Di Antara Dua Hati

Di Antara Dua Hati
PART. 9


__ADS_3

🌼🍍🌼🌼


"Jawab Daddy!" Jenny menatap mata Bradd. Bradd menundukan kepalanya, ia harus mencari alasan yang tepat sebagai jawabannya.


"Jenny, desakan itu bisa saja datang tiba-tiba, tanpa harus ada alasannya. Kamu tidak akan mengerti, karena kamu bukan laki-laki." Itulah jawaban yang keluar dari sela bibir Bradd.


Jenny memanyunkan bibir, jawaban Bradd sangat tidak memuaskan hatinya.


"Daddy tidak boleh lagi tidur dengan wanita di luar sana!"


"Lalu Daddy harus bagaimana kalau keinginan itu sangat mendesak?"


"Pakai sabunkan bisa Daddy!"


"Eeh, kamu tahu dari mana soal begitu?"


"Aku bukan anak kecil lagi Daddy, ya pasti tahu!"


"Hmmm, itu rasanya berbeda Jenny. Kamu tidak akan tahu, karena kamu bukan laki-laki." Bradd mengulangi ucapannya.


"Arghhh, kalau Daddy tidur dengan wanita di luar sana, aku akan kabur dari rumah!" ancam Jenny.


"Ya Tuhan, jangan mengancam begitu, Jenny"


Jenny melompat turun dari atas ranjang.


"Aku lapar, semua terserah Daddy, ingin aku tetap di sini, atau ingin aku kabur lagi?" Jenny lari ke luar dari dalam kamarnya.


"Jenny!" Bradd menghembuskan napas, ia menggaruk kepala, bingung untuk mencari solusi permasalahan dengan putrinya. Ia takut Jenny melaksanakan ancamannya, tapi ia sendiri tidak yakin bisa bertahan untuk tidak menyalurkan hasrat biologisnya. Bradd sungguh bingung jadinya.


🌼🌼🍍🌼🌼


Mary datang ke ruangan Bradd, ada yang ingin ia sampaikan pada Bradd.


"Ada apa Mary?"


"Maaf Bradd, sebenarnya aku malu mengatakannya, tapi aku tidak punya pilihan," Jawab Mary dengan mata berkaca-kaca.


"Ada apa? Katakan saja."


"Putra bungsuku sakit, dia harus dirawat di rumah sakit. Aku tidak punya uang untuk biaya rumah sakit, kalau kamu tidak keberatan, bisakah kamu meminjami aku uang. Kamu bisa potong gajiku tiap bulan Bradd," tutur Mary bercampur isakan.

__ADS_1


Bradd menatap wanita yang pernah ia cintai. Ia kasihan pada Mary, yang terbelit kesedihan dalam hidupnya.


"Tentu saja bisa Mary, berapa yang kamu perlukan?"


Mary menatap Bradd dengan mata berbinar. Ia menyebutkan jumlah uang yang ia perlukan.


Bradd mengambil buku cek dari dalam laci meja kerja, lalu menuliskan sesuai jumlah yang disebutkan Mary. Bradd menyerahkan selembar cek itu pada Mary, ia menuliskan cek dari rekening pribadinya.


Mary mengambil cek yang disodorkan Bradd di atas meja.


"Terimakasih Bradd," ucapnya dengan mata berkaca-kaca. Mary bangkit dari duduknya, Bradd juga ikut berdiri. Mary bergerak menuju pintu, Bradd mengekor di belakangnya.


Tiba-tiba Mary berbalik, lalu menubruk tubuh Bradd yang berada di belakangnya.


"Terimakasih Bradd, andai aku tidak bertemu denganmu, entah bagaimana nasibku, dan anak-anakku." Mary menangis di atas dada Bradd. Bradd hanya diam saja, kedua tangannya tetap berada di samping kedua tubuhnya, tidak ada niat sedikitpun di dalam hatinya, untuk membalas pelukan Mary.


Bagi Bradd, hubungan pribadi antara dirinya dan Mary sudah selesai. Yang ada kini hanyalah belas kasihan, rasa kemanusiaan yang menggerakan hatinya untuk membantu Mary.


"Mary," Bradd mendorong bahu Mary agar menjauhinya. Kepala Mary mendongak, kedua lengannya masih memeluk Bradd, meski tubuhnya tidak lagi menempel di tubuh Bradd.


"Pulanglah, temui an.... "


"Daddy!"


"Jenny," Bradd melepaskan tangan Mary, ia mendekati ambang pintu, di mana putrinya tengah berdiri. Bradd merasa melihat sorot cemburu dari tatapan Jenny, tapi Bradd berpikir, mungkin Jenny hanya takut kasih sayangnya akan terbagi.


"Masuklah, Daddy kenalkan dengan Mary. Mary ini Jenny putriku, Jenny ini Mary, dulu dia teman kuliahku. Sekarang ia menjadi pegawaiku." Ucap Bradd memperkenalkan mereka berdua. Mary mengulurkan tangannya, mengajak Jenny bersalaman, Jenny menyambutnya, tanpa sedikitpun senyum di bibirnya. Jenny masih ingat, nama Mary pernah disebut pengasuhnya, saat menceritakan tentang siapa ia sebenarnya.


"Tidak aku sangka, ternyata Bradd sudah memiliki putri sebesar dirimu, Jenny. Senang bisa bertemu denganmu."


"Ehmn," Jenny hanya menganggukan kepala.


"Aku pergi dulu Bradd, terimakasih atas bantuanmu. Jenny aku pergi dulu, selamat siang" pamit Mary.


"Selamat siang," hanya Bradd yang menjawab, sedang Jenny menghempaskan pantat di atas sofa. Kepalanya menunduk, ia mempernainkan tali tas sandangnya.


"Kamu sudah makan siang?" Bradd duduk di sebelah Jenny setelah menutup pintu ruangannya.


"Aku ke sini karena ingin makan siang dengan Daddy, tapi sekarang aku kehilangan selera makanku. Aku ingin pulang saja!" Jenny bangkit dari duduknya. Bradd menahan lengan putrinya.


"Apa yang membuatmu kehilangan selera makan Jenny?"

__ADS_1


Bradd menatap mata putrinya, Jenny melengoskan wajahnya.


"Tidak ada Daddy, aku.... "


"Apa kamu berpikir terjadi sesuatu antara aku, dan Mary? Tidak ada apa-apa Jenny, ia hanya meminta bantuanku, itu saja, dan.... "


"Aku sudah berpikir Daddy!" Jenny memotong ucapan daddynya.


"Berpikir apa?"


"Aku pikir, dari pada Daddy bercinta dengan wanita di luar sana, kenapa Daddy tidak menikah saja?"


"Eeh, bukannya kamu tidak suka, Daddy membawa masuk wanita lain ke dalam kehidupan, dan rumah kita?"


"Daddy tidak perlu membawa masuk wanita lain dalam hidup, dan rumah kita!" sahut Jenny, membuat Bradd bertambah bingung jadinya. Bradd tidak memahami maksud dari ucapan Jenny. Tiba-tiba saja terbersit nama Angelica di dalam benaknya.


"Apa kamu sudah bersedia menerima Angelica sebagai ibumu?"


Tatapan mata Jenny menyambar tajam ke arah mata Bradd. Bradd terkesiap menerima tatapan itu dari Jenny.


"Apa sangat sulit bagi Daddy untuk menghapuskan cinta Daddy pada wanita itu!?" Jenny menarik kasar lengannya dari genggaman Bradd. Bradd bangkit dari duduknya, ia menggelengkan kepala.


"Jenny, Daddy hanya bertanya saja, tidak ada maksud... Jenny, Jenny, dengarkan Daddy dulu!" Bradd berdiri di depan pintu, menghalangi Jenny yang ingin membuka pintu.


"Kita sudah sepakatkan, tidak akan membicarakan wanita itu lagi, Daddy!"


"Daddy tahu, Daddy hanya bertanya, tidak ada maksud apa-apa. Itu karena Daddy bingung, dengan ucapanmu yang mengijinkan Daddy untuk menikah lagi."


"Tapi kenapa wanita itu yang harus terpikirkan oleh Daddy!" Jenny nyaris berteriak di hadapan Bradd, air mata meluncur di kedua pipinya.


"Karena kamu katakan, kalau aku tidak perlu membawa masuk wanita lain dalam hidup kita, Jenny. Hanya An.... "


"Aku benci dia Daddy, aku benci dia.... " Jenny memeluk Bradd, isaknya sudah menjadi tangisan. Rasa takut, cemas, dan marah menyatu, tertuangkan dalam tangisannya.


"Daddy sudah berjanji padamu, Daddy tidak akan melakukan apa yang tidak kamu suka. Lalu apa yang kamu cemaskan, Jenny?" Bradd mengusap lembut punggung Jenny. Jenny menggelengkan kepalanya, ia eratkan dekapannya. Ia benar-benar takut kehilangan perhatian, dan kasih sayang Bradd. Jenny sadar sepenuhnya, itu bukan perasaan takut seorang anak, tapi perasaan takut seorang wanita yang beranjak dewasa.


"I love you, Daddy"


"I love you too"


Bradd mengusap punggung Jenny lembut, ia kecup puncak kepala Jenny. Lalu ia menghela napas perlahan, perasaannya selalu mengatakan ada yang berbeda dari ungkapan i love you Jenny untuknya. Tapi, Bradd tidak ingin menerka lebih jauh lagi.

__ADS_1


🌼🌼🍍BERSAMBUNG🍍🌼🌼


__ADS_2