
"Kamu bawa asistenmu yang baru itu denganmu."
"Haaaaah..." Windu melongo mendengar perkataan Dara.
"Kamu tidak sedang mabuk kan, sayang?" Tanya Windu, bola matanya sebesar biji kelereng.
Windu beringsut dari tempatnya duduk, naik lagi ke tempat tidurnya fengan wajah bengong, di letakkannya punggung tangannya di krning sang istri.
"Kamu baik-baik saja kan?" Tanya Windu dengan alis bertaut.
Dia tak percaya dengan apa yang di dengarnya, kemarin-kemarin dia melihat kilat kecemburuan yang tak biasa dari Dara kepada Fuji setelah tak sengaja mengangkat telponnya.
Bahkan Dara yang tak pernah datang ke kantornya, rela menyatroni tempat kerja Windu dan jika bisa Dara seolah mengisyaratkan siap berkemah demi menjaga sang suami dari perempuan yang memberikan kesan buruk di mata Dara itu.
Sekarang, istrinya ini malah menyuruhnya membawa Fuji ke Bali untuk mengurusnya, tentu saja Windu takjub pada perubahan sikap sang istri.
"Aku serius." Dara tertawa kecil melihat wajah Windu yang melotot padanya.
"Aku tahu siapa kak Win, jika tidak ada yang mengurus kak Win maka kak Win akan sedikit kesulitan.
Kak Win sudah terbiasa ada yang mengurus pakaian kak Win, mengingatkan jadwal kak Win dan apa yang harus di lakukan." Dara menarik sang suami ke tempat tidur dengan wajah manja.
"Biasanya Ricky yang melakukan itu, tapi sekarang dia sedang tidak bisa, kenapa tidak membiarkan asisten barumu itu mengerjakan tugasnya seperti seharusnya seorang asisten, aku rasa Ricky berani menunjuknya menjadi penggantinya sementara dia percaya kapasitas dan loyalitas Fuji. Bukankah dia profesional?" Dara menatap Windu dengan mata tak berkedip seakan ingin meyakinkan Windu bahwa dia serius dengan permintaannya.
"Tapi aku tidak mau..." Windu mengibaskan tangannya, menunjukkan penolakannya.
"Aku akan mencari orang lain, atau kalau perlu lebih baik aku akan membawa mbak Parmi untuk mengurusku di sana." Windu memasang wajah masam.
"Sayang, tidak usah membuat segala sesuatu menjadi ribet, aku rasa hanya Fuji yang untuk sekarang ini adalah pilihan terbaikmu. Dia tahu agendamu, dia bisa mengurus semua hal yang berkaitan dengan pengaturan pekerjaanmu. Mbak Parmi tak akan bisa melakukannya, kecuali menyiapkan pakaianmu..." Dara terkekeh. Kemudian dengan mesra di peluknya Windu. Laki-laki yang kini berbaring di sebelahnya itu masih melotot padanya.
__ADS_1
"Tidak sayang...aku lebih baik pergi sendiri." Tolak Windu sambil mengamati wajah istrinya itu berusaha menemukan titik kecemburuan yang kemarin di dapatinya, meluap di sana.
"Kak Win sayang, aku baik-baik saja kok. Aku percaya sepenuhnya kak Win akan bersikap profesional, memperlakukan Fuji sebatas atasan dengan bawahan yang terlibat karena urusan pekerjaan semata. Aku tidak akan cemas berlebihan. Aku tak bisa memberikan pilihan yang lebih baik sebagai solusi masalah kak Win ini, tapi setidaknya Kak Win tidak perlu merasa bahwa aku menghalangi pekerjaan kak Win hanya karena urusan perasaan." Dara tersenyum lebar, kemudian menaikkan wajahnya yang cantik itu supaya sejajar dengan wajah sang suami. Sebuah kecupan mendarat di bibir Windu yang masih terbuka karena ketakjubannya atas sikap sang istri.
"Malam ini, aku mau tidur di peluk oleh Kak Win..." Dara menyusup kepelukan Windu sambil menarik selimut tebal mereka. Tangannya enekan tombol di atas kepalanya sehingga lampu kamar besar mereka berubah menjadi remang-remang.
"Kak Win harus tidur lebih cepat, besok pagi harus berangkat. Handphone kak Win harus ready ya...istri tidak terima alasan jika suaminya tidak memberi kabar ataupun tidak mengangkat telpon kecuali memang sedang dalam meeting room." Dara memeluk erat tubuh Windu sambil terus berceloteh, sama sekali tidak memberi kesempatan Windu untuk berfikir lagi.
"Kamu sudah mau tidur?" Windu bertanya seperti orang bego saat Dara memejamkan matanya, dan tidak menunjukkan gerakan apapun lagi.
"Hmm...Selamat malam sayang." Kalimat itu seperti isyarat jika Dara memang tak ingin mengobrol apapun lagi dengannya.
...***...
Windu akhirnya berangkat juga ke Bali dengan menggunakan sebuah maskapai penerbangan dengan layanan first class.
Windu sengaja meminta sekretaris ayahnya memesan layanan kelas bisnis untuk Fuji. Bukan karena dia atau perusahaan tak mampu membayarnya atau mungkin karena Windu pelit tetapi Windu memang ingin menjaga jarak pada asistennya itu. Biar bagaimanapun ada satu perasaan yang harus di jaganya meski mungkin istrinya itu tidak mempermasalahkannya.
Windu merasa risih jika dia terlalu dekat dengan Fuji meskipun dia adalah asistennya. Kadang-kadang Windu merasa pandangan mata Fuji sedikit aneh padanya. Dan Windu tidak menyukainya. Tetapi sebagai bos tentu saja dia tidak bisa menunjukkan rasa keberatan hanya karena sang bawahan kadang-kadang mencuri pandang padanya.
Sepanjang penerbangan itu, Windu berada di kabinnya, memikirkan Dara yang di tinggalkannya, rasanya aneh untuk ketika dia berjauhan dengan istrinya itu.
Baru saja pergi dia sudah rindu.
...***...
Di Bali, Wilayah Nusa Dua, bagi para pelaku insentif dan korporasi sudah tidak asing lagi. Tempat itu sangat representative untuk mengadakan agenda meeting.
Dan di salah satu wilayah terindah di Bali itu di selenggaran agenda meeting para pengusaha dari seluruh wilayah Indonesia.
__ADS_1
Beberapa agenda meeting dengan sekala internasional pun acapkali digelar di kawasan ini. Itu sebabnya, kawasan Nusa Dua identik dengan pusat konvensi dari berbagai wilayah Indonesia dan dunia. Tentu saja penyelenggara kegiatan ini tak salah memilih tempat ini.
Windu saat belum menikah sering bepergian dengan Ricky, di sela pekerjaan mereka sekaligus berlibur. Seperti itulah Windu, pewaris perusahaan sang ayah menikmati hidupnya.
Tetapi hampir lima tahun terakhir, setelah menikah dia sibuk di Jogja mengurus anak cabang perusahaan sekaligus menemani istrinya bersekolah, dia tak pernah lagi melakukan perjalanan seperti ini.
Windu memasuki areal Hotel & residences bintang lima yang terletak di pinggir pantai atau tepatnya di jantung Bali Tourism Development Complex (BTDC), Nusa Dua, Bali.
"Apakah aku perlu memesankan makanan untuk bapak?" Tanya Fuji ketika mereka sudah sampai di lorong depan kamar masing-masing. Kamar mereka kebetulan bersebelahan, karena untuk view arah pantai hanya tersisa dua kamar itu.
"Tidak perlu, aku bisa melakukan sendiri." Jawab Windu, memberi jalan pada seorang petugas hotel memasukkan kopernya ke dalam kamarnya.
"Ingatkan saja aku jam berapa untuk acara pembukaan, aku akan istirahat di kamarku."
"Baik, pak."
"Jangan lupa, siapkan materi yang harus ku sampaikan besok pagi. serahkan padaku nanti sore."
"Baik, pak." Jawab Fuji, tubuhnya yang seksi itu terbalut jeans ketat dan atasan dari semacam stelan brokat.
Windu tidak terlalu memperhatikannya, dia hanya mengharapkan efisiensi pekerjaannya saat membawa asisten untuk membantunya. Apalagi papanya mengatakan ada seorang klien yang mungkin hendak bekerjasama dengan mereka dalam skala besar setelah pertemuan ini.
(Akak masih akan UP lanjutannya malam ini, ya dalam rangkaian crazy Up...saat jam si kunti mau dinas😁 happy reading yaaaaa....)
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...
...I love you all❤️...
__ADS_1