
Happy reading
💕💕💕💕💕
Selesai memandikan Rangga, Diana kembali ke kamar untuk menyiapkan pakaian kerja Reyhan. Dia tersenyum melihat kemeja yang dia sampirkan di ranjang.
"Kau bisa memandangiku, kenapa memandang kemejaku?" Reyhan sudah keluar dari kamar mandi, memeluk Diana dari belakang. Air terlihat menetes dari rambutnya yang basah.
Diana mendengkus geli. "Lepas Rey, aku mau mandi."
"Lima menit," pinta Reyhan yang sudah menenggelamkan wajahnya di leher Diana, mengendus aroma tubuhnya.
Diana terkekeh pelan. Kemudian, dia teringat pesan Siska tadi malam. "Rey, aku boleh bertemu Siska?"
"Hanya Siska!" tegasnya.
Diana mencebik. "Siska datangnya sama Ba ...."
"Tidak boleh!"
"Rey ...." Diana berusaha melepaskan diri dari Reyhan.
"Apa?"
"Aku mau bertemu dengan Siska sama Bayu. Mendengar cerita mereka yang baru pulang dari Korea, aku ...."
"Kita berangkat ke Korea setelah aku pulang dari Jerman," potong Reyhan ketus sembari mengenakan kemejanya.
"Siapa yang mau pergi ke Korea?"
"Itu, kau tadi bilang-bilang Korea."
"Maksudku, aku ingin mendengar cerita Siska sambil temu kangen, ngopi-ngopi. Sudah lama banget aku tidak bertemu Siska."
"Baru dua minggu," cibir Reyhan, "aku curiga yang kau rindukan bukan Siska, tapi mantanmu itu." Reyhan berdiri di depan cermin, membenarkan posisi dasinya. Sifat posesif dan arogannya kembali lagi.
__ADS_1
Diana menghela napas. Dia mendekati Reyhan lalu mengalungkan lengannya ke leher pria itu. "Kamu masih cemburuan aja. Suamiku sudah tampan, mana mungkin aku melirik pria lain," rayunya.
"Jangan merayuku."
"Sebentar aja, aku janji sebelum siang aku sudah kembali. Ayolah, aku bosan di rumah," rengek Diana dengan memasang wajah memelas.
Reyhan tampak berpikir sejenak. Diana benar, dia butuh suasana ramai untuk melupakan kesedihannya.
"Ok, tapi dengan satu syarat."
"Apa?" Diana terlihat tidak sabar.
"Kau harus dikawal ke mana pun."
Diana melongo. "Hah? Apa tidak berlebihan, Rey? Alice dan orang suruhannya masih ditahan, kau tidak perlu secemas itu. Cukup sopir aja yang mengantarku, aku hanya pergi bertemu Siska tidak akan ke mana-mana lagi." Diana berusaha meyakinkan Reyhan. Pergi dengan sopir saja sudah membatasi kebebasannya, apalagi ditambah pengawal, dirinya tentu tidak bisa bebas bicara nanti.
"Meskipun tidak ada Alice lagi, tapi kemungkinan datang Alice-Alice yang lain yang mungkin bisa berbuat lebih nekat lagi. Siapa yang bisa bertanggung jawab jika terjadi sesuatu yang buruk padamu?"
Diana hanya menunduk tanpa tahu harus menjawab apa. Semua yang diucapkan Reyhan ada benarnya, tidak ada yang bisa menebak apa yang akan terjadi. Yang bisa dilakukan hanyalah waspada terhadap segala kemungkinan yang bisa terjadi.
"Kau yang putuskan sendiri. Pergi diantar pengawal atau tidak usah pergi ke mana pun."
Dengan lunglai Diana menjatuhkan dirinya ke pelukan Reyhan. "Aku ikuti perintahmu saja."
"Apa? Loe keguguran? Kok bisa, kapan?" Siska dan Bayu menatap Diana tak percaya.
Diana mendengkus sembari mengaduk minumannya dengan pipet. "Seminggu lalu. Kejadiannya begitu cepat. Gue sendiri masih gak percaya kalau anak gue udah gak ada," ujar Diana sendu.
"Hm, belum sempat gue tau kabarnya, tapi calon keponakan sudah lebih dulu pergi. Loe yang sabar ya Di," ucap Siska. Dia mengusap punggung tangan Diana dengan perasaan iba.
"Makasih Sis," balas Diana dengan senyum tipis.
"Kalau loe masih punya beban, loe cerita ke gue. Loe tau gue gak pernah bosen dengar curhatan loe." Siska tersenyum begitu juga Diana.
"Lalu, bagaimana dengan Tuan Reyhan? Pelakunya bagaimana?" tanya Bayu yang terlihat cemas.
__ADS_1
"Tuan Reyhan kena tusuk di lengan, harus operasi waktu itu, tapi sekarang sudah sehat. Mengenai pelakunya, ceritanya panjang." Diana menatap Bayu dan Siska bergiliran. Kedua temannya itu tampak sangat penasaran.
"Panjang gimana? Sepanjang apa pun gue punya waktu buat dengerin," desak Siska dengan segala kekepoannya.
"Udah, jangan bahas itu lagi. Gue jadi sedih lagi nih, keinget anak gue." Diana mengusap sudut matanya yang sudah mengeluarkan setitik air. "Padahal, gue susah-susah minta ijin dari Tuan Reyhan buat ke sini. Gue kepingin ketemu kalian buat menghibur diri, melupakan kesedihan gue."
"Eh, sorry deh, gue gak maksud begitu." Siska salah tingkah. Lain dengan Bayu yang masih enggan melepas tatapan tajamnya pada Diana.
"Kamu benar gak apa?" tanya Bayu serius.
Diana melempar seulas senyum. "Iya, Bay, aku gak apa."
Bayu menghela napas berat. "Baiklah, kalau memang benar seperti itu, tapi kamu masih inget dengan ucapanku waktu itu, 'kan?"
"Iya, Bay, aku ingat. Aku pasti akan mencarimu."
Tatapan Bayu melembut. "Baguslah. Ingat Di, sampai kapan pun aku selalu ada buat kamu." Mereka saling menatap serius dan tersenyum satu sama lain.
"Yah, jadi obat nyamuk lagi nih gue," seloroh Siska.
"Enggak, Sis, kali ini gue yang obat nyamuknya." Diana tersenyum menggoda ke arah Bayu dan Siska.
"Ih, apaan sih loe," sewot Siska. Wajahnya bersemu merah saat melirik Bayu. Pria itu hanya tersenyum tanpa mau berkomentar apa pun untuk melakukan pembelaan.
"Cieh, gak usah malu-malu gitu kali. Gue udah tau kok arti tatapan kalian." Diana terkekeh senang melihat Siska yang salah tingkah.
"Diana," geram Siska.
"Haha, ya udah, sekarang ceritakan gimana liburan kalian di Korea? Apakah bulan madunya menyenangkan?" seloroh Diana yang membuat Siska melotot padanya.
"Diana!" Siska memekik antara malu bercampur kesal.
Diana tertawa semakin keras mengabaikan protes Siska, sedangkan Bayu hanya menggeleng pelan kemudian tersenyum penuh arti ke arah Siska.
__ADS_1