jantungnya berdegup semakin cepat.
“Sejak kapan?” Jonathan menggertakkan giginya.
Laura menatap takut-takut. “Apanya?”
“Sejak kapan kau menghianatiku?” tanya Jonathan dengan nada mulai meninggi.
“Aku tidak ingat pastinya kapan. Perasaan ini tumbuh tanpa aku sadari dan ... dan ... aku tidak menyangka kalau Tuan Reyhan juga memiliki perasaan yang sama denganku,” jawab Laura gugup.
“Lalu?” Jonathan mendesis. Tangannya mengepal kuat menahan marah.
“Maaf, aku tidak menyangka akan jadi seperti ini. Aku pikir dia hanya ingin bermain-main, ternyata kemarin dia melamarku.” Laura masih menunduk mengigit bibir bawahnya. Dia hanya melihat Jonathan lewat ekor matanya.
__ADS_1
Rahang Jonathan mengeras, wajahnya kini sudah merah padam. “Kamu menjawab apa?” Menatap tajam Laura.
❤️❤️❤️❤️❤️