Di Antara Dua Hati

Di Antara Dua Hati
Bab 169


__ADS_3

Happy reading


💕💕💕💕💕


Tuan Wijaya sedang mendapat penanganan di UGD, di luar Soraya bersama Bella dan Jimmy sedang duduk di kursi tunggu. Bella mengusap-usap punggung Soraya yang tengah menangis sesegukan, sedangkan Jimmy terlihat sesekali mengintip ke dalam lewat jendela kaca yang buram sebagian. Sampai akhirnya pintu itu terbuka dan perawat memanggil salah satu dari mereka untuk masuk menemui dokter.


Jimmy langsung menyanggupi untuk masuk karena tidak mungkin dengan kondisinya yang sekarang, Soraya mampu menyerap apa yang akan dokter jelaskan nantinya. Setelah beberapa lama di dalam, Jimmy akhirnya keluar menemui Soraya dan Bella.


“Apa yang dokter katakan, Sayang? Bagaimana keadaan Om Wijaya?” tanya Bella cemas.


Jimmy menatap Bella dan Soraya bergantian, kemudian menghembuskan napas berat.


“Om mengalami serangan jantung,” jawabnya lemah. “Dokter akan memindahkannya ke ruang ICU.”


“Apa?” Soraya menutup mulutnya kaget, air matanya kembali jatuh berderai membasahi kedua pipinya.


“Aku kabari Reyhan dulu.” Jimmy merogok ponsel dari saku jasnya untuk menghubungi nomor Reyhan.


Sementara orang yang dihubungi Jimmy tengah berada di ruang tengah dari kamar VVIP miliknya.


“Bodoh!” Reyhan menendang tepat di tulang kering Jonathan.


Jonathan sempat oleng, tetapi berusaha berdiri tegak kembali dan kembali memasang wajah datar, walaupun sebenarnya dia ingin sekali meringis dan mengusap tulang keringnya yang terasa kebas akibat tendangan keras Reyhan.


Reyhan tampak sangat menakutkan. Matanya menyala, napasnya memburu. Pakaian yang biasanya rapi dan elegan, kini tampak berantakan dan kusut masai. Yang jelas Reyhan sangat murka, mendapati Jonathan yang lagi-lagi lalai dalam tugas.


Dengan gerakan kasar Reyhan menarik kerah kemeja Jonathan, mencengkeram kuat hingga Jonathan merasa tercekik.


“Bagaimana kau bisa lalai?” hardiknya, “kau lihat apa yang terjadi tadi karena kelalaianmu?”


“Maaf Tuan, apa yang terjadi tadi benar-benar di luar prediksi saya,” jawab Jonathan tersengal.


Reyhan membuang napas kasar. Dia melepas cengkeramannya dan mendorong tubuh Jonathan hingga terbentur di dinding.

__ADS_1


Jonathan limbung, tetapi berusaha berdiri tegak dan memasang wajah datar kembali.


“Pecat dan beri hukuman pada orang-orang yang berjaga hari ini! Tidak ada gunanya menggaji orang-orang bodoh seperti mereka.” Reyhan mendengkus marah. Dia benar-benar murka. Laura sudah membuka aib keluarganya, mencoreng nama baik dan kehormatan keluarga Wijaya. Belum lagi kesehatan Tuan Wijaya .... Reyhan menarik napas dalam-dalam, menangkup keningnya, mencoba mengontrol emosinya.


“Baik Tuan,” sahut Jonathan nyaris tanpa ekspresi.


“Hubungi semua wartawan yang hadir tadi! Jangan biarkan satu pun dari mereka yang berani memuat ke media tentang kekacauan yang terjadi barusan!”


“Baik, Tuan.”


“Keluarlah! Aku akan menyusul Bella ke rumah sakit sekarang.”


“Bagaimana dengan Laura, Tuan?”


Sial benar! Jonathan benar-benar sial! Tidak pernah terpikir dalam benaknya Laura akan senekat ini. Datang tanpa diundang dan dengan berani mengacaukan pesta Reyhan. Tidakkah wanita berpikir, dia telah menempatkan Jonathan dalam posisi yang teramat sulit sekarang.


Reyhan membuang napas kasar. “Aku serahkan dia padamu. Diana sudah memperingatiku untuk tidak berbuat kasar padanya. Biar bagaimanapun dia tetap wanita yang melahirkan Rangga,” sesal Reyhan yang menyadari Laura tetap ibu dari putra kesayangannya. “Terserah kau ingin memberinya pelajaran seperti apa, yang jelas aku tidak ingin melihatnya muncul di hadapanku maupun di hadapan keluargaku lagi.”


“Baik Tuan, akan saya laksanakan segera. Saya permisi Tuan,” pamitnya.


Jonathan lalu mengangguk sebentar, kemudian keluar dari ruangan itu untuk memulai tugasnya. Jonathan bisa sedikit lega mendengar perintah Reyhan untuk Laura. Setidaknya dia tahu harus melakukan apa pada Laura, wanita yang selalu membuatnya lemah.


Reyhan kini memasuki kamar utama, di sana Diana sudah berganti memakai piyama dari hotel dan bersandar di tepi ranjang sembari membelai rambut Rangga yang sudah tertidur pulas, sedangkan Lala duduk di sofa yang ada di ruangan itu. Di saat Reyhan masuk, Lala langsung berdiri dan menundukkan kepala, kemudian pamit keluar dari ruangan itu.


“Bagaimana keadaan papa, By?” tanyanya cemas begitu Reyhan melangkah mendekatinya.


“Kata Jimmy, papa mengalami serangan jantung dan harus di pindah ke ruang ICU.” Reyhan sudah duduk di ranjang menghadap Diana.


Air mata Diana yang sempat surut kini mengalir lagi. “Maafkan aku, gara-gara aku papa jadi ....”


“Ssttttt!” Reyhan segera menyentuh bibir Diana dengan telunjuknya. Dia merengkuh Diana dan mengusap rambutnya.


“Berhenti menyalahkan dirimu sendiri. Apa yang Laura katakan tadi tidak ada yang benar.”

__ADS_1


Diana melonggarkan pelukan Reyhan agar bisa menatap mata suaminya itu. “Tidak Sayang, yang dia katakan tadi itu benar, aku ... aku yang sudah merebutmu dan Rangga darinya.” Kedua bola mata itu lagi-lagi menumpahkan air mata.


Reyhan mengusap air mata itu, lalu menangkup kedua rahang Diana. “Sudah kubilang itu semua tidak benar!” tegasnya, “aku dan Laura sudah lama berpisah sebelum aku mengenalmu. Lagi pula, dia yang sudah meninggalkan kami. Aku sudah menceraikannya sah secara hukum sebelum aku menikahimu.”


“Ta—tapi ....”


“Ssttttt, tidak ada kata 'tapi' lagi!” Menatap tegas mata Diana. “Believe me, you’re the only one. Whom my heart find and who I love the most, now and forever!” (Percayalah padaku, hanya kamu satu-satunya. Yang ada di dalam hatiku dan seseorang yang paling aku cinta, sekarang dan selamanya!)


Diana tersenyum mendengar ucapan Reyhan walaupun dalam hatinya masih menyisakan kecemasan yang dia sendiri tidak tahu itu apa.


Reyhan kembali mendekapnya erat dan mencium puncak kepalanya, “Aku akan menyusul papa ke rumah sakit. Kamu tidak apa-apa aku tinggal berdua dengan Lala?” Melonggarkan pelukannya dan menatap wajah Diana. “Aku akan menyuruh Jonathan menyiapkan dua penjaga di depan kamar.”


Diana hanya mengangguk. Reyhan meraih dagu Diana, perlahan menunduk untuk meraih bibirnya lembut. Tidak. Jangan bayangkan ini ciuman panas dan bergairah. Jangan bayangkan itu ... ini hanya ciuman singkat, seringan bulu yang mampu menggetarkan tubuh Diana.


"Aku berangkat ...."


Reyhan hendak beranjak, tetapi tangannya ditahan Diana. "Tunggu!"


Sejenak mereka saling pandang. Sampai akhirnya Diana mengalungkan lengannya ke leher Reyhan. Diana merasakan seringaian Reyhan di bibirnya. Pria itu memeluknya erat. Bibir mereka sama-sama terbuka, bergerak ke kanan dan ke kiri saling berlawanan. Diana meremas rambut Reyhan, menarik leher Reyhan untuk memperdalam ciumannya. Dia seolah enggan menyelesaikan ciuman itu dan takut berpisah dengan suaminya.


❤️❤️❤️❤️❤️


Morning guys, apa kabar kalian pagi ini? Semoga kita selalu sehat dalam lindungan Tuhan, ya😇


Cerita ini tinggal beberapa part lagi lho guys🥺 dan bersambung ke season 2 yakni "Bukan Salah Cinta" yang pingin tau kelanjutan kisah Diana, Reyhan, Bayu, Jonathan dan Laura. Juga bagaimana keseruan kisah Rangga yang tumbuh menjadi badboy tampan, tengil, petakilan, dalam usaha merebut hati seorang gadis bernama Cinta, gadis jutek yang jago taekwondo.


Kisah cinta yang diwarnai komedi, romantis, dan air mata. Yuk, mampir yuk,😁




__ADS_1


Aku tunggu jempol kalian di sana. 😘😘😘


__ADS_2