Di Antara Dua Hati

Di Antara Dua Hati
BAB 114. JANGAN TAKUT


__ADS_3

Dara tercenung sesaat, dia berpegaang pada dinding di luar room VVIP yang kini menjadi tempat Windu di rawat.


Setiap penjelasan dari dokter spesialis Ginjal yang merawat Windu,


" Dari hasil pemeriksaan lengkap dan uji lab, saya berkesimpulan penyakit yang di derita oleh Tuan Windu mengarah kepada suatu penyakit yang di sebut horseshoe kidney."


"Horsesea kidney?"


"Dalam dunia kedokteran lazim di sebut sebagai ginjal tapal kuda atau anomali fusi."


Dara sesaat tak bersuara, dia tidak tahu harus bagaimana bersiakap, hanya mulutnya terbuka begitu saja. Berusaha memamahami apa yang di ucapkan dokter yang sudah cukup berumur itu.


"Tapi, dok... selama ini suami saya sehat-sehat saja. Dia jarang memberikan keluhan tentang penyakitnya kecuali beberapa hari terakhir.""


"Ginjal tapal kuda biasanya akan terdeteksi pada pencitraan perut insidentil. Bahkan, ginjal tapal kuda sering secara tidak sengaja diambil pada studi pencitraan yang dilakukan karena alasan lain. Namun, ketika gejala terdeteksi, biasanya tidak sengaja terkait dengan kelainan pada aliran urin yang dibuat karena lokasi abnormal dan orientasi ginjal. Kelainan ini tidak terdeteksi jika tidak dengan pencitraan, bahkan pada beberapa kasus tidak menunjukkan gejala yang berarti. Karena kemarin ada kecurigaan dengan hasil tes darah dan tes urine dari pasien jadi di adakan pencitraan untuk melihat struktur dari ginjal pasien."


Dara tak terlalu mengerti dengan apa yang di sampaikan oleh dokter ini, dia hanya memandang pada dokter Niko yang mendampinginya sedari tadi.


"Apa itu ginjal tapal kuda? seperti apa? tumor ? kangker?" tanya dara dengan bibir yang gemetar.


"Ginjal tapal kuda bukan tumor atau kangker, itu adalah kelainan yang terjadi pada struktur ginjal. seperti di katakan, ginjal tapal kuda adalah anomali fungsiĀ anomali fusiyang berarti terjadi ketika satu ginjal melekat pada yang lain. Ini akan terjadi karena gangguan dengan proses migrasi normal kedua ginjal. Sedikit lebih jarang adalah fenomena di mana migrasi abnormal hanya mempengaruhi satu ginjal daripada yang lain, yang mengarah ke kedua ginjal yang ada di satu sisi tulang belakang. Dalam ginjal tapal kuda biasa, kutub bawah ginjal akan berfusi bersama dan karena itu menimbulkan bentuk tapal kuda yang khas, sehingga di sebut dengan ginjal tapal kuda."


Dara menatap dokter ginjal itu dengan pandangan yang tak bisa di ungkapkan dengan kata-kata, dia seperti orang yang yang sedang blank, berusaha memahami situasi.


"Apakah ini parah?"


"Jika tidak ada komplikasi besar atau gejala yang muncul, dan fungsi ginjal normal, tidak diperlukan perawatan lebih lanjut. Namun pasien harus tetap diperingatkan tentang kerentanan ginjal merekat terhadap trauma tumpul perut yang mungkin terjadi. Jika ada komplikasi dicatat karena obstruksi aliran urin, pasien harus dievaluasi oleh spesialis untuk menentukan tindakan lebih lanjut dan untuk melihat apakah koreksi bedah dapat meringankan obstruksi."


"Suami saya, apakah dia akan baik-baik saja?"

__ADS_1


"Harapan kami, suami ibu akan baik-baik saja, pasien akan menginap beberapa hari untuk perawatan tetapi selaku dokter kami menyarankan untuk tetap melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Melihat pada kondisi ginjal sekarang, kami memperkirakan keluhan untuk penyakit ini tidak hanya beberapa minggu terakhir seperti pernyataan pasien tetapi kemungkinan sudah berlangsung cukup lama, hanya saja pasien tidak memeriksakannya."


Dara terhenyak, dia tahu sebagaimanapun cara dari dokter untuk menyederhanakan keterangan mengenai kedaan suaminya itu, Dara merasa kedaan Windu sebenarnya jauh lebih serius dari apa yang di dengarnya.


"Ibu, suami anda mencari anda." seorang perawat yang baru saja keluar dari ruangan Windu menyadarkan Dara yang masih terpekur menghadap dinding.


Dara menyeka air mata yang sempat turun lewat sudut matanya, dia tak ingin terlihat begitu sedih ketika berhadapan dengan suaminya.


Dengan senyum yang di paksanya mengembang, dia masuk ke dalam kamar, mendapati Windu sedang asyik bermain dengan handphonenya.


"Kemana saja kamu, sayang? rasanya kamu telah meninggalkanku berjam-jam lamanya." Windu melepaskan handphonenya.


"Aku hanya sedang bertemu dengan dokter Niko dan mengobrol sebentar dengan dokter yang menanganimu."


"Oh, ya...apakah ada masalah? kapan aku bisa pulang? aku sudah bosan di sini."


"Kita harus berada di sini beberapa hari lagi, Dokternya mengatakan kamu masih dalam masa observasi."


"Sayang, kenapa kamu terlihat lebih murung, dokter Niko mengatakan apa?" Tanya Windu saat Dara sudah duduk di pinggir tempat tidurnya.


"Dokter Niko hanya bilang...kamu butuh istirahat, ada sesuatu yang harus di pulihkan dengan ginjalmu. Jadi kamu perlu bedrest." Jawab Dara sambil membuang mukanya, dia sedang bingung harus mengatakan apa pada suaminya itu tentang apa yang kini di derita oleh sang suami.


"Kalau bedrest, kita bisa melakukannya di rumah. Lebih nyaman dan leluasa."


"Tapi...aku ingin untuk sementara kita di sini saja."


Windu meraih jemari Dara dengan perlahan, ditatapnya mata istrinya yang sedikit sembab itu.


"Kamu sedang merahasiakan sesuatu dariku." Ucap Windu lamat-lamat, Dara terdiam dia menundukkan wajahnya, entah bagaimana caranya untuk menyembunyikan suasana hatinya tetapi Windu sepertinya sangat mengenalnya.

__ADS_1


"Kak Win..."


Panggilan itu, sangat jarang di dengar Windu akhir-akhir ini, tetapi sekarang di ucapkan Dara dengan suara bergetar, menandakan memang semuanya tidak baik-baik saja.


"Kenapa kak Win tak mengatakan jika selama ini kak Win sakit?" dua bulir bening jatuh dari kelopak matanya yang sedari tadi berkaca-kaca.


"Aku sakit? Aku belum pernah merasakan sakit, karena itu aku tidak mengatakan apapun padamu, kenapa kamu bertanya begitu, sayang?" Windu menegakkan tubuhnya yang sedari tadi bersandar di punggung tempat tidur.


"Kak Win tidak mungkin tidak merasakan gejala apapun selama ini, kenapa kak Win berbohong padaku? Kak Win tidak mencintaiku?" Pertanyaan itu seperti cecaran, di sela isakan Dara yang tak bisa di tahannya lagi.


"Hey, sayang...siapapun tahu kalau aku sangat mencintaimu. Kenapa kamu bertanya begitu?" Windu menatap Dara dengan Cemas, di tarik tubuh sang istri ke pelukannya, berusaha menenangkannya.


"Kalau kak Win mencintaiku, kak Win tak akan melakukan ini padaku. Bukaknkah dulu kak Win sudah berjanji padaku akan berbagi suka dan duka dengan diriku. Kenapa untuk masalah sebesar ini kak Win menyimpannya sendiri."Dara benar-benar tersedu dalam pelukan Windu.


"Istriku sayang, kenapa kamu menjadi begitu serius? Ini hanya penyakit biasa. Orang tidak selamanya sehat, dan sekarang mungkin waktunya aku bertemu dengan namanya sakit. Ini biasa. kamu membuatnya menjadi sedikit berlebihan." Windu terkekeh sambil menepuk-nepuk punggung sang istri.


"Kenapa kamu menangis? Bukankah kamu bilang aku hanya perlu bedrest...ayolah, besok atau lusa kita akan pulang."


"Aku...aku hanya takut." Dara memeluk tubuh Windu erat-erat.


"Apa yang kamu takutkan? Aku sungguh tidak apa-apa."


"Aku takut terjadi apa-apa padamu, aku tak akan bisa hidup jika terjadi apa-apa pada kak Win."Dara sesenggukan sendiri. Windu tertawa mendengar kalimat yang di ucapkan sang istrinya itu.


"Jangan takut sayang, tak akan terjadi apa-apa padaku. Bagaimana mungkin aku bisa membiarkanmu mati, jika terjadi apa-apa padaku. Aku akan baik-baik saja untuk memastikan istriku ini tetap hidup." Windu mencium dahi Dara sambil tertawa lebar, mendengar kalimat yang di ucapkan istrinya begitu melankolis terasa sangat lucu di telinga Windu.



...Dukungan dan VOTEnya author tunggušŸ˜…...

__ADS_1


...Jangan lupa KOMEN dan LIKE di bawah, please...please...ā¤ļø...


__ADS_2