Di Antara Dua Hati

Di Antara Dua Hati
Bab 168


__ADS_3

Happy reading


💕💕💕💕💕


“Tutup mulutmu Laura!” bentak Jonathan.


“Kenapa?” salak Laura tanpa rasa bersalah. “Bukankah benar Rey, dia wanita yang sudah merebut Om Wijaya dari Tante Hanum?” Menatap Reyhan yang sedang memalingkan wajahnya. Reyhan hanya membuang napas kasar. “Apalagi namanya kalau bukan pelakor.” Pernyataan Laura memang ada benarnya, tetapi tetap saja terdengar sangat menyakitkan, terutama untuk Diana dan Soraya.


“Jangan bicara seperti itu tentang mamaku, Laura!” bentak Diana. “Kamu boleh menghinaku, tapi jangan mamaku!”


Laura menaikkan satu alis dengan senyum tersungging sinis. “Jadi, maksudmu pelakor ini, mamamu?” Menunjuk Soraya yang hanya berdiri kaku sejak tadi.


Soraya hanya bisa membisu mendengar perkataan Laura. Dia cukup tahu diri untuk menyadari apa yang dikatakan Laura, merupakan kebenaran tentang dosanya di masa lalu.


“Wahhh,” sorak Laura. Dia bertepuk tangan sendiri. “Ternyata benar ya, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.” Dia tertawa sinis ke arah Diana dan Soraya secara bergantian. “Seorang pelakor akan melahirkan pelakor juga,” ucapnya penuh penekanan, “ibunya menghancurkan rumah tangga sang ayah, sedangkan putrinya kini menghancurkan rumah tangga sang anak.”


Plakkkkk!!!!


Diana menampar keras pipi Laura hingga wanita itu sempoyongan. Dia tidak menduga serangan tiba-tiba yang dilakukan Diana. Laura meringis, memegangi pipinya bekas tamparan Diana tadi.


“Cukup ya, Laura! Dari tadi aku diam bukan karena membenarkan ucapanmu, tapi karena aku menghargaimu sebagai ibu dari putraku, tapi semakin aku diam, ucapanmu semakin kurang ajar. Apalagi kau tujukan itu untuk mamaku.” Diana menuding wajah Laura. Tubuhnya gemetar menahan marah yang sejak tadi dia tahan.

__ADS_1


Laura tidak terima, dia merasa Diana telah mempermalukannya dengan menampar dan memakinya. Dia mendekati Diana dengan geram, tetapi belum sempat mencapai Diana, Jonathan sudah lebih dulu menghalaunya,


Laura menatap kesal tangan Jonathan yang menghalanginya. Namun, dia tidak cukup punya tenaga untuk menghempas tangan kokoh itu. Akhirnya dia hanya bisa berteriak meluapkan kekesalannya. “Apa kamu bilang tadi? Rangga itu putraku! Dia tidak akan sudi disebut putra dari seorang pelakor sepertimu!” teriaknya.


“Reyhan, sebaiknya kamu urus wanita gila ini secepatnya! Dia sudah membuat jantung papa tidak sehat,” keluh Tuan Wijaya sembari memegangi dadanya yang dirasa mulai berdenyut tidak biasa dan sangat sakit. Ucapan-ucapan Laura sudah bagaikan belati yang menghunus jantungnya sedari tadi.


“Jo ....” Ucapan Reyhan lebih dulu disela Laura.


“Apa yang Anda katakan, Tuan Wijaya? Wanita gila?” Laura beralih menatap jengah Tuan Wijaya. “Aku wanita gila katamu? Terus bagaimana dengan pria terhormat yang sudah meninggalkan istri dan anaknya demi wanita lain? Hingga istri pertamanya depresi dan bunuh diri, hah!” Laura terus menghujat. “Tidak hanya itu, sekarang Anda malah mendukung putra Anda untuk meninggalkan istrinya, memisahkan seorang ibu dari putranya. Bukankah itu lebih gila? Anda gila ataukah biadap, Tuan Wijaya!” teriak Laura semakin keras. Dia tidak peduli entah berapa pasang mata yang memperhatikan dirinya sekarang. Bukan hanya itu, nama baik dan kehormatan keluarga Aditya Wijaya Group harus dipertaruhkan karena ini.


Tuan Wijaya tidak mampu menjawab, Laura bukan hanya menancapkan belati, tetapi juga panah yang tepat menghujam jantungnya dengan bertubi-tubi. Dia memejamkan mata sembari terus meremas dadanya.


“Laura, kau ....” Reyhan menunjuk Laura. Amarahnya sudah benar-benar di puncak, dia ingin menghampiri Laura untuk memberi pelajaran, tetapi terhenti karena teriakan Soraya dan Diana.


Reyhan segera menoleh mereka. Dia membelalak kaget mendapati Soraya dibantu Diana dan beberapa tamu memegangi tubuh Tuan Wijaya yang sudah lemas dengan napas tersengal.


“Jo, kau urus wanita ini. Enyahkan dia dari sini, bila perlu dari dunia ini!” titah Reyhan tidak main-main. Reyhan menatap Laura dengan sorot api yang menyala sebelum berlari mendekati papanya.


Sementara Jonathan menyeret paksa Laura keluar dari ruangan itu.


“Lepaskan aku! Lepaskan aku brengsek!” umpatnya pada Jonathan, tetapi pria itu tidak menggubrisnya.

__ADS_1


“Kalian bawa dia ke markas!” perintah Jonathan pada dua pria berbadan kekar yang berdiri di halaman lobby hotel.


“Baik Tuan,” jawab dua pria itu meraih lengan Laura dan mencengkramnya kuat lantaran Laura berusaha memberontak.


“Setelah itu kumpulkan semua temanmu yang bertugas hari ini di pesta!” perintah Jonathan dengan napas terengah.


“Untuk apa, Tuan?” Dua pria itu saling pandang.


“Untuk mengumumkan pemecatan kalian!” jawab Jonathan datar dengan wajah dingin.


Mereka berjengkit kaget. “Ke—kenapa dipecat, Tuan?” tanya mereka gugup.


“Kalian belum sadar juga kesalahan kalian apa!” hardik Jonathan. Dia menggeleng kesal, sekesal-kesalnya.


Mereka mengerti, lalu menunduk dan menatap geram Laura yang masih mencoba membebaskan diri dari cengkraman mereka. Tatapan mereka seolah mengatakan 'ini semua karenamu!'


Sementara Jonathan kembali masuk ke dalam hotel dengan perasaan cemas dan marah yang bercampur aduk.


Lagi-lagi aku lalai dalam tugas!


❤️❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


Hai guys, jangan lupa dukung aku dengan tekan favorit, like, dan komen ya, Thanks all😘😘😘


__ADS_2