
Happy reading
đź’•đź’•đź’•đź’•đź’•
Di tengah kemeriahan pesta dan kebahagiaan yang menyelimuti keluarga Tuan Wijaya dan Tuan Hutama, di sisi lain seorang wanita tengah duduk di depan layar televisi di dalam apartemennya. Wanita itu tengah mengepalkan kuat di atas sofa tempatnya kini duduk. Rahangnya mengeras, wajahnya merah hingga ke telinga ketika menatap layar televisi yang menayangkan pesta resepsi pernikahan Reyhan dan Diana.
“Kurang ajar! Kalian dengan enaknya tertawa bahagia di sana, sedangkan aku di sini harus sendirian meratapi kehancuran," geramnya sengit.
“Tunggu aku di sana. Aku akan ikut berpesta dengan kalian.” Matanya memicing dengan sudut bibir yang terangkat sebelah. Bergegas wanita itu meraih tas yang tergeletak di atas meja beserta kunci mobil.
Sementara itu di pesta ....
Setelah kedua couple selesai menyanyikan lagu untuk pengantin, mereka turun dari panggung dan bergabung dengan tamu-tamu yang lain. Jimmy dan Dimas menggandeng pasangan mereka untuk berkenalan dengan rekan-rekan bisnis mereka yang juga hadir di pesta itu. Reyhan sudah berkumpul dengan teman-teman relasinya juga, sedangkan Diana menuju keluarganya.
“Selamat ya Di, akhirnya pernikahan impian loe terjadi juga," ujar Siska yang berdiri di sebelah Bayu.
“Makasi Sis,” balasnya, “ngomong-ngomong kalian kapan nyusul?” balik menggoda Siska dan Bayu.
Siska mendelik, wajahnya seketika bersemu merah, suka sekaligus malu. Sementara, Bayu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
“Niat baik jangan ditunda-tunda lho Nak Bayu,” saran Surya.
“Iya, pamali. Nanti keburu diambil orang kayak yang sudah lewat," tambah Sandra yang tanpa sengaja mengingatkan Bayu tentang kisahnya bersama Diana.
Bayu melirik Diana, tetapi yang dilirik menunduk malu. “Ya, minta doanya saja Tante, Om.” Dia nyengir kuda.
“Kami pasti mendoakanmu,” jawab Surya.
__ADS_1
“Makasih, Om. Oya, gimana keadaan kaki, Om?”
“Sudah ada perkembangan setelah dioperasi.” Surya menggoyangkan kakinya pelan di kursi roda. “Cuma perlu rutin menjalani terapi saja. Masih perlu banyak waktu untuk kembali seperti semula. Kata dokter karena dulu lambat penanganan.”
“Maafin Diana ya, Pa.” Diana membungkukkan badan memeluk Surya. Dia tampak muram mendengar cerita Surya, dia merasa bersalah karena saat itu masih kecil hingga belum bisa membiayai pengobatan papanya.
“Kenapa minta maaf Sayang, ini bukan salah kamu.” Membelai lembut rambut Diana.
“Diana, congratulation!” seru seorang gadis yang sudah berdiri di dekat Diana.
Diana melepaskan pelukannya pada Surya dan menoleh ke arah suara. “Clara!” serunya sumringah. Mereka berpelukan, lalu cium pipi kanan cium pipi kiri. “Makasih sudah datang ke sini. Kamu datang dengan Davin?”
Namun, belum sempat Clara menjawab, tiba-tiba dari arah samping seorang wanita datang dengan tergesa-gesa dan langsung menyiramkan minuman ke wajah Diana.
Plakkkk!!!!
Tidak cukup dengan menyiram, wanita itu juga menampar keras pipi Diana. Semua tamu yang berada di dekat mereka seketika kaget dan menghentikan aktivitasnya demi menonton adegan selanjutnya.
Suasana yang tadinya riang gembira seketika berubah tegang.
Diana menatap jengah wanita yang menamparnya. “Laura!”
“Iya, aku! Kenapa?” Melotot marah pada Diana. “Kamu tidak terima aku panggil ja*lang? Lalu, kamu mau dipanggil apa? Panggilan apa yang cocok buatmu? wanita yang sudah merebut suamiku dan juga anakku!” Laura berteriak, mengundang semua tamu untuk melihat ke arahnya.
“Aku tidak pernah merebut mereka darimu!” Suara Diana tidak kalah tinggi. “Kamu yang sudah lebih dulu meninggalkan mereka!”
“Ciihhh! Kau memang benar-benar wanita ....” Mengangkat satu tangan, bersiap memukul Diana. Namun, tangan itu berhasil dicengkeram Reyhan.
__ADS_1
Reyhan menepis tangan Laura dengan kasar dan mendorong bahunya. “Laura!” bentak Reyhan dengan suara menggelegar, menggema, memenuhi seisi ballroom. Mengalahkan suara musik yang sedang mengalun merdu.
“Siapa yang mengijinkanmu masuk ke sini dan mengacaukan pestaku?” Manik Reyhan menatap Laura tajam dengan penuh amarah. Napasnya terdengar memburu seiring degup jantungnya yang semakin cepat.
Semua wartawan yang hadir menyalakan kamera. Mereka mulai merekam dan mengambil foto.
Menyadari lampu-lampu kamera menyorotnya, Reyhan berbalik menatap tajam wartawan. “Hei! Siapa yang menyuruh kalian mengambil gambar?” hardiknya.
Tanpa menunggu perintah lagi, para wartawan segera mematikan kamera mereka kembali. Kini suasana menjadi semakin mencekam. Operator acara sudah mematikan suara musik, semua tamu sudah tidak ada lagi yang berani berbicara. Bahkan untuk sekedar menarik napas pun rasanya segan.
“Jonathan!!!” teriak Reyhan penuh kemarahan.
Jonathan datang dengan tergopoh-gopoh sembari menarik resleting celananya. “Saya Tuan, maaf saya tadi ke belakang sebentar,” jawab Jonathan takut-takut.
“Urus wanita ini! Aku tidak mau melihatnya di sini!” Menunjuk Laura tanpa menatapnya.
“Baik Tuan,” jawab Jonathan patuh. Dia menatap sama kesalnya pada Laura.
“Lepaskan! Aku tidak mau pergi dari sini,” protes Laura pada Jonathan yang menarik paksa tangannya. Dia menghentak-hentakkan tangannya, mencoba membebaskan diri.
“Ada apa ini, Rey?” Soraya muncul bersama Tuan Wijaya. Dia menatap heran ke arah Laura dan terkejut melihat kondisi Diana yang gaunnya sudah kotor.
Siska mendekati Diana, lalu membantunya membersihkan wajah dan gaun yang Diana kenakan.
Diana tersenyum kecut. “Makasih Sis,” ujarnya. Siska hanya mengangguk.
“Ada apa ini?” tanya Soraya lagi.
__ADS_1
Laura tersenyum miring ke arah Soraya. “Owh, jadi ini pelakor itu? Wanita yang sudah menghancurkan rumah tangga ibumu, Rey?”
❤️❤️❤️❤️❤️