Di Antara Dua Hati

Di Antara Dua Hati
PART. 17


__ADS_3

🌼🌼🍍🌼🌼


Pintu terbuka dengan tiba-tiba, Bradd yang tidak siap, tersungkur ke depan, dan hampir jatuh terjerambab, andai Jenny tidak menahan tubuhnya.


"Daddy!" Jenny hampir kehilangan keseimbangan, karena dorongan tubuh Bradd yang lebih besar darinya. Spontan, Bradd meraih pinggang Jenny, tubuh mereka berdua berputar, sebelum tubuh Bradd jatuh ke atas lantai, dengan Jenny berada di atasnya.


"Arghhh," Bradd merintih karena merasakan sakit pada bagian belakang tubuhnya. Jenny bangun dari atas tubuh Bradd, ia duduk di atas perut Bradd. Jenny mengibaskan rambut yang menutupi wajahnya, ditatapnya wajah Bradd yang masih meringis. Jenny membungkukan tubuh di atas tubuh Bradd, ditatap lebih intens wajah Bradd yang masih saja meringis. Mata Bradd terpejam, ia mengusap bagian belakang kepalanya, wajah Jenny mendekat, bibirnya langsung mengulum bibir Bradd yang tengah merintih karena merasa sakit.


Sontak, Bradd membuka matanya, ia sungguh terkejut dengan apa yang diperbuat Jenny kepadanya.  Hati kecilnya menolak, ia ingin menyingkirkan tubuh Jenny dari atas tubuhnya. Tapi gilanya, bibirnya menikmati gerakan bibir Jenny yang terasa kaku,  permainan lidah Jenny yang menyusup disela bibirnya juga menunjukan kalau Jenny tidak pintar berciuman.


Tadinya, Bradd tidak ingin membalas ciuman Jenny, tapi lama kelamaan, ciuman Jenny seperti menariknya ke dalam pusaran yang coba ia hindari. Apa lagi lutut Jenny kemudian menekan miliknya di bawah sana. Nakalnya lagi, Jenny menggoyang-goyangkan lututnya, di atas milik Bradd. Hingga membuat miliknya terasa ngilu, namun juga terasa nikmat, hingga milik Bradd mulai membengkak dengan perlahan.


"Daddy," Jenny mengerang saat ia melepaskan ciumannya.


"Jen, hmmmppp.... "


Bradd tidak mampu meneruskan ucapannya, karena Jenny kembali memagut bibirnya. Perlahan, telapak tangan Bradd mengusap punggung Jenny. Pagutan bibir Jenny, meski kaku namun mampu membuat Bradd melupakan sejenak, kalau baginya, Jenny tetaplah putrinya.


Bradd meraih punggung Jenny, ia bangkit dari berbaringnya. Sehingga Jenny terduduk di atas pangkuannya. Bradd memegang punggung, dan tengkuk Jenny, bibir, dan lidahnya yang kini agresif mencium Jenny. Tubuh Jenny menegang, karena pagutan bibir, dan lidah Bradd yang membuat seluruh tubuhnya terasa memanas.


Jenny menggesekan miliknya yang terbungkus celana dalam, ke atas milik Bradd yang juga masih terbungkus celana. Bradd sangat mengerti, Jenny ingin meminta ia memberi lebih dari sekedar ciuman. Bradd bangkit, dengan Jenny dalam gendongannya, dibaringkan Jenny di atas ranjang, dengan kaki menjuntai di sisi ranjang. Bradd berbaring di sisi Jenny, bibirnya masih memagut bibir Jenny. Perlahan tangannya menyingkap baju tidur Jenny, sehingga tangannya bebas mengusap, dan meremas dada Jenny yang tanpa bra.


"Daddy," Jenny mengerang, saat Bradd melepaskan pagutan bibirnya. Bibir Bradd menyusuri leher Jenny, terus turun, dan berhenti di atas dada Jenny. Bradd tak mampu lagi berpikir, apa yang terlihat oleh matanya sudah menggoyangkan keyakinan hatinya.


Wajah Bradd berada di atas dada Jenny, mulutnya nengulum ujung dada Jenny yang berwarna merah muda, lidahnya mempermainkan ujung dada Jenny di dalam mulutnya.


Jenny melenguh, mendesah, dan jemarinya menyusup ke sela helaian rambut Bradd.

__ADS_1


Jenny memekik, saat telapak tangan Bradd meremas miliknya.


"Daddy!"


Jenny membuka lebar kedua pahanya, saat jemari Bradd menyusup ke balik celana dalamnya. Tubuh Jenny menegang, matanya rapat terpejam, ternyata sentuhan jemari Bradd, jauh lebih nikmat dari saat ia mencari kenikmatan dengan jarinya sendiri.


Jenny menggeleng-gelengkan kepala, mulutnya terus terbuka, tak mampu menahan cumbuan lihai jemari Bradd di miliknya.


"Daddy!" Jenny nyaris berteriak sekuat yang ia bisa, saat badai kenikmatan menggulung seluruh tubuhnya. Tubuhnya menegang, pinggulnya terangkat, kedua tangannya mencengkeram bahu Bradd dengan kuat. Bradd mengangkat wajahnya, ditatap wajah Jenny yang merah padam. Ia merasakan jemarinya basah oleh cairan milik Jenny.


Mereka berdua tidak tahu, pintu yang tadinya terbuka tertutup dengan perlahan. Teresa menutup pintu kamar Jenny, tanpa suara. Setelah menutup pintu ia berdiri diam sesaat di depan kamar Jenny. Bibirnya menyunggingkan senyuman, saat teringat obrolannya dengan Eva, pengasuh Jenny, sebelum Eva meninggal. Eva sangat berharap, Jenny bisa menikah dengan Bradd, karena Eva merasa, hanya Bradd yang bisa dipercaya untuk menjaga Jenny, beserta seluruh harta warisan dari Abraham. Dan sekarang, harapan Eva menjadi kenyataan.


"Semoga kamu bahagia di sana, melihat harapanmu terpenuhi, Eva" gumam Teresa dengan mata berkaca-kaca. Teresa beranjak meninggalkan depan kamar Jenny, dengan perasaan bahagia di dalam hati.


Sementara di dalam kamar Jenny. Bradd mengangkat Jenny ke tengah ranjang, lalu ia melepas pakaiannya, namun ia membiarkan Jenny tetap mengenakan celana dalamnya yang sudah basah. Bradd yang sudah polos, membungkuk di atas tubuh Jenny. Mata Jenny terbuka, tatapan mereka bertemu.


"Daddy.... " suara Jenny tenggelam dalam pagutan bibir Bradd. Bradd memposisikan miliknya di antara kedua paha Jenny. Kedua lututnya menjepit kedua sisi paha Jenny. Ia belum sampai hati untuk merobek keperawanan Jenny, hati kecilnya menolak untuk itu, tapi ia juga sulit menahan hasrat yang membakar tubuhnya.


"Tidak Jenny, aku yang belum siap" Bradd menggelengkan kepala. Jenny membuka pahanya, sehingga milik Bradd terlepas dari jepitan kedua pahanya. Ia memiringkan tubuh, lalu menekuk kedua kakinya. Wajahnya terlihat dingin, karena rasa marah pada Bradd.


"Jenny Sayang, tolong mengertilah," mohon Bradd.


"Daddy yang harus mengerti aku, Daddy mungkin bisa menahan keinginan Daddy, tapi aku.... " Jenny mulai terisak.


"Apa Daddy ingin aku memberikan keperawananku pada orang lain? Apa Daddy.... "


"Psssttt, bukan begitu Sayang," Bradd menutup bibir Jenny dengan menyilangkan jari telunjuknya di atas bibir Jenny.

__ADS_1


"Apa susahnya menuruti keinginanku, Daddy?"


"Daddy hanya tidak ingin kamu menyesal di kemudian hari, Sayang. Mungkin saja suatu saat akan ada pria yang kamu cintai, yang kamu ingin menyerahkan dirimu kepadanya atas nama cinta. Bukan karena dorongan rasa penasaran seperti ini."


Ingin sekali Jenny berteriak, kalau hanya Bradd yang ia cintai. Tapi, lidahnya terasa kelu untuk mengatakannya, ia sendiri tidak tahu mengapa.


"Sebaiknya Daddy pergi, aku lelah, aku ingin istirahat" ucap Jenny, membuat Bradd menatap miliknya yang tegang. Bradd menghela napasnya, lalu turun dari atas ranjang. Jenny bisa melihat milik Bradd yang terlihat sangat tegang.


Jenny terlompat bangun, pikirannya bekerja dengan cepat.


"Daddy!"


Bradd menghentikan gerakannya yang ingin memasang celana. Ia menatap Jenny yang turun dari atas ranjang. Ia melanjutkan memasang celanya.


"Daddy mau ke mana?"


"Ke kamar Daddy, Jenny"


"Itu bagaimana?" Jenny menunjuk milik Bradd yang berusaha Bradd masukan ke dalam celana. Jenny cemas kalau Bradd akan pergi ke luar, dan melemaskan miliknya dengan meniduri wanita lain di luar sana


"Tidak apa-apa"


"Apa itu bisa lemas sendiri?"


"Aku kira, aku butuh sabun untuk melemaskannya"


"Apa sabun lebih menarik dari milikku?" Jenny melepas celana dalamnya yang basah, juga melepaskan baju tidurnya ini kedua kalinya ia menelanjangi diri sendiri di depan Bradd. Bradd menatap Jenny dengan tatapan yang berusaha ia alihkan, namun ia tidak mampu melakukannya.

__ADS_1


Panggilan bawah sadarnya, mendesaknya untuk bergerak, menikmati apa yang ada di hadapannya.


🌼🌼🍍BERSAMBUNG🍍🌼🌼


__ADS_2