
Happy reading
đź’•đź’•đź’•đź’•đź’•
“Kami akan mengawal Nona dan Tuan Muda.”
Diana membelalak kaget. Seketika dia menjadi gugup. “Ah, tidak perlu. Tidak usah mengawal kami. Aku hanya mengajak Rangga keluar sebentar, cuma cari angin saja,” tolaknya halus, berharap mereka tidak curiga. Akan tetapi, demi apa? Jantung Diana berdegup sangat kencang saat ini. Ini adalah pertama kalinya dia berbohong di rumah ini.
“Tidak Nona, ini adalah tugas kami. Di luar berbahaya, kami harus menjaga keselamatan Nona dan Tuan Muda. Tuan akan memecat kami jika mengetahui Nona keluar area rumah tanpa pengawalan,” jelas penjaga.
Diana memutar bola matanya, memikirkan alasan selanjutnya. “Ah, Tuan Reyhan tidak akan tau," jawab Diana sesantai mungkin. Dia terkekeh saat mengucapkan itu. "Tuan Reyhan sedang perjalanan ke luar negeri. Aku tidak akan bilang apa-apa padanya. Kalian tenang saja.” Berusaha meyakinkan mereka.
“Nona, tapi ....”
“Sudahlah! Ini adalah perintahku. Aku malu sama tetangga komplek kalau cuma keluar dekat begini saja harus dikawal. Pokoknya kalian tidak usah mengawalku!” titahnya.
Kedua pengawal itu saling pandang, saling meminta pendapat. Mereka menghela napas berat sebelum kembali menatap Diana.
“Baiklah Nona, kalau itu keinginan Nona,” jawab salah seorang dari mereka dengan pasrah dan terpaksa. “Nona boleh keluar tanpa pengawalan kami, tapi kami akan menyusul jika Nona belum kembali dalam waktu tiga puluh menit,” ancamnya balik.
“Iya, aku akan kembali sebelum tiga puluh menit.” Tersenyum lega.
Tiga puluh menit waktu yang cukup untuk sekedar mempertemukan Rangga dengan ibu kandungnya. Yang terpenting mereka dapat bertemu sesuai permintaan Laura, sebelum berangkat ke luar negeri. Pikir Diana.
__ADS_1
Tanpa mengulur waktu lagi, Diana bergegas ke luar dari gerbang, sebelum kedua pengawal itu berubah pikiran untuk mengawalnya. Dia mempercepat langkahnya menjauhi area rumah, sembari sesekali menoleh kebelakang. Takut kalau ada pengawal yang membututi mereka.
Setelah cukup jauh dari rumah dan dirasa tempatnya aman, Diana menghentikan langkahnya. Dia merasa kelelahan juga setelah berjalan kira-kira sejauh 200 meter dari rumah apalagi sambil menggendong Rangga. Diana memutuskan mengajak Rangga duduk di bangku bercat putih yang terletak di antara pepohonan pinus, di sisi kiri jalan.
“Kita duduk di sini ya Sayang,” ucapnya pada Rangga.
“Kita apain cih di cini, Bu?” tanya Rangga polos.
Diana tersenyum dengan meraih dagu Rangga. “Kita nunggu ibu Laura di sini.”
“Ibu Laula itu ciapa?”
“Ibu Laura itu, ibu kandung Rangga, ibu yang sudah melahirkan Rangga.” Diana mengusap lembut kepala Rangga.
“Rangga masih kecil jadi belum mengerti, nanti kalau Rangga sudah besar, ibu akan ceritakan lagi, siapa ibu Laura dan siapa ibu Diana,” ujarnya lembut. “Sekarang kita tunggu ibu Laura di sini, ya?”
“Ia Bu,” jawabnya patuh.
“Anak pintar." Diana mencolek gemas pipi gembul Rangga.
Diana merangkul bahu Rangga seraya memperhatikan lingkungan sekitar komplek. Komplek perumahan Reyhan memang sangat asri, pohon-pohon pinus berjejer di sisi kiri dan kanan jalan. Terdapat juga beberapa bangku bercat putih yang diletakkan di antara pepohonan itu. Komplek ini sepertinya mengusung konsep eropa, itu terlihat dari arsitektur bangunannya yang mewah dan terdapat patung-patung ksatria berkuda di setiap sudut kawasan. Nampak juga taman rekreasi dengan kolam air mancur di tengah-tengahnya.
Kesan mewah bukan hanya terlihat dari tampilan lingkungannya saja tetapi juga dari kelengkapan fasilitasnya. Di masing-masing kluster terdapat fasilitas olahraga seperti lapangan tenis, area bersepeda hingga area jogging track.
__ADS_1
Diana melihat beberapa orang sedang bersepeda di area itu, juga beberapa orang yang terlihat sedang duduk-duduk di taman sembari berfoto. Dia membayangkan seandainya Reyhan ada bersamanya sekarang, mungkin mereka bertiga bisa duduk di taman, menikmati pemandangan air mancur sembari berfoto juga. Sayangnya, suaminya itu sedang tidak bersamanya dan itu membuat Diana tersenyum kecut.
Diana mengedarkan pandangannya ke sisi jalan. Tampak pasangan paruh baya sedang duduk di bangku yang sama sepertinya, tetapi letaknya berseberangan jalan. Mereka terlihat mengawasi dua bocah laki-laki sekitaran umur enam sampai tujuh tahun yang tengah asik bermain bola. Sepertinya itu cucu mereka. Padahal sudah setahun lebih dia tinggal di sini, tetapi baru kali ini dia dapat menyaksikan keindahan lingkungan komplek tempat tinggal suaminya.
Sudah terasa lama mereka duduk di sana, tetapi Laura belum juga muncul. Diana teringat akan batas waktu yang disampaikan pengawalnya tadi dan itu membuatnya mulai gelisah. Sialnya dia baru menyadari ponselnya tertinggal di kamar, bagaimana caranya dia menghubungi Laura sekarang?
Rasa gelisah membuat Diana berkeringat, dia merasa pusing dan mual. Dia bangkit dari bangku itu dan berbalik menghadap pohon di sebelahnya. "Rangga diem ya, ibu ingin mun ...." Diana sudah tidak kuat lagi. Dia tidak bisa menahan rasa ingin muntahnya sehingga, terpaksa dia muntah di bawah pohon itu.
Di saat Diana sedang muntah-muntah tanpa sepengetahuannya, bola bocah yang bermain di seberang menggelinding di bawah kaki Rangga. Rangga turun untuk mengambil bola itu. Bocah itu berjalan sendiri ke seberang bermaksud mengembalikan bola itu kepemiliknya. Tepat ketika Rangga berada di tengah jalan, tanpa ada yang menyadari sebuah mobil tengah melaju ke arah Rangga.
Brraaakkkkkkkk!
Terdengar suara benturan keras disertai decitan ban mobil. Disusul teriakan histeris orang-orang di sekitar area itu. Semua terjadi begitu cepat, hanya dalam hitungan detik.
Diana telonjak kaget, dia langsung menengok ke arah bangku, tetapi Rangga sudah tidak ada di sana. "Rangga Sayang," panggilnya sembari membersihkan bibirnya. Tidak ada sahutan ataupun Rangga di sana. Diana panik, perasaan tidak enak seketika menyelimutinya ketika melihat kerumunan orang di tengah jalan. Sepertinya telah terjadi tabrakan.
"Rangga," teriak Diana lagi. Namun, masih tidak terdengar jawaban. Dia bergegas menuju kerumunan itu, sebagian orang berkerumun menatap tubuh seseorang yang tergeletak di aspal, sebagian lagi tengah memarahi si pengendara mobil.
"Rangga ...." Diana kembali celingukan. Perasaannya bertambah tidak enak, ketika netranya tidak menangkap keberadaan Rangga di sekitar kerumunan itu. Anehnya lagi air mata Diana luruh dengan sendirinya tanpa tahu sebab.
"Permisi." Dengan perasaan berdebar, Diana menembus kerumunan. Entah kenapa ketakutan itu muncul begitu saja dalam benaknya. Sekuat tenaga Diana berusaha menepis pikiran buruk itu.
"Maaf." Diana terus melangkah maju. Menyelinap di antara kerumunan. Sampai di barisan terakhir ... Diana membeku. Dia tidak percaya ini, ini mimpi. Jantungnya berhenti berdetak detik itu juga. Sekujur tubuhnya gemetar, kakinya seketika lemas, dalam sekejap dunia seolah berubah gelap. Diana melihatnya, melihat tubuh mungil itu tergeletak di atas aspal dengan bersimbah darah ....
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️❤️