
Kayla menelungkup tangan di atas meja, menjadikan bantalan untuk tidur pagi ini.
Wajahnya sangat kusut serta terdapat lingkaran hitam di area mata, macam mata panda.
Seorang gadis hampir seumuran dengannya terlihat menghampiri. "Mbak Kay, kamu kok lesu gitu! Apa semalam nggak istirahat?" tanya Desti, karyawan butik yang dikelola Kayla.
Sekilas Kayla mendongak, kemudian kembali ke posisinya. "Aku gak bisa tidur semalaman Mbak Des," sahutnya malas.
Dua karyawan lain ikut menghampiri. "Kenapa?" Randi dan Jeje serempak bertanya karena penasaran
Melihat tatapan penasaran dari ketiga karyawan itu, Kayla mengurungkan niatnya karena malu untuk menjawab. "A-anu ... itu ... ah, sudahlah. Kalian gak akan paham walaupun aku jelaskan!" elaknya kemudian.
"Memang apa yang gak bisa kami pahami?" tanya mereka lagi.
Sebelum Kayla menjawabnya, seseorang masuk ke dalam butik membuat para gadis di sana bersorak.
"Gaes, diluar ada empat cowok ganteng mirip Oppa!" seru karyawan bernama Sinta.
"Masa sih!"
"Iya. Lihat itu!" tunjuk Sinta ke arah luar butik.
Terlihat dari jendela kaca, ada empat pemuda tampan yang katanya mirip Oppa korea itu tengah berdiri di luar butik tersebut. Mereka baru saja turun dari motor sport masing-masing.
"Waaah, gantengnya. Aku mau yang itu!" tunjuk Sinta kepada salah satu pemuda tampan tersebut.
"Ih, aku mau yang rambut pirang aja!" seru Desti dengan mata berbinar.
Yang lain pun ikut histeris menunjuk salah satu dari keempat pemuda tampan tersebut, bahkan mereka berebut ingin memiliki pemuda yang sama yang padahal belum tentu didapat tersebut.
Kayla yang penasaran pun ikut melongo melihat ke luar, namun pandangan matanya terhalangi oleh beberapa gadis yang mengerubungi keempat pemuda itu di luar.
__ADS_1
"Ganteng banget apa?!" decak Kayla. Walaupun ia penasaran tapi Kayla tidak perduli. Ia memilih melangkahkan kaki ke ruangan khususnya yang berada di lantai dua. "Mbak Des, kalo ada pelanggan nanti panggil aku ya. Aku mau cuci muka dulu," ujarnya sebelum melangkah menaiki anak tangga.
Dengan membentuk huruf O menggunakan jempol dan telunjuk, Desti mengiyakan perkataan Kayla.
Tungkai jenjang Kayla melenggang lesu ke lantai dua, dengan wajah kusut. Sungguh, kurang tidur itu sangat menyiksa sebab rasa kantuk terus menari di pelupuk mata.
Semalam ternyata Kayla bermimpi bertemu Kenzo. Pemuda itu terus mengusik Kayla di Dunia nyata, dan sekarang mengusiknya juga di alam mimpi.
Saat ini ia berada di dalam kamar mandi sedang membasuh wajah untuk menghilangkan rasa kantuk yang terus melekat bagaikan lem. Kayla mendengus kesal sebab wajah Kenzo terus terbayang ketika dirinya menatap cermin besar di hadapannya. "Kenapa sih kamu ganggu aku terus?!" decak Kayla kesal.
Sedangkan di lantai bawah terdengar para gadis berteriak histeris ketika keempat pemuda itu masuk ke dalam butik.
"Beneran ini tempatnya?" pemuda yang lain menggelengkan kepala karena tidak tahu.
Tapi, salah satunya mengangguk yakin. "Iya. Ini butik Kak Khanza. Cus, kita naik ke atas!" ajak si tampan yang ternyata adalah Kenzo.
"Kalo salah gimana, Ken?" tanya Frans.
"Nggak bakal. Gue jamin deh!" Kenzo melangkah menghampiri Desti yang terlihat menahan nafas saking girangnya. "Mbak. Mana Managernya?" Desti tidak bisa berkata-kata. Gadis itu malah melongo dengan wajah berbinar membuat Kenzo mengerang kesal. "Haish. Elu yang tanya aja deh, Dev. Gue mau ke atas aja langsung," ujarnya kesal.
"Haaa, manisnya!" pujian terlontar begitu saja ketika Devian tersenyum ke arahnya. "Bos jarang kemari, cuma ada asisten pribadinya." sahutnya masih dengan mata berbinar.
"Bisa panggilin dia!"
"Tentu," sahut Desti cepat sembari mengerlingkan mata membuat Devian bergidik sedangkan Frans dan Bagas terkekeh geli.
Desti melangkah menuju tangga, namun ia segera berteriak menegur Kenzo saat pemuda itu akan melangkahkan kaki ke lantai dua. "Mas ganteng!" Kenzo menoleh. "Maaf nih, bukannya saya melarang tapi itu aturannya. Dilarang memasuki area atasan tanpa izin! Nanti saya bakal dimarahi," ujar Desti.
"Tapi gue ..."
Ucapan Kenzo segera dipangkas ketiga temannya. "Ken. Sebaiknya lu ikutin aturan mereka. Kesian dia Ken, kalo misalnya tiba-tiba dipecat!"
__ADS_1
Kenzo mendesah pelan, lalu melangkah ke arah sofa tamu. "Kita tunggu di sini!" ujarnya kepada Desti yang mengangguk.
Sebelum pergi ke lantai atas, Desti menyuruh Tina menyiapkan minuman untuk keempat tamu VIP tersebut karena Frans menunjukkan kartu khusus yang diberikan Vincent kepada mereka.
"Cih, kita disuruh nunggu gitu aja. Kakak gue pikirannya gimana sih!" gerutu Kenzo kesal.
"Sabarlah, Ken!" cetus Bagas dan Devian.
Kenzo tetap menggerutu. "Dia yang butuh, dia juga yang telat dateng! Nyariin Manager malah ada nggak ada, adanya kasir aneh. Kesel gue,"
Ketiga temannya hanya menggelengkan kepala menanggapi kekesalan Kenzo.
Tak lama kemudian, terdengar langkah kaki dari lantai dua menuruni anak tangga satu persatu. Bagas dan Devian melongo melihat kedatangan seorang gadis yang katanya asisten pribadi si Bos pemilik butik, sebab posisi duduk kedua pemuda itu menghadap ke arah tangga sedangkan Kenzo dan Frans membelakangi.
Melihat Bagas dan Devian melongo, seketika Frans dan Kenzo berdecak mencibir. "Ckk, nggak pernah liat cewek cakep mesti." cibir keduanya.
Devian dan Bagas sampai berdiri karena melihat gadis yang turun bersama gadis penjaga kasir tadi. Keduanya tidak pernah menyangka jika gadis yang disebut sebagai asisten Bos itu adalah gadis yang dikenali bahkan satu sekolah dengan mereka.
Seminggu sudah gadis itu hilang membuat Kenzo uring-uringan mencari keberadaannya. Namun tidak disangka, kini gadis itu muncul di hadapan mereka sebagai asisten pribadi Bos yang adalah kakak dari Kenzo sendiri.
Selama ini dia tidak tahu jika gadis yang berhasil memporak-porandakan hati dan pikirannya ternyata berada di samping kakaknya, Khanza.
"Ken. Elu harus liat dia!" ujar Bagas dan Devian serempak tanpa mengedipkan mata.
Kenzo berdecak. "Ckk, gue udah nggak tertarik sama cewek lain selain si Onah. Jadi, kalian berdua nggak usah manasin gue."
"Tapi ini lebih dari itu, Ken. Lu harus lihat sekarang!" seloroh keduanya lagi yang ditanggapi malas oleh Kenzo.
"Apaan sih?" karena penasaran melihat ekspresi Bagas dan Devian, Frans pun menoleh ke belakang. Akhirnya, pemuda itu terlonjak kaget saat melihat siapa gadis yang baru turun dari lantai dua butik tersebut. "Astaga, Kayla!" gumamnya dalam hati.
Sesungguhnya dirinya juga sedang mencari keberadaan gadis itu hingga membuatnya berperilaku sama dengan Kenzo. Namun, Frans menyembunyikan perasaannya sebab ia tidak mau terjadi pertikaian antara dirinya dan Kenzo.
__ADS_1
"Elu ikut-ikutan terpana juga!" seru Kenzo tak percaya saat melihat ekspresi Frans yang tidak biasa.
...Bersambung ......